Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Aknolt Kristian Pakpahan, ekonom dari Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menilai gencatan senjata yang disepakati AS-Iran akan memberikan efek positif bagi pasar domestik.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penangguhan serangan terhadap Iran selama dua pekan, dengan syarat Teheran membuka Selat Hormuz secara aman, cepat, dan menyeluruh.
Dalam unggahan di media sosial, Trump menyebut seluruh target militer telah tercapai, sekaligus menegaskan bahwa kesepakatan damai jangka panjang di kawasan Timur Tengah kini berada pada tahap lanjutan.
Baca juga: Trump Sepakati Gencatan Senjata Iran, Ketua DPRD Pangandaran Wanti-wanti Dampak BBM dan Pangan
Aknolt menjelaskan, pembukaan Selat Hormuz akan menurunkan gangguan suplai minyak dunia dan komoditas energi lainnya, seperti gas alam.
Pasar global, kata dia, merespons dengan tindakan spekulatif sehingga ketegangan mereda.
“Begitu keluar pernyataan dari Presiden Donald Trump terkait kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu kedepan, harga minyak dunia cenderung turun,” imbuhnya.
Meski penurunan harga belum menyentuh titik awal pada kondisi sebelum perang, biaya logistik global pun ikut turun sehingga memberikan dampak positif pada tekanan inflasi.
Imbas ketegangan di Timur Tengah tersebut telah dirasakan di berbagai sektor industri. Salah satunya melambung harga plastik turut dikeluhkan oleh para pedagang.
“Terkiat harga plastik, saya rasa tidak serta merta harga plastik akan turun karena bahan baku nafta (turunan dari minyak) menjadi lebih mudah didapat, tapi karena aksi ambil untung dari para pedagang dari situasi yang ada,” imbuh Aknolt.
Aknolt menilai, efek domino lainnya berlaku untuk komoditas lainnya. Ia memprediksi penurunan harga tidak secara instan. Paling tidak dalam satu minggu kedepan harga-harga komoditas akan secara perlahan turun.
“Hal ini juga disebabkan karena bagaimana Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) merespons dan menentukan harga minyak dunia, ditambah dengan seberapa besar permintaan minyak global dari negara-negara bear seperti India dan Tiongkok,” jelasnya.
Secara sederhana, situasi ini akan mengarah pada stabilisasi harga, bukan turunnya harga secara drastis.
Aknolt menyebut, meredanya ketegangan geopolitik turut berdampak pada ekonomi Indonesia.
Baca juga: Di Tengah Ketegangan AS–Iran, Upbit Indonesia Ingatkan Investor Kripto Hindari Keputusan Impulsif
“Kita tahu bahwa Indonesia adalah negara net importer minyak, sehingga gencatan senjata ini akan memberikan dampak positif,” ucapnya.
Sinyal positif tersebut akan menyebabkan biaya impor turun. Sehingga, lanjut Aknolt, situasi ini menyebabkan ketenangan di masyarakat.
Disinggung soal Jawa Barat, Aknolt meyakini akan memberikan pengaruh konstruktif.
“Situasi ini akan memberikan dampak positif bagi sektor industri unggulan manufaktur Jawa Barat seperti otomotif, elektronik, dan tekstil, dimana biaya energi dan bahan baku akan kembali stabil,” ujarnya.
Aknolt menyebut, kondisi ini pula akan menggerakkan aktivitas industri. Sehingga bisa menjaga target pertumbuhan ekonomi Jawa barat, dan stabilitas sosial-ekonomi karena potensi PHK bisa berkurang.
Kendati demikian, Aknolt meminta pemerintah tidak berdiam diri. Sebab, situasi setelah dua pekan gencatan senjata masih terbayangi ketidakpastian.
“Tentu situasi ke depan belum jelas apakah perang akan berhenti total atau akan berlanjut dalam versi baru. Ingat, Israel setuju gencatan senjata denga Iran tapi idak dengan Lebanon,” ujarnya.
Pemerintah, lanjut Aknolt, harus belajar dari situasi ini, sehingga perlu fokus pada kebijakan energi nasional yaitu mempercepat transisi energi menuju energi baru terbarukan.
Menurutnya, memperkuat cadangan energi strategis bisa dengan membangun kilang penyimpanan baru atau melakukan eksplorasi sumur-sumur baru, dan menjajaki potensi diversifikasi pasar impor misal dari Rusia atau negara-negara Afrika.
Baca juga: Jebakan Perang Iran dan Ujian bagi Hegemoni Amerika
Dia mengingatkan, hal lain yang perlu disiapkan pemerintah saat ini terkait dengan pertumbuhan ekonomi nasional.
“Tentu situasi gencatan ini akan menurunakn harga minyak global sehingga beban subsidi energi akan berkurang,” ujarnya.
Aknolt menambahkan, hal ini dapat dimanfaatkan dengan melakukan pemberdayaan alokasi dana pada sektor produktif, seperti manufaktur untuk pasar ekspor dan infrastruktur untuk mendukung jalannya aktivitas ekonomi domestik.