SURYAMALANG.COM,KOTA BATU - Destinasi wisata baru Mikutopia di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu tengah menjadi buah bibir masyarakat.
Di balik kesuksesan mencatatkan setoran pajak fantastis sebesar Rp 352 juta hanya dalam 11 hari operasional, wisata milik pengusaha lokal asli Kota Batu ini kini harus menghadapi tantangan besar.
Tantangan besar itu tidak luput dari rentetan insiden teknis, termasuk patahnya wahana Tiram yang sempat viral di media sosial.
Mikutopia adalah wisata baru yang mengusung konsep berbeda dari wisata buatan lainnya di Kota Batu melalui tema jamur dengan hiasan penuh warna-warni.
Namun, sejak awal dibuka pada Maret 2026, sejumlah insiden mewarnai operasional tempat wisata tersebut.
Kejadian pertama dialami oleh Suyati (45), warga Dusun Kekep, Desa Tulungrejo, yang pingsan saat mengantre tiket masuk bersama suaminya pada Senin (23/3/2026).
Baca juga: Dishub Kota Malang Rencana Terapkan Tarif Parkir Progresif di Sejumlah Titik Strategis
Petugas sempat memberikan pertolongan awal di Pos P3K sebelum akhirnya mengevakuasi korban menggunakan ambulans desa menuju Rumah Sakit dr Tri Punten, Bumiaji. Sayangnya, korban meninggal dunia dalam perjalanan.
Kepala Desa Tulungrejo, Suliono, mengonfirmasi kejadian yang menimpa warganya tersebut.
“Benar, ada kejadian itu dan itu menimpa warga kami. Memang yang bersangkutan memiliki riwayat sakit jantung,” kata Suliono kepada SURYAMALANG.COM, Senin (6/4/2026).
Insiden berikutnya terjadi pada Jumat (3/4/2026) lalu, ketika wahana Tiram mengalami kerusakan teknis hingga patah saat beroperasi.
Kejadian ini sempat viral di akun TikTok @madesyaki02.
Iva Kartika Sari, pemilik akun tersebut, menceritakan kepanikan pengunjung saat peristiwa terjadi secara tiba-tiba di tengah keramaian akhir pekan.
“Saat itu tiba-tiba bagian permainan patah sehingga orang-orang teriak dan panik,” ujar Iva.
Menanggapi hal tersebut, Manajer Operasional Mikutopia, Panji Akbar Ramadhani, memastikan pihaknya telah menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan melakukan evaluasi menyeluruh.
Baca juga: Banjir Luapan di Bumiaji Dikaitkan dengan Wisata Baru di Kota Batu, Wali Kota Buka Suara
Terkait pengunjung yang meninggal, Panji meluruskan korban tidak meninggal di lokasi wisata.
“Soal pengunjung yang dikabarkan meninggal di tempat kami itu keliru. Meninggalnya saat di perjalanan mau dibawa ke rumah sakit terdekat, setelah kami lakukan pertolongan pertama" kata Panji Akbar Ramadhani, Selasa (7/4/2026).
"Wisatawan tersebut sebenarnya memiliki riwayat penyakit dan saat ke tempat kami itu kondisinya memang tidak fit,” imbuhnya.
Mengenai wahana Tiram yang patah, Panji memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka.
“Itu benar memang ada kendala di salah satu wahana, sehingga terjadi peristiwa wahana itu patah, namun kami pastikan saat kejadian tidak ada korban jiwa maupun korban luka" jelasnya.
"Itu terbukti dari catatan rekam medis kami di hari itu tidak ada laporan,” tambah Panji.
Pihaknya kini memperketat batasan maksimal berat badan bagi penumpang wahana, serta melakukan evaluasi termasuk juga wahana-wahana lainnya untuk memastikan keamanan bagi pengunjung.
“Di saat itu kami langsung mengevaluasi dan melakukan perbaikan segera. Setelah satu jam kami perbaiki dan dinyatakan aman, kami trial dulu dan kembali beroperasi" beber Panji.
"Terkait petugas kami juga akan memperketat lagi soal batasan maksimal berat badan yang bisa menaiki wahana tersebut,” pungkasnya.
Mikutopia juga diterpa isu kelengkapan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), terutama setelah terjadinya bencana banjir lumpur di wilayah Desa Tulungrejo.
Wali Kota Batu Nurochman menyatakan, dokumen Amdal dari pihak pengelola saat ini masih dalam tahap pengurusan.
“Saat ini statusnya memang masih dalam proses administrasi dan teknis,” jelas Nurochman.
Namun, manajemen Mikutopia menilai banjir tersebut lebih disebabkan oleh kerusakan tata kelola lahan di wilayah hulu dan kurangnya sistem terasering pada lahan pertanian lereng curam.
Baca juga: Respons Kebijakan Pusat, UB Malang Kombinasikan Kuliah Daring dan Luring
“Yang jelas soal peristiwa itu (banjir luapan air dan lumpur) Pak Wali Kota sudah melakukan kroscek langsung dan susur sungai dan sudah lewat di tempat kami" ungkapnya.
Terkait perizinan, Panji menjelaskan pihaknya tengah melengkapi dokumen yang diperlukan dan sebagian besar sudah dimiliki.
"Sedangkan terkait perizinan, semua perizinan kami sudah berjalan dan beberapa izin sudah kami miliki. Yang belum lengkap sesuai dengan perundangan tentu akan kami lengkapi dan semua sedang berproses," terangnya.
Di tengah berbagai kendala, Mikutopia menunjukkan komitmennya terhadap daerah dengan menyetorkan pajak hiburan sebesar Rp 352 juta kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Batu.
Nilai tersebut merupakan hasil dari 11 hari operasional berbayar, yakni mulai 21 hingga 31 Maret 2026.
Kuasa Hukum Mikutopia, Bagas Dwi Wicaksono, merinci total pajak tersebut berasal dari tiket masuk sebesar Rp 212.429.091, wahana Rp 63.098.182, pajak restoran Rp 67.062.591, dan parkir Rp 9.820.455.
“Hari ini telah dibayarkan Pajak Hiburan Wisata Mikutopia sebesar Rp 352 juta. Itu terhitung selama 11 hari operasional,” jelas Bagas Dwi, Selasa (7/4/2026).
Baca juga: Pendaftaran Seleksi Sekda Kota Batu 2026 Resmi Dibuka, Simak Jadwal dan 15 Syarat Lengkapnya
Bagas menegaskan, meski Mikitopia merupakan wisata baru, namun pihaknya tidak ingin menghindari kewajiban terhadap pemerintah daerah, sehingga transparansi perpajakan dibayarkan secara jelas dan terperinci.
“Keterbukaan rincian ini merupakan bentuk transparansi kepada publik sekaligus komitmen pihak pengelola untuk taat terhadap kewajiban pajak,” imbuhnya.
Bagas menekankan, kliennya, yang merupakan pengusaha asli Kota Batu berlatar belakang petani bunga, ingin memberikan kontribusi nyata tanpa menghindari kewajiban.
“Klien kami adalah pengusaha pribumi asli Kota Batu, berlatar belakang petani bunga" terangnya.
"Dalam menjalankan usaha, prinsipnya tidak ingin kucing-kucingan dengan pemerintah, tapi justru ingin memberikan kontribusi nyata,” jelasnya.
Bagas juga memastikan, sisa dokumen perizinan akan segera diselesaikan dalam waktu dekat seiring berjalannya operasional wisata.