TRIBUNMANADO.CO.ID,TALAUD- Di ujung utara Pulau Sulawesi, tepatnya di Desa Dapalan, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulwesi Utara, sebuah gerakan literasi tumbuh dari inisiatif masyarakat.
Taman Baca Masyarakat (TBM) Teras Sampiri hadir sebagai ruang belajar sederhana yang membuka akses bacaan bagi warga di wilayah perbatasan Indonesia–Filipina.
Keberadaan TBM ini menjadi satu-satunya taman baca di Kepulauan Talaud.
Baca juga: Kolaborasi Gramedia Samrat Manado dan Taman Baca Masyarakat Hadirkan Workshop Literasi
Inisiatif tersebut digagas oleh pegiat literasi lokal, Dodi Maarial yang memulai langkahnya dari koleksi pribadi sekitar 200 buku.
Nama “Sampiri” yang diusung bukan sekadar simbol, melainkan identitas lokal.
Sampiri merupakan satwa endemik khas Talaud, yang mencerminkan kedekatan taman baca ini dengan lingkungan dan budaya setempat.
“Tujuan utama kami adalah menyediakan akses bacaan yang mudah, gratis, dan dekat dengan masyarakat,” ujar Dodi.
Sejak berdiri pada 2024, TBM Teras Sampiri berkembang menjadi ruang belajar alternatif, terutama bagi anak-anak.
Berbagai kegiatan seperti membaca bersama hingga belajar sambil bermain rutin digelar guna menumbuhkan minat baca sejak dini.
Perkembangan pesat terjadi pada 2025, saat TBM ini mendapat dukungan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Kepulauan Talaud berupa 1.000 buku bacaan anak serta bantuan lemari buku dari Perpustakaan Nasional.
Dukungan juga datang dari berbagai komunitas dan lembaga, termasuk Donasi Buku Kita Indramayu, NGO Pusat Informasi Sampiri, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara Resort Karakelang Utara, hingga kontribusi masyarakat.
Pengelolaan TBM dilakukan secara mandiri oleh para relawan yang didominasi pemuda desa.
Sistem administrasi pun telah diterapkan, mulai dari pembuatan kartu anggota, pencatatan peminjaman buku, hingga aturan denda keterlambatan.
Kehadiran TBM Teras Sampiri mulai menunjukkan dampak positif.
Minat baca anak-anak meningkat, sekaligus menjadi ruang berkumpul yang produktif bagi generasi muda di wilayah perbatasan.
“Saya memulai ini dari kecintaan terhadap buku dan keinginan berbagi manfaat kepada masyarakat,” tambah Dodi.
Seorang pengunjung, Artis Menalang, mengaku kini lebih sering membaca sejak adanya taman baca tersebut.
“Dulu sulit mendapatkan buku, sekarang saya bisa datang ke sini untuk belajar dan menambah pengetahuan,” katanya, Selasa (7/4/2026).
Meski demikian, TBM Teras Sampiri masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan koleksi buku, minimnya dana operasional, fasilitas yang belum memadai, serta kurangnya relawan tetap.
Selain itu, kesadaran masyarakat akan pentingnya literasi juga masih perlu ditingkatkan.
Ke depan, pengelola berharap dukungan dari pemerintah dan berbagai pihak terus mengalir guna memperkuat keberlanjutan taman baca ini.
Dengan koleksi yang lebih lengkap, fasilitas yang memadai, serta program literasi yang beragam, TBM Teras Sampiri diharapkan menjadi pusat edukasi dan kreativitas di beranda utara Indonesia. (EDU)