Sopir Truk di Medan Menangis Lihat Jenazah Anaknya Luka-luka Diduga Dianiaya Gegara Curi Buah Matoa
Theresia Felisiani April 08, 2026 07:32 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, MEDAN - Zulkarnain (56) tak kuasa menahan tangis menceritakan nasib tragis yang dialami anaknya, Dodi Muhammad (30).

Dodi tewas diduga dianiaya oleh pemilik rumah dan sekelompok orang, usai dituduh mencuri buah matoa di Jalan Nahkoda Sulaiman, Lingkungan V, pada Senin (6/4/2026) sekitar pukul 02.00 WIB pagi.

Buah Matoa atau Pometia Pinnata berasal dari wilayah Papua dan merupakan endemik yang tumbuh subur di wilayah tersebut. 

Matoa atau yang biasa disebut lengkeng Papua sering ditemukan di hutan tropis dengan curah hujan tinggi.

Cita rasanya khas, perpaduan rasa rambutan, kelengkeng dan durian.

"Hanya gara-gara buah sampai menghilangkan nyawa anak saya," ujar Zulkarnain dengan suara terisak saat ditemui di kediamannya, Selasa (7/4/2026).

Baca juga: Jokowi Dipesan Tanam Biji Matoa di Istana

 

Kronologi

Menurut Zulkarnain, anaknya saat itu bersama seorang temannya diduga masuk ke pekarangan rumah milik warga untuk mengambil buah matoa.

Namun, aksi tersebut diketahui pemilik rumah, hingga Dodi langsung disekap di lokasi.

Ia mengaku baru mengetahui kejadian itu dari tetangga. 

Baca juga: Sosok Pelaku Pembunuhan Pasutri asal Pakistan di Bogor, Motif Sakit Hati Dituduh Mencuri

Mendapat kabar tersebut, Zulkarnain bersama keluarga langsung menuju kantor polisi untuk mencari keberadaan anaknya.

"Saat dikasih kabar, kami langsung ke kantor polisi. Kejadian ini tidak saya inginkan, hanya gara-gara mengambil buah sampai disiksa hingga meninggal dunia," tuturnya.

Keluarga kemudian diarahkan ke Rumah Sakit Bhayangkara II Medan untuk mengambil jenazah Dodi yang saat itu sudah menjalani proses autopsi.

"Saya lihat anak saya sudah diautopsi. Sebagai orang tua, saya tidak sanggup melihat kondisi anak saya seperti itu," ungkapnya.

 

Tak Sanggup Liat Jenazah Dodi

Zulkarnain menggambarkan kondisi tubuh anaknya yang penuh luka. 

Ia menyebut terdapat pendarahan di hidung dan mulut, serta luka di bagian badan, tangan, dan kaki.
 
Luka paling parah disebut berada di bagian kepala yang membiru.

"Waktu saya tengok, hidung dan mulutnya berdarah. Badan, tangan, kaki luka-luka. Yang paling parah di kepala sampai biru," ujarnya.

 

Bawalah ke Kantor Polisi, Jangan Disiksa!

"Kalau pun ada rasa kemanusiaan, bawalah ke kantor polisi, jangan disiksa seperti itu. Kalau disiksa, itu namanya penganiayaan," katanya.

Zulkarnain berharap pihak kepolisian segera memproses kasus tersebut secara hukum.

"Kami sebagai orang tua tidak terima. Anak saya diperlakukan seperti binatang, tidak ada rasa kemanusiaan. Kami minta pelaku diproses sesuai hukum," tegasnya.

Baca juga: Amsal Sitepu di DPR: Saya Bukan Koruptor, Tidak Mencuri Uang Negara

Ia menambahkan, dirinya dan anaknya sehari-hari bekerja sebagai sopir truk. 

Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti jenis buah yang diduga dicuri oleh anaknya.

"Saya dan anak saya kerja sebagai sopir. Saya juga tidak tahu pasti buah apa yang diambil," ucapnya.

Zulkarnain juga menyebut seluruh proses pengambilan jenazah hingga pemakaman dilakukan oleh keluarga tanpa pendampingan pihak mana pun.

"Kami urus sendiri. Malam itu sekitar pukul 20.00 WIB kami ke rumah sakit, ambil anak saya, lalu bawa pulang. Saat dimandikan kami tidak diizinkan masuk, kami hanya menunggu di luar sampai anak saya sudah dibungkus," pungkasnya.

Jenazah Dodi telah dimakamkan di pemakaman umum yang tidak jauh dari kediamannya pada Selasa (7/4/2026) sekitar pukul 11.00 WIB.

Suasana rumah duka tampak sepi, hanya terlihat sejumlah tetangga yang datang menyampaikan belasungkawa atas kepergian anak pertama Zulkarnain dan Kamaliah tersebut.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.