Bersiap Salat Magrib, Lansia Tewas Ditikam Secara Brutal di Ponpes Romadhon Martapura OKU Timur
Slamet Teguh April 08, 2026 09:32 PM

 

TRIBUNSUMSEL.COM, MARTAPURA - Aksi penikaman brutal yang menewaskan seorang pria lanjut usia di halaman Masjid Romadhon, Desa Kotabaru Barat, Kecamatan Martapura, Kabupaten OKU Timur, Selasa (7/3/2026) petang, menyisakan duka sekaligus trauma mendalam bagi santri dan pengurus pesantren.

Meski pelaku telah diamankan dalam waktu singkat, polisi hingga kini masih mendalami motif di balik kejadian tersebut.

Korban diketahui bernama Roni (73), warga Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Ia meninggal dunia di tempat setelah mengalami sejumlah luka tusuk di bagian dada akibat serangan mendadak dari pelaku.

Pengasuh Pondok Pesantren Romadhon, Ustadz Miftahul Faizin, mengungkapkan bahwa korban merupakan pamannya yang datang ke pesantren dalam rangka bersilaturahmi pada momen Lebaran.

Selama hampir dua pekan tinggal di pesantren, korban dikenal aktif beribadah.

“Beliau datang ke pesantren sekitar Lebaran hari kelima. Sempat menyampaikan niat ingin umrah. Saya sampaikan itu niat baik, dan saya sarankan untuk memperkuat ibadah terlebih dahulu. Selama di sini, beliau rajin salat lima waktu, bahkan rutin tahajud,” ujar Miftahul, Rabu (8/4/2026).

Ia menjelaskan, pada sore hari saat kejadian, korban seperti biasa tengah bersiap melaksanakan salat Magrib di masjid pesantren.

Namun secara tiba-tiba, seorang pria berpakaian gamis putih dan peci datang dan langsung melakukan penyerangan secara brutal.

“Dari rekaman CCTV terlihat pelaku datang dan langsung menusuk korban berkali-kali. Kejadiannya sangat cepat dan spontan. Tidak ada interaksi sebelumnya,” katanya.

Miftahul memastikan bahwa korban dan pelaku tidak saling mengenal. Bahkan pihak pesantren juga tidak mengetahui identitas pelaku sebelumnya.

“Tidak ada hubungan apa pun antara korban dan pelaku. Kami juga tidak mengenal pelaku sebelumnya,” tegasnya.

Ia menambahkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, pelaku sempat diantar seseorang menggunakan sepeda motor sebelum tiba di lokasi kejadian.

Peristiwa tersebut juga disaksikan oleh sejumlah santri dan guru. Namun, mereka tidak berani mendekat karena pelaku membawa senjata tajam.

Salah satu guru pesantren, Ustadz Ulil, mengaku melihat langsung detik-detik kejadian.

Ia menyebut kondisi korban sudah terkapar saat dirinya mendekat.

“Saya sempat melihat langsung. Kondisi korban sudah terjatuh. Saya sempat merekam kejadian itu dua kali. Ada juga santri yang melihat, tapi langsung ketakutan,” ungkap Ulil.

Pasca kejadian, jenazah korban langsung dibawa ke OKU dan dimakamkan oleh pihak keluarga pada malam harinya.

Insiden tersebut tidak hanya merenggut nyawa korban, tetapi juga meninggalkan trauma bagi para santri. Sebagai langkah antisipasi, pihak pesantren memberikan kebijakan bagi santri untuk sementara waktu kembali ke rumah masing-masing.

“Hari ini sebenarnya tidak libur, tapi kami beri kelonggaran bagi santri untuk pulang dulu karena masih trauma,” ujar Miftahul.

Ia juga menegaskan bahwa sejak berdiri pada 2008, pesantren tersebut tidak pernah memiliki konflik dengan pihak mana pun dan diterima baik oleh masyarakat sekitar.

Baca juga: Detik-Detik Penusukan Mbah Roni di Desa Kotabaru Barat OKU Timur, Berawal dari Percakapan Singkat

Baca juga: Penusukan Lansia di Masjid Ponpes Romadhon Martapura: Korban Meninggal Dunia, Polisi Amankan Pelaku

Perkembangan Penanganan Kasus

Sementara itu, aparat dari Satreskrim Polres OKU Timur bergerak cepat mengamankan pelaku berinisial RA (24), seorang buruh harian lepas asal Desa Kotabaru, hanya beberapa menit setelah kejadian.

Kasat Reskrim Polres OKU Timur, IPTU Rendi Ramadhona, mengatakan hingga kini pihaknya masih mendalami motif pelaku yang dinilai belum jelas.

“Sejak awal diamankan, pelaku sempat menjawab pertanyaan, namun terbata-bata dan tidak konsisten. Hingga saat ini, pelaku lebih banyak diam dan sulit dimintai keterangan,” jelas Rendi.

Ia menambahkan, hasil tes urine menunjukkan pelaku positif mengonsumsi narkoba. Hal ini menjadi salah satu fokus penyelidikan untuk mengungkap latar belakang aksi kekerasan tersebut.

“Tes urine pelaku positif narkoba. Namun, untuk dugaan gangguan kejiwaan (ODGJ), sejauh ini belum ada bukti yang mengarah ke sana. Ke depan akan kami gelar perkara kembali, termasuk kemungkinan pemeriksaan oleh dokter kejiwaan,” tegasnya.

Polisi memastikan proses penyidikan terus berjalan untuk mengungkap secara utuh motif di balik aksi penikaman yang terjadi secara tiba-tiba tersebut.

 

Ikuti dan bergabung dalam saluran whatsapp Tribunsumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.