Kasus Kematian Akibat Leptospirosis di Gunungkidul Naik 500 Persen di Awal 2026 Ini
Hari Susmayanti April 08, 2026 01:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL – Kasus kematian akibat leptospirosis di Gunungkidul pada trisemester pertama 2026 ini naik 500 persen dibandingkan tahun 2025.

Hingga bulan Maret ini, sudah ada 6 warga Gunungkidul yang meninggal akibat leptospirosis ini.

Sementara pada 2025 lalu, hanya ada 1 pasien yang meninggal dunia.

Adapun kasus leptospiroris di Gunungkidul selama trisemester pertama ini sebanyak 29 orang, dimana sebanyak 23 orang berhasil sembuh dan 6 lainnya meninggal dunia.

Lonjakan kasus kematian akibat leptospirosis di Gunungkidul ini mendapatkan perhatian serius dari jajaran Dinas Kesehatan setempat.

Dikutip dari Kompas.com, Kepala Dinkes Gunungkidul, Ismono mengakui terjadinya lonjakan kasus kematian akibat leptospirosis ini.

"Dilaporkan sampai bulan Maret ada 29 kasus leptospirosis di Gunungkidul dan 6 diantaranya meninggal dunia," kata Kepala Dinkes Gunungkidul, Ismono, saat dihubungi melalui telepon, Selasa (7/4/2026). 

Ismono merinci, kasus kematian akibat leptospirosis ini terjadi di Playen, Semin dan Ngawen.

Dari total 6 korban meninggal dunia, empat di antaranya berjenis kelamin laki-laki dan dua lainnya perempuan.

"Enam orang yang meninggal itu terdiri dari empat laki-laki dan dua perempuan," kata Ismono.

Menurut Ismono, kasus leptospirosis ini memang mengalami peningkatan tajam dibandingkan tahun 2025.

Lonjakan di awal tahun 2026 ini pun menjadi perhatian serius otoritas kesehatan setempat.

Berbagai langkah strategis dijalankan oleh dinas kesehatan dan instansi terkait lainnya untuk mencegah kasus lebih tinggi lagi.

Kepada masyarakat, terutama para petani, Ismono mengimbau agar lebih berhati-hati saat beraktivitas di luar rumah.

Area ladang dan persawahan menjadi lokasi yang rawan karena menjadi tempat berkembang biak tikus yang air kencingnya mengandung bakteri leptospira.

Petani sangat disarankan untuk mengenakan sepatu bot saat bekerja di sawah guna menghindari kontak langsung dengan air yang tercemar. 

"Tikus banyak berkembang biak di sawah, dan ada genangan dan itu berpotensi menularkan leptospirosis lewat urine," kata Ismono.

Penyakit leptospirosis menyebar melalui luka terbuka di tubuh. Gejalanya meliputi panas tinggi, rasa sakit di badan, hingga mual dan muntah, tergantung pada daya tahan tubuh penderita.

Ismono mengingatkan masyarakat untuk tidak menunda pemeriksaan medis jika mengalami gejala tersebut.

"Jika gejala ke arah leptospirosis kami minta segera ke Puskesmas, rumah sakit atau klinik terdekat agar bisa segera tertangani," kata Ismono.

Baca juga: Maut di Tepi Sawah, Bocah 5 Tahun di Bantul Tewas Terhimpit Buis Beton Saat Bermain

Gejala Terkena Leptospirosis

Gejala leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira melalui urine hewan, terutama tikus.

Gejalannya sering kali menyerupai gejala flu atau penyakit tropis lainnya seperti demam berdarah.

Gejala ini biasanya muncul setelah masa inkubasi sekitar 2 hingga 30 hari setelah terpapar.

Secara medis, gejalanya dibagi menjadi dua fase:

1. Fase Pertama (Fase Septikemia)

Ini adalah fase awal yang muncul secara tiba-tiba dan berlangsung sekitar 5–7 hari. Gejalanya meliputi:

  • Demam Tinggi: Menggigil secara mendadak.
  • Sakit Kepala Hebat: Biasanya di bagian depan atau di belakang mata.
  • Nyeri Otot Parah: Terutama di bagian betis, punggung, dan paha (gejala khas leptospirosis).
  • Mata Merah: Tanpa disertai nanah atau kotoran mata (conjunctival suffusion).
  • Mual dan Muntah: Terkadang disertai diare atau sakit perut.
  • Bintik Merah: Muncul ruam pada kulit namun jarang terjadi.
     

2. Fase Kedua (Fase Imun)

Jika tidak segera diobati, penyakit ini bisa berkembang ke tahap yang lebih serius yang disebut Penyakit Weil.

Bakteri mulai menyerang organ dalam:

  • Gangguan Hati (Penyakit Kuning): Kulit dan bagian putih mata menguning (ikterus).
  • Gangguan Ginjal: Produksi urine berkurang atau bahkan berhenti sama sekali.
  • Gangguan Paru: Batuk darah dan sesak napas yang hebat.
  • Gangguan Jantung: Detak jantung tidak teratur.
  • Meningitis: Kaku kuduk dan penurunan kesadaran.
     

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Jika Anda mengalami demam tinggi mendadak disertai nyeri betis yang hebat, terutama jika:

  • Anda baru saja terpapar banjir.
  • Lingkungan rumah/kerja Anda banyak terdapat tikus.
  • Anda memiliki luka terbuka yang bersentuhan dengan air atau tanah yang mungkin tercemar urine hewan.

Catatan: Leptospirosis sangat berbahaya jika terlambat ditangani, namun sangat bisa disembuhkan dengan antibiotik jika dideteksi sejak dini.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.