TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Sekitar 240 ton sampah di Kota Makassar tidak terangkut setiap hari, mendorong Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin meminta camat dan lurah mengatur ulang jadwal pengangkutan sampah.
Kebijakan tersebut kini dibahas di tingkat wilayah, termasuk di Kelurahan Gunung Sari, sebagai upaya mengatasi keterbatasan armada dan kendala operasional.
Lurah Gunung Sari, Ahmad Abu Bakar, mengatakan sistem pengangkutan sampah di wilayahnya sebenarnya sudah berjalan, dengan pembagian waktu pagi untuk kawasan komersial dan siang hingga sore untuk permukiman.
Namun, jadwal tersebut kerap berubah akibat kendala di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan keterbatasan armada.
“Kalau ada kendala di TPA, jadwal pengangkutan biasanya ikut terhambat,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Ia menjelaskan, saat ini pengangkutan sampah di Gunung Sari dilakukan secara bergiliran karena jumlah armada yang terbatas.
“Di Gunung Sari, pengangkutan dilakukan dua hari sekali dengan sistem selang-seling wilayah,” katanya.
Pihak kelurahan saat ini hanya didukung 10 unit motor Viar dan tiga unit mobil truk untuk melayani seluruh wilayah.
Kondisi tersebut membuat pemerintah kelurahan berharap adanya penambahan armada guna mengoptimalkan pengangkutan sampah setiap hari.
Selain itu, upaya pengurangan sampah juga dilakukan dari sumbernya melalui edukasi pemilahan sampah kepada masyarakat.
Kelurahan telah mengumpulkan ketua RT/RW untuk mendorong warga memilah sampah, khususnya sampah plastik dan non-organik.
Pihak kelurahan juga menargetkan penyediaan satu Tempat Edukasi dan Bank Sampah (Teba) di setiap RW untuk menekan volume sampah yang dibuang ke TPA.
Sementara itu, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menegaskan persoalan sampah menjadi prioritas utama pemerintah kota.
Ia menyebut produksi sampah di Makassar mencapai sekitar 800 ton per hari, sementara kapasitas pengangkutan baru menjangkau sekitar 67 persen.
Artinya, lebih dari 30 persen atau sekitar 240 ton sampah berpotensi tidak terangkut setiap harinya.
“Ini angka yang besar dan tidak bisa dibiarkan,” ujarnya.
Munafri meminta seluruh camat dan lurah merancang ulang sistem pengangkutan sampah yang lebih efektif dan terintegrasi, termasuk menyinkronkan waktu pembuangan dengan jadwal pengangkutan.
“Jangan sampai sampah dibuang pagi, tapi diangkut siang atau sore sehingga menumpuk,” katanya.
Ia juga menegaskan agar tidak ada lagi pembuangan sampah di trotoar atau sudut jalan.
Pelaku usaha, khususnya sektor komersial, diminta menempatkan sampah di dalam area masing-masing dan mengikuti jadwal pengangkutan.
Menurutnya, sinkronisasi jadwal buang dan angkut sampah menjadi kunci untuk mencegah penumpukan di berbagai titik.
“Kalau tidak sinkron, pasti akan ada timbunan sampah di mana-mana,” tegasnya.
Pemkot Makassar berencana memperkuat pengaturan tersebut melalui kebijakan resmi agar pengelolaan sampah berjalan lebih optimal dan konsisten.