TRIBUNNEWSMAKER.COM - Momen blusukan Presiden RI Prabowo Subianto pada 26 Maret 2026 di kawasan Senen, Jakarta Pusat, sempat menyita perhatian publik.
Dalam kunjungannya tersebut, Prabowo terlihat turun langsung ke lapangan, menyusuri area pinggir rel kereta api yang menjadi lokasi permukiman warga.
Kondisi hunian di bantaran rel yang dinilai kurang layak membuat Presiden tersentuh.
Di hadapan warga, ia pun menyampaikan komitmennya untuk menghadirkan tempat tinggal yang lebih baik.
Prabowo berjanji akan membangun rumah hunian yang layak bagi masyarakat yang selama ini tinggal di kawasan tersebut.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Tak hanya itu, Prabowo juga menegaskan bahwa penyediaan hunian yang layak memang menjadi salah satu tekadnya sejak menjabat sebagai Presiden RI.
Komitmen tersebut diharapkan dapat memberikan perubahan nyata bagi masyarakat yang membutuhkan tempat tinggal yang lebih manusiawi.
Baca juga: Donald Trump Tegas Tolak Ajakan Netanyahu Provokasi Warga Iran, AS‑Israel Mulai Berseberangan?
"Mendengar aspirasi masyarakat di sana, insya Allah kita akan segera membangun hunian yang layak untuk masyarakat di daerah tersebut dengan cepat," ujar Prabowo.
Setelahnya, jajaran Prabowo di Kabinet Merah Putih bergerak untuk membangun rumah susun (rusun) bagi warga yang tinggal di pinggir rel tersebut.
Tidak hanya di Senen, pemerintah juga berkeliling ke daerah lain untuk mencari lahan negara yang bisa dimanfaatkan sebagai lokasi rusun.
Namun, ketika berkeliling di sejumlah daerah, mereka mendapati bahwa lahan negara tersebut kini malah dikuasai organisasi masyarakat (ormas).
Dalam proses mencari lahan untuk membangun rusun, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) mendatangi lahan kosong milik negara di wilayah Tanah Abang, Jakarta Pusat, yang selama ini dikuasai ormas.
Dalam kegiatan pengecekan lahan yang diunggahnya di akun Instagram miliknya, Ara sempat berdebat dengan Rosario de Marshall alias Hercules, Ketua Umum Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya.
GRIB diketahui memang menguasai beberapa lahan di wilayah Tanah Abang.
Baca juga: Sosok Indah, Selebgram Diduga Video Call Syur dengan Suami Clara Shinta, Kini Drop hingga Pingsan
Tanah milik negara ini sedianya akan digunakan untuk pembangunan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah atau MBR.
"Tujuan saya mau membangun untuk rumah rakyat di sini. Jadi bukan untuk pengembang, dan sebagainya," ucap Ara saat bertemu Hercules dan beberapa orang perwakilan ormas, dikutip pada Senin (6/4/2026).
Menanggapi permintaan Ara, Hercules menyebut lahan yang dikelola ormasnya memang lahan milik negara, tetapi statusnya adalah Hak Pengelolaan Lahan (HPL).
Hercules menegaskan, bila memang negara menginginkan lahan di Tanah Abang, ia dan ormasnya tak berkeberatan jika lahan tersebut dilepaskan untuk dibangun hunian.
"HPL itu untuk mengelola lahan tapi bukan untuk memiliki, kalau ini negara punya, hari ini pun saya serahkan," kata Hercules.
Setelahnya, Ara membeberkan bahwa lahan milik PT KAI di Senen hingga Tanah Abang, Jakarta dikuasai oleh pihak lain.
Ara menegaskan bahwa Indonesia adalah negara hukum, sehingga mereka harus hadir.
"Kita tahu negara ini adalah negara hukum, ya. Jadi tanah negara kita harus hadir dan digunakan untuk kepentingan negara dan rakyat. Jangan ragu-ragu," ujar Ara di Istana, Jakarta, Senin (6/4/2026).
Selain Senen dan Tanah Abang, Ara juga sudah mendatangi lahan KAI di Bandung, Jawa Barat.
Ara dan KAI pun mendapati bahwa banyak sekali tanah negara yang dikuasai pihak lain.
Dia menegaskan negara akan merebutnya kembali.
"Banyak sekali tanah negara yang dikuasai oleh pihak lain. Dan kita akan kuasai kembali untuk kepentingan negara dan kepentingan rakyat. Khususnya masyarakat berpenghasilan rendah dan juga masyarakat yang menengah dan tanggung. Supaya kita bisa bersinergi dengan cepat," jelasnya.
Menurut Ara, nantinya, lahan-lahan itu akan dimanfaatkan untuk perumahan rakyat.
Yang pasti, kata Ara, lahan-lahan negara yang dikuasai pihak lain ini kebanyakan merupakan bantaran rel kereta.
"Iya, di banyak tempat. Di Tanah Abang itu lahan negara sangat strategis, di Bandung sangat strategis, di Medan sangat strategis. Kita menggunakan itu untuk kepentingan rakyat dan negara harus hadir. Kita mengurus negara ini harus punya nyali, ya, menegakkan kebenaran," imbuh Ara.
Sementara itu, pemerintah telah mulai membangun rusun bagi warga yang tinggal di pinggiran rel kereta api di wilayah Senen.
Menurut Ara, proyek rusun itu sudah mulai dibangun di sekitar Kramat, Senen, Jakarta.
“Atas arahan Presiden Prabowo, hasil beliau turun ke lapangan dua minggu lalu di daerah Senen, itu sudah mulai dibangun di kawasan Jalan Kramat,” ujar Ara.
Adapun tahap pertama pembangunan rusun ini sebanyak 324 unit rumah.
Rencananya, pembangunan rusun rampung pada 15 Juni 2026.
Tidak hanya itu, Ara mengatakan, PT KAI juga mempersiapkan sekitar 500 unit rumah yang akan segera diproses.
“Jadi totalnya 824 unit, gitu ya. Kita berharap itu, tapi yang jadi duluan mungkin yang di Senen, 324 unit,” katanya.
Kemudian, Ara membeberkan, pembangunan rusun ini juga dibarengi dengan aturan kepemilikan unit rumah, termasuk skema sewa.
“Jadi kita bangun sambil menyusul nanti aturannya kita persiapkan. Mana yang bisa, sementara ini tentu cukup banyak yang bersifat sewa, ya, sewa dengan harga yang terjangkau,” ucap Ara.
Lebih jauh, Ara melaporkan, bagi calon penghuni unit rumah tersebut, Kementerian PKP bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) guna memastikan unit rumah tersebut tepat sasaran.
Ara turut membeberkan Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan agar lahan milik negara di perkotaan, khususnya milik PT KAI hingga Danantara diprioritaskan untuk rumah susun.
“Akhir bulan ini kami akan mulai bersama dengan Dirut Kereta Api, direncanakan mulai mempersiapkan untuk pembangunan di Kota Bandung,” imbuh Ara.
(Tribunnewsmaker.com/Kompas.com)