TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Saat ritme kerja yang kian padat dan tuntutan kompetensi yang terus meningkat, para bankir syariah dihadapkan pada dilema klasik bagaimana terus belajar tanpa harus meninggalkan tanggung jawab profesional sehari-hari.
Baca juga: CIMB Niaga Luncurkan Platform Digital Octobiz untuk Permudah Pengelolaan Bisnis
Keterbatasan waktu kerap menjadi penghalang untuk mengikuti pelatihan konvensional, sementara kebutuhan untuk memperbarui pengetahuan dan keterampilan justru semakin mendesak seiring perkembangan industri keuangan yang dinamis. Dalam situasi ini, pemanfaatan teknologi mulai dipandang sebagai jalan tengah untuk menjaga kesinambungan peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor perbankan syariah.
Kesadaran tersebut mendorong Asosiasi Bank Syariah Indonesia melalui Asbisindo Institute, bekerja sama dengan Vocasia, menghadirkan platform pembelajaran berbasis digital yang dirancang lebih fleksibel. Melalui pendekatan ini, proses belajar tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu, melainkan dapat diakses sesuai kebutuhan masing-masing individu.
Ketua Umum Asbisindo, Anggoro Eko Cahyo, menilai bahwa pembelajaran tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas formal. Yang terpenting, menurutnya, adalah memastikan akses terhadap pengetahuan tetap terbuka dan relevan dengan kebutuhan industri.
“Pembelajaran tidak harus selalu dilakukan di ruang kelas. Yang penting, akses terhadap pengetahuan tetap terbuka dan relevan dengan kebutuhan industri,” ujarnya di Jakarta belum lama ini.
Baca juga: Platform Digital Wajib Sediakan Lingkungan Daring Aman dan Layak Bagi Anak
Kebutuhan peningkatan kompetensi tersebut sejalan dengan standar yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan, yang mengharuskan insan perbankan memenuhi berbagai bidang keahlian. Ketua Asbisindo Institute, Wahyu Avianto, menyebut jumlah kompetensi yang perlu dikuasai berkisar antara 71 hingga 91 jenis.
Dengan beban kerja yang tinggi, ia menilai pendekatan pembelajaran yang lebih lentur menjadi semakin relevan. Sistem yang dikembangkan memungkinkan materi diakses kapan saja tanpa mengurangi kualitas pembelajaran.
Platform ini menghadirkan beragam materi, mulai dari video pembelajaran, modul aplikatif, hingga ruang diskusi. Seluruh konten disusun dan ditinjau bersama Lembaga Sertifikasi Profesi Keuangan Syariah guna menjaga standar kualitas.
Pada tahap awal, materi difokuskan pada Program Pemeliharaan Sertifikasi Manajemen Risiko (PPSMR) untuk jenjang menengah. Sementara itu, pembelajaran untuk level direksi tetap dilakukan secara tatap muka guna menjaga kualitas interaksi dan pembahasan strategis.
Di sisi lain, Chairman Vocasia, Farid Subkhan, melihat bahwa pengembangan sumber daya manusia di sektor ini masih memiliki ruang untuk ditingkatkan, terutama dalam pemanfaatan teknologi yang belum sepenuhnya terintegrasi.
Melalui platform digital, ia berharap proses pembelajaran dapat berlangsung lebih terarah sekaligus mudah diakses oleh para pelaku industri. Ke depan, pengembangan juga diarahkan untuk membuka ruang bagi praktisi berbagi pengalaman sebagai pengajar.
Baca juga: Sinergi Regulator dan Industri Tingkatkan Kepercayaan di Industri Keuangan Derivatif
Dengan semakin terbukanya akses belajar, diharapkan para bankir syariah dapat terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan mereka, tanpa harus terhambat oleh keterbatasan waktu—sekaligus tetap mampu menjawab tantangan industri yang terus berkembang.