Laporan Wartawan TribunJatim.com, Benni Indo
TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Pemerintah Kota Malang menegaskan tidak memiliki kewenangan untuk mengintervensi harga kedelai di pasaran karena komoditas tersebut dipengaruhi harga global dan nilai tukar dolar, sehingga berdampak langsung pada pelaku usaha tempe lokal.
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, menjelaskan bahwa kedelai yang digunakan sebagai bahan baku tempe sebagian besar merupakan kedelai impor, sehingga harganya sangat bergantung pada nilai tukar dolar dan pasar internasional.
“Kedelai itu sudah harga global, terpengaruh dolar. Apalagi yang digunakan untuk tempe adalah kedelai impor, jadi banyak regulasi dari pusat,” ujarnya.
Menurutnya, dalam kondisi tersebut pemerintah daerah hanya berperan melakukan pengawasan, khususnya terkait ketersediaan stok dan kelancaran distribusi di pasar.
Baca juga: Produsen Tahu di Blitar Keluhkan Kenaikan Harga Kedelai, Belum Berani Naikkan Harga Jual
“Kami hanya melakukan pengawasan, memastikan stoknya ada dan distribusinya lancar. Tidak sampai intervensi harga,” jelasnya.
Eko menambahkan, tempe sebagai salah satu kebutuhan pokok masyarakat tetap memiliki permintaan yang tinggi meski terjadi kenaikan harga bahan baku.
“Tempe itu kebutuhan pokok. Berapapun harganya, tetap dibeli masyarakat,” katanya.
Baca juga: Arfianto Perajin Tempe Produksi 7 Kuintal Kedelai Sehari Meski Harga Melonjak, Pilih Kecilkan Ukuran
Ia menegaskan, selama stok kedelai tersedia dan distribusi berjalan dengan baik, aktivitas ekonomi terkait produksi tempe di Kota Malang masih dapat berjalan normal. Meskipun harga kedelai terus naik.
“Ya tidak apa-apa, semua tetap jalan,” pungkasnya.
Mustakim, produsen tempe di Kota Malang mengatakan harga kedelai naik. Saat ini, harganya mencapai Rp 10.500, sedangkan sebelumnya Rp 9.500.
Kenaikan itu dirasa cukup tinggi karena kondisi ekonomi yang ia alami saat ini juga sedang sulit. Kenaikan sudah dirasakan Mustakim sebelum Lebaran. Sementara penjualan masih belum memperlihatkan peningkatan.
Mustakim mengatakan, daya beli masyarakat saat ini berubah. Lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya. Kenaikan harga itu pun menjadi tantangan yang tak mudah dihadapi karena di saat yang sama, daya beli publik turun.
“Sekarang harganya Rp 10.500. Sejak sebelum Lebaran naik terus harganya,” ujarnya saat ditemui di tempat produksinya, Mekar Jaya, Selasa (7/4/2026).
Mustakim mengatakan, sejauh ini belum ada tindakan dari Pemkot Malang untuk membantu pedagang kecil seperti dia. Sebagai pedagang, Mustakim membutuhkan stabilitas harga bahan baku agar usaha yang dijalankan tidak mengeluarkan biaya produksi tinggi.
“Kami berharap ada langkah yang diambil Pemkot Malang agar harga tidak terus naik,” harapnya.