pembatasan akses digital akan menjadi ruang kosong jika tidak diisi dengan substansi karakter
Jakarta (ANTARA) - Indonesia tengah menghadapi persimpangan peradaban. Di satu sisi, masyarakat berhadapan dengan kepungan algoritma digital yang kian adiktif. Di sisi lain, pemerintah berupaya membangun fondasi karakter generasi muda melalui program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH).
Langkah Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memperketat pembatasan gawai bagi anak-anak bukan sekadar kebijakan teknis. Regulasi ini dipandang sebagai benteng pertahanan bagi kedaulatan mental generasi masa depan.
Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS) mengatur pembatasan gawai bagi anak-anak dengan prinsip 3S: Screen Time (durasi penggunaan gawai dibatasi, khususnya bagi anak di bawah 16 tahun); Screen Break (ada jeda wajib agar anak tidak terus-menerus menatap layar); serta Screen Zone (area penggunaan gawai diatur, misalnya tidak digunakan di kamar tidur atau ruang ibadah).
Pemerintah menegaskan bahwa PP TUNAS tidak melarang anak menggunakan gawai, melainkan membatasi secara proporsional agar tidak mengganggu tumbuh kembang dan pembentukan karakter.
Namun, pembatasan akses digital akan menjadi ruang kosong jika tidak diisi dengan substansi karakter. Di sinilah sinergi antara regulasi digital dan implementasi 7 KAIH menjadi krusial untuk menjemput fajar Generasi Emas 2045.
Tantangan: Antara layar dan karakter
Sejumlah riset menunjukkan paparan gawai berlebihan pada anak-anak berkorelasi dengan penurunan daya juang dan krisis identitas. Kebijakan Menkomdigi hadir sebagai “rem darurat” agar anak-anak tidak menjadi tawanan dunia virtual.
Ketika layar mulai dibatasi, nilai-nilai 7 KAIH harus dihidupkan sebagai gaya hidup baru di sekolah dan rumah.
Program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang digagas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ini merupakan terobosan fundamental berbasis ketuhanan. Tujuannya menyiapkan generasi yang bertakwa, tangguh, mandiri, dan berkarakter budaya Indonesia.
Tanpa fondasi karakter, anak-anak berisiko tumbuh menjadi sosok antipati, antisosial, egois, dan sekadar pengekor peradaban digital. Karena itu, regulasi digital dan pembiasaan karakter harus berjalan beriringan.
Korelasi filosofis
Tujuh kebiasaan tersebut adalah bangun pagi, beribadah, berolahraga, gemar membaca, makan sehat dan bergizi, menjaga kebersihan, serta istirahat tepat waktu.
Lalu bagaimana tujuh kebiasaan ini menjadi jawaban atas tantangan digital saat ini?
Pertama bangun pagi. Kebiasaan bangun pagi adalah simbol kedisiplinan dan kesiapan menghadapi dunia nyata. Dengan pembatasan gawai di malam hari, anak memiliki kualitas tidur yang baik untuk menjemput keberkahan di pagi hari, bukan bangun dengan mata lelah akibat scrolling tanpa henti.
Kedua beribadah. Gawai seringkali menjadi "tuhan baru" yang menyita perhatian. Pembatasan akses digital mengembalikan ruang sunyi anak untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta, memperkokoh spiritualitas sebagai filter moral di dunia maya.
Tiga, berolahraga. Anak hebat adalah anak yang bergerak secara fisik. Di era di mana anak-anak cenderung pasif (sedentary lifestyle) karena gawai, kebiasaan berolahraga mengembalikan fitrah tubuh yang sehat dan jiwa yang kuat.
Empat, gemar membaca. Literasi adalah musuh utama hoax. Saat gawai diletakkan, buku harus diambil. Kebiasaan membaca melatih kedalaman berpikir (deep thinking) yang sering kali hilang akibat konsumsi konten digital berdurasi pendek yang dangkal.
Lima, makan sehat dan bergizi. Ada kaitan erat antara pola makan dan kontrol emosi. Menanamkan kesadaran nutrisi membantu anak memiliki performa otak yang optimal, sehingga mereka tidak mudah terjebak dalam kecemasan digital (digital anxiety).
Enam, menjaga kebersihan. Kebiasaan ini melatih kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Anak yang terbiasa bersih secara fisik akan memiliki "higienitas digital"; mereka akan risih dengan sampah-sampah visual dan informasi negatif di internet.
Tujuh, beristirahat tepat waktu. Inilah poin kunci regulasi Menkomdigi. Istirahat yang cukup tanpa gangguan notifikasi adalah hak asasi anak untuk pertumbuhan sel otak yang sempurna. Anak hebat tahu kapan harus log out dari dunia maya untuk masuk ke dunia istirahat yang berkualitas.
Solusi: Sinergi rumah dan kebijakan
Membangun 7 KAIH di tengah gempuran digital memerlukan langkah taktis dan sistematis. Tidak cukup hanya sekolah yang membimbing; rumah juga harus berperan aktif.
Keluarga perlu membangun chemistry dengan pihak sekolah agar kebijakan tidak berhenti di ruang kelas, melainkan berlanjut di rumah dan masyarakat. Beberapa langkah penting antara lain, menekankan bahwa literasi bukan sekadar larangan. Orang tua atau guru perlu menjelaskan bahwa pembatasan gawai adalah cara memberikan ruang bagi kehebatan mereka untuk tumbuh.
Kemudian perlunya keteladanan orang tua. Program 7 KAIH akan gagal jika orang tua masih "beribadah" pada gawai di depan anak.
Berikutnya adalah ekosistem yang mendukung. Sekolah harus menjadi laboratorium nyata bagi 7 KAIH, di mana interaksi sosial lebih menarik daripada interaksi layar.
Generasi Emas 2045 tidak boleh lahir dari rahim algoritma yang asing bagi nilai-nilai luhur bangsa. Mereka harus lahir dari pembiasaan yang baik, disiplin yang konsisten, dan perlindungan negara yang hadir melalui regulasi digital yang tepat.
Harapan besar itu kini berada di depan mata. Melalui sinkronisasi regulasi Menkomdigi dan gerakan 7 KAIH, Indonesia sedang menyiapkan pemimpin masa depan yang cerdas secara digital namun tetap membumi secara karakter.
*) Ferry Yudi Antonis Saputro SHI MPdI CSTMI, Guru di SMP Negeri 16 Surabaya





