Lapak Jadul Ma’e Hidupkan Kuliner Pati Tempo Dulu, Ada Sego Jagung, Botok Yuyu, dan Pepes Wader
M Syofri Kurniawan April 09, 2026 06:14 AM

TRIBUNJATENG.COM, PATI – Suasana Alun-Alun Kembangjoyo Pati, Rabu sore (1/4), tampak lengang.

Di beberapa sudut, terlihat kios-kios yang mangkrak dengan atap yang mulai keropos. 

Rangka besi tua dan bekas gerobak dagangan yang tak lagi beroperasi menjadi pemandangan yang dominan, menambah kesan terbengkalai pada area relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) ini. 

KULINER JADUL - Dari kiri: Endang Sri Asih (Mak Susur), Retno Septi Anggrahenie (Mak Batok), dan Triyono (Lek Kribo), menunjukkan menu kuliner jadul di warung yang mereka kelola, Lapak Jadul Ma'e, Rabu sore (1/4/2026). Warung ini berlokasi di Alun-Alun Kembangjoyo Pati.
KULINER JADUL - Dari kiri: Endang Sri Asih (Mak Susur), Retno Septi Anggrahenie (Mak Batok), dan Triyono (Lek Kribo), menunjukkan menu kuliner jadul di warung yang mereka kelola, Lapak Jadul Ma'e, Rabu sore (1/4/2026). Warung ini berlokasi di Alun-Alun Kembangjoyo Pati. (TRIBUN JATENG/Mazka Hauzan Naufal)

Rumput liar pun mulai tumbuh tinggi di sela-sela paving. Namun, di tengah suasana yang memprihatinkan tersebut, sebuah papan penanda bertuliskan "Lapak Jadul Ma’e" tampak mencolok. 

Alunan obrolan hangat dan aroma sedap menyeruak dari warung sederhana berdinding anyaman bambu tersebut.

Adalah Retno Septi Anggrahenie (Mak Batok), Endang Sri Asih (Mak Susur), dan Triyono (Lek Kribo), tiga seniman yang memilih "nekat" membuka lapak di sana.

Lapak Jadul Ma’e bukan sekadar tempat makan.

Mak Batok mengungkapkan bahwa misi utama mereka adalah mengangkat kembali kuliner tradisional khas Pati yang mulai langka, selain Soto Kemiri dan Nasi Gandul yang sudah populer.

"Konsep kami itu kepingin mengangkat makanan-makanan tempo dulu. Yang asli khas di sini itu apa, ini kita unggah. Seperti Sego Jagung Brabuk khas Pati Selatan ini," ujar Mak Batok dengan semangat.

Menu yang disajikan sangat autentik, mulai dari Sego Jagung, Bothok Yuyu (kepiting sungai), Bothok Udang Kali, hingga Pepes Wader. Mak Batok menambahkan, ke depannya mereka berencana menghadirkan menu yang sudah hampir punah seperti Tebu Telur dan Ayam Kodok, olahan ayam yang dibentuk menyerupai otak-otak.

Ketika ditanya mengenai alasannya berjualan di lokasi yang sepi dan memprihatinkan, Mak Batok menjawab dengan seloroh khas seniman. 

"Kami bertiga itu orang nekat kok. Kalau enggak ada yang berani, kapan lagi? Siapa lagi? Kalau enggak ada yang mendahului, (Alun-Alun Kembangjoyo) akan tetap begini terus," tegasnya.

Ia mengaku bahwa keputusan ini didasari atas rasa kepedulian bersama Ketua Paguyuban PKL setempat, Thukul, untuk menghidupkan kembali perekonomian di sini.

Meski warung ini baru beroperasi selama satu pekan, respons masyarakat ternyata luar biasa. Promosi melalui media sosial seperti Facebook dan TikTok membuat banyak warga yang sengaja datang meski lokasi alun-alun sedang sepi. 

"Alhamdulillah selalu ada. Hari pertama saja dagangan penuh langsung habis," tambahnya.

Salah satu daya tarik utama Lapak Jadul Ma’e adalah harganya yang sangat terjangkau.

Mak Batok menyebutnya sebagai "Harga Banderol Ndeso".

Sego Jagung Rp5.000, Pepes Wader Rp5.000, Minuman Tradisional (Kunyit Asam/Kembang Telang) Rp3.000 - Rp5.000.

"Pokoknya maksimal lima ribu rupiah, sangat terjangkau," jelas wanita yang sehari-harinya juga berprofesi sebagai guru di SLB ini. Karena profesi mereka sebagai pengajar dan aktivitas lainnya, Lapak Jadul Ma’e hanya buka setiap Sabtu hingga Rabu, mulai pukul 16.00 hingga 21.00 WIB.

Pada Kamis dan Jumat, mereka memilih libur untuk fokus pada tugas mengajar dan beristirahat. 

Kehadiran Mak Batok dan kawan-kawan seolah menjadi lilin kecil di tengah gelapnya kondisi Alun-Alun Kembangjoyo. Dengan sentuhan seni dan cinta pada kuliner lokal, mereka berharap tempat ini bisa kembali berjaya dan menjadi pusat budaya serta ekonomi warga Pati.

Untoro, salah satu pembeli yang ditemui di lokasi, mengaku sengaja datang karena rasa penasaran setelah melihat unggahan di media sosial. Untoro menceritakan bahwa dirinya mengetahui keberadaan Lapak Jadul Ma’e melalui Facebook dan TikTok.

Ia merasa terkejut menemukan kuliner unik di tengah suasana alun-alun yang kini jauh berbeda dari masa kejayaannya dulu.

"Ternyata di tengah-tengah Alun-alun Kembangjoyo ada kuliner jadul dan unik di Pati," ujar Untoro sambil menikmati hidangannya.

Menu yang dipesan Untoro sore itu sangat beragam, mulai dari nasi jagung hingga aneka botok. Ia merinci hidangannya yang terdiri atas nasi jagung, botok yuyu, botok udang, serta sayur oblok-oblok daun singkong. Untuk melepas dahaga, ia memilih minuman tradisional yang menyegarkan.

"Minumnya es bunga telang sama kunir asem. Dan suasananya juga warungnya pakai dinding bambu atau gedhek, itu sangat menarik sekali," tambahnya. 

Menurutnya, penggunaan material alami pada bangunan warung memperkuat kesan tradisional yang jarang ditemukan di pusat kota.

Meski menawarkan rasa yang enak dan pengalaman yang unik, Untoro menegaskan bahwa harga makanan di Lapak Jadul Ma’e sangat terjangkau.

Hal ini menjadi poin penting baginya untuk tetap bisa menikmati kuliner berkualitas tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.

"Harganya ramah di kantong. Kebetulan kantongnya bolong dan ini lumayan membantu menikmati kuliner," candanya.

Kehadiran Lapak Jadul Ma’e dengan menu-menu lawasnya terbukti mampu menarik kembali langkah warga seperti Untoro untuk mengunjungi Alun-Alun Kembangjoyo, sekaligus menghidupkan kembali denyut ekonomi di kawasan yang sempat terlupakan tersebut.  (Mazka Hauzan Naufal)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.