Siap-siap, Harga BBM NonSubsidi Bisa Naik, Bahlil : Sedang Dihitung
Agus Tri Harsanto April 09, 2026 10:39 AM

 

TRIBUNBATAM.id - Harga BBM subsidi tidak berubah hingga akhir tahun. Namun harga BBM subsidi akan terdapat penyesuaian.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa akan ada penyesuaian harga terhadap bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi.

"Mengenai dengan BBM yang RON 92, 95, 98, termasuk dengan solar yang Pertamina Dex, itu nanti kita akan melakukan penyesuaian setelah perhitungan selesai," ujar Bahlil di Istana, Jakarta, Rabu (8/4/2026) malam.

Bahlil menjelaskan, pemerintah saat ini sedang melakukan exercise. Dia menyebut mereka turut berhitung bersama Pertamina dan pihak swasta.

"Sekarang kita masih melakukan exercise. Dan mudah-mudahan doakan agar betul harga ICP bisa turun. Itu akan jauh lebih baik lagi," jelasnya.

"Tapi sampai dengan sekarang kita masih melakukan perhitungan dengan badan usaha, seperti Pertamina dan swasta," imbuh Bahlil.

Diketahui, saat ini harga BBM nonsubsidi di Indonesia masih mengacu pada ketentuan Pertamina Patra Niaga per 1 Maret 2026.

  • Pertamax Rp12.300 per liter
  • Pertamax Green (RON 95) Rp12.900
  • Pertamax Turbo dari Rp13.100 per liter.
  • Harga Dexlite naik Rp14.200 per liter
  • Pertamina Dex Rp14.500 per liter

Lewati krisis energi

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan Indonesia telah berhasil melalui krisis liquefied petroleum gas (LPG).

Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta pada Rabu (8/4/2026).

"Menyangkut LPG, masa sulit kita untuk LPG sudah kita lewati sejak tanggal 4 (April 2026)," ucapnya.

Dia pun memastikan pasokan LPG nasional saat ini dalam kondisi aman.

"Alhamdulilah sekarang cadangan kita untuk LPG kapasitasnya sudah di atas 10 hari. Sebentar lagi kapal kita masuk," ujarnya.

Bahlil juga menuturkan, pasokan LPG nasional tidak bergantung pada jalur distribusi di Selat Hormuz.

Dia mengatakan pasokan LPG berasal dari negara-negara lain seperti Australia dan Amerika Serikat.

"Kalau LPG tidak ada hubungannya dengan Selat Hormuz," tegasnya.

"Karena kita sudah ambil dari Australia, Amerika dan beberapa negara lain," imbuhnya.

Dalam kesematan itu, Bahlil juga memastikan Indonesia tidak lagi melakukan impor solar.

"Solar tidak kita lakukan impor, yang kita lakukan itu tinggal bensin saja, tinggal keluar lebih sekitar 20-22 juta kiloliter. Itu saja,” jelasnya.

Bahlil mengatakan impor Indonesia dari kawasan Timur Tengah hanya berupa minyak mentah (crude oil) dengan porsi sekitar 20-25 persen.

"Yang ada itu tinggal crude-nya saja, crude-nya itu sekitar 20-25 persen," tuturnya.

"Kita sudah mampu mendapatkan penggantinya dari beberapa negara seperti Angola, Afrika, Nigeria, Amerika dan beberapa negara lain. Jadi kita insyaallah sudah clear lah, insyaallah aman,” imbuhnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.