SURABAYA, KOMPAS.com - PT Solusi Bangun Indonesia Tbk atau SBI melaporkan kinerja keuangan di tengah perlambatan pasar semen nasional yang cukup signifikan.
Berdasarkan data Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI) sepanjang tahun 2025, volume produksi semen nasional tercatat turun sekitar 4,5 persen dari 67,8 juta ton, menjadi 64,7 juta ton. Sejalan dengan itu, penjualan semen domestik juga menurun sekitar 1,5 persen.
Beberapa faktor utama yang memengaruhi perlambatan industri semen nasional di antaranya:
Menanggapi lanskap bisnis pada tahun 2025 tersebut, Direktur Utama PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, Rizki Kresno Edhie Hambali, menyampaikan bahwa tahun 2025 menjadi momentum transformasi.
Ia menegaskan, sinergi bersama SIG selaku induk usaha dilakukan untuk memperkuat resilensi di tengah tekanan industri yang berat.
"Sebagai bagian dari PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), kami melaksanakan strategi transformasi yang berfokus pada optimalisasi operational excellence, peningkatan pengelolaan pemasaran dan penjualan, serta program efisiensi biaya di berbagai lini untuk menjaga fundamental dan profitabilitas di tengah tekanan industri," kata Rizki, Selasa (7/4/2026).
Strategi transformasi yang dijalankan secara konsisten sejak semester kedua tahun 2025 tersebut membuahkan hasil positif bagi perusahaan.
SBI berhasil membukukan volume penjualan semen dan terak sebesar 12,1 juta ton, dengan pendapatan tercatat mencapai Rp 10,7 triliun.
Beban pokok pendapatan tercatat Rp 8,32 triliun, sementara EBITDA mencapai Rp 1,87 triliun, dan laba periode berjalan mencapai angka Rp 659 miliar.
"Pada aspek operational excellence, kami meningkatkan efisiensi produksi, optimalisasi energi dan bahan bakar alternatif. Sedangkan pengelolaan pemasaran dan penjualan difokuskan pada penguatan merek dan saluran distribusi terutama di area-area dengan marjin tinggi. Strategi tersebut diperkuat dengan program efisiensi biaya untuk pengendalian biaya yang terukur dan penurunan beban keuangan," jelas Rizki Kresno.
Rizki juga menerangkan, bahwa program efisiensi yang dijalankan secara disiplin berkontribusi menurunkan beban keuangan sebesar 34,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Penguatan struktur permodalan dan percepatan pembayaran pinjaman, membuktikan ketahanan Perseroan dalam menjaga kesehatan neraca serta likuiditas perusahaan.
Dalam sinergi bersama SIG, SBI optimis dapat terus menjaga momentum pertumbuhan melalui sejumlah inisiatif strategis dan inovasi.
Salah satu langkah strategis tersebut, yaitu proyek pengembangan dermaga dan fasilitas produksi untuk ekspor semen di Tuban, Jawa Timur.
Proyek ini merupakan bagian dari kerja sama strategis perusahaan dengan Taiheiyo Cement Corporation.
"Fasilitas dengan kapasitas ekspor 500 ribu hingga 1 juta ton semen ini ditargetkan untuk mulai operasional pada pertengahan tahun 2026," ungkap Rizki Kresno.
Selain ekspor, kerja sama strategis dengan Taiheiyo juga dilakukan untuk mengembangkan lini bisnis soil stabilization atau stabilisasi tanah.
Inovasi ini dimaksudkan untuk menjawab tantangan di industri konstruksi, sekaligus menciptakan pasar baru guna membuka peluang pertumbuhan bagi perusahaan di masa depan.
Sebagai informasi, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk sebelumnya dikenal sebagai PT Holcim Indonesia Tbk sebelum diakuisisi oleh SIG pada tahun 2019. Integrasi ini memberikan keunggulan logistik dan distribusi bagi SBI untuk menjangkau pasar lebih luas di Indonesia.
Tantangan overcapacity atau kelebihan pasokan semen di Indonesia diperkirakan masih akan membayangi hingga 2027, sehingga efisiensi operasional dan diversifikasi pasar ekspor menjadi kunci utama bagi para pemain industri untuk bertahan.