Harga Plastik Naik, Produsen di Semarang Kurangi Pembelian Bahan Baku hingga Setengah
Nanda Lusiana Saputri April 08, 2026 06:17 AM

TRIBUNNEWS.COM - Harga produk berbahan plastik naik di sejumlah daerah.

Kenaikan harga plastik ini dipicu gangguan pasokan bahan baku global imbas konflik di Timur Tengah.

Salah satu produsen plastik kemasan di Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah sangat merasakan kenaikan tersebut.

Andi Wahyu Utomo, pemilik pabrik kemasan berbahan plastik di Kecamatan Pringapus mengatakan, bahan baku plastik sudah naik sejak pertengahan bulan Ramadan 2026 kemarin.

Lalu, kenaikan drastis terjadi saat setelah Lebaran 2026.

Kepada TribunJateng.com, ia mengatakan naiknya bahan baku karena adanya konflik dan pasokan jadi terlambat.

"Bahan bakunya dari nafta, itu impor dari Timur Tengah,"

"Karena ada konflik Iran, Israel, dan Amerika, pasokan jadi terhambat, otomatis harga naik," ujarnya saat ditemui di tempat produksinya, Selasa (7/4/2026). 

Bahkan, dari kenaikan tersebut, ia harus mulai mengurangi produksinya karena hanya membeli bahan baku setengah dari biasanya.

Ia menuturkan, harga biji plastik jenis OPV yang biasa ia gunakan harganya mencapai Rp70 ribu per kilogram yang awalnya hanya Rp35 ribu per kilogram.

Andi pun mengaku kini hanya membeli bahan baku sekitar tujuh ton saja dari yang biasanay 15 ton.

Baca juga: Keluh Kesah Pedagang Es Terdampak Kenaikan Harga Plastik Akibat Perang AS-Israel dan Iran

"Dulu sekali ambil bisa sampai 15 ton, sekarang paling 7 ton," lanjut Andi.

Ia mengatakan, hal tersebut dilakukan karena ia takut apabila harga bahan baku kembali turun.

"Kita kurangi karena takut tiba-tiba harganya turun," ujarnya.

Dari kenaikan harga tersebut, Andi terpaksa menaikkan harga jual 80 hingga 100 persen.

HARGA PLASTIK MEROKET - Potret pedagang di toko plastik yang berada di Pasar Baung, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Jumat (3/4/2026). Pedagang nilai kenaikan harga plastik hingga 70 persen adalah suatu hal yang janggal, minta pemerintah segera ambil sikap.
HARGA PLASTIK MEROKET - Potret pedagang di toko plastik yang berada di Pasar Baung, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Jumat (3/4/2026). Pedagang nilai kenaikan harga plastik hingga 70 persen adalah suatu hal yang janggal, minta pemerintah segera ambil sikap. (Tribunnews.com/Rizki Sandi Saputra)

Perilaku konsumen, lanjutnya, juga ikut berubah.

"Dampaknya banyak. Otomatis, mengurangi jam kerja karyawan,"

"Pelanggan, dampaknya merasa plastik mahal sekali. Yang biasanya beli 10 pack, sekarang cuma tiga hingga empat pack," bebernya.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono mengatakan, lonjakan harga tersebut dipicu oleh gangguan pasokan bahan baku global imbas konflik di Timur Tengah.

"Ini imbas dari ketegangan di Middle East, sehingga dengan ditutupnya Selat Hormuz itu 70 persen bahan baku nafta yang kita butuhkan itu jadi tidak bisa keluar dari sana," tutur Fajar saat dihubungi Jumat (3/4/2026).

Tidak seimbangnya permintaan dan pasokan saat lebaran juga jadi salah satu penyebab naiknya plastik di sejumlah daerah.

"Demand (permintaan) H+10 Lebaran ini mulai aktif, sehingga antara permintaan dengan suplai memang terjadi ketidakseimbangan," jelas Fajar.

Fajar menjelaskan, sebenarnya naiknya harga plastik ini bertahap.

"Seolah-olah harganya naiknya besar sekali, padahal kenaikannya itu sudah mulai dari minggu kedua pada saat perang di Iran dan Israel tadi," ujarnya.

Pedagang Es Teh Mengeluh

Diketahui, produk berbahan plastik seperti thinwall, tempat makan, cup atau gelas plastik, hingga plastik bungkus makanan harganya naik hingga hampir 100 persen.

Sejumlah pengusaha pun mengalami dampak dari kenaikan harga plastik.

Baca juga: Harga Plastik Naik, Zulhas Pastikan Stok Beras Tetap Aman

Salah satunya yakni Nafis Ghifari, seorang pengusaha es teh di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Harga gelas plastik, sealer, hingga kantong plastik berpengaruh ke biaya operasionalnya.

Kepada Kompas.com, Nafis mengatakan kenaikan bahan plastik tersebut mencapai 65 persen.

Lonjakan ini otomatis berdampak kepada ratusan cabang usaha es teh miliknya yang tersebar di sejumlah daerah.

"Kerugian bisa sampai sekitar 50 persen dari pendapatan karena biaya kemasan naik drastis," ujarnya.

Ia menuturkan, Rp3.000 untuk satu gelas es teh saat ini sudah tidak ideal.

Dengan harga tersebut, pedagang hanya mendapat keuntungan Rp500 saja.

“Di kondisi seperti ini sudah tidak cukup untuk biaya operasional,” pungkasnya.

(Tribunnews.com, Muhammad Renald Shiftanto/Lita Febriani)(TribunJateng.com, Eka Yulianto Fajlin)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.