Suhu di Kalsel Mulai Naik, BPBD Pantau Wilayah Rawan Karhutla, OMC Belum Diperlukan
Ratino Taufik April 09, 2026 06:49 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU – Kenaikan suhu dalam beberapa hari terakhir mulai terasa di sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan.

Meski belum memicu titik api, kondisi ini membuat beberapa daerah masuk dalam pemantauan intensif sebagai wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Pelaksana BPBD Kalsel, Ronny Eka Saputra menyebutkan, daerah seperti Hulu Sungai Utara (HSU), Hulu Sungai Selatan (HSS), sebagian Barito Kuala, dan Tanah Laut mulai menunjukkan peningkatan suhu dibanding wilayah lain.

“Memang ada beberapa kabupaten yang suhunya lebih panas dalam beberapa hari terakhir. Ini yang kita pantau,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).

Meski demikian, ia memastikan kondisi tersebut belum mengarah pada situasi darurat. Hujan yang masih turun, terutama pada sore hari, dinilai cukup membantu menjaga kelembapan lahan.

“Beberapa hari ini masih ada hujan, jadi cukup menahan potensi kekeringan. Titik api juga masih belum terdeteksi,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, BPBD Kalsel terus mengintensifkan patroli lapangan untuk memantau perubahan situasi secara cepat, khususnya di wilayah yang mulai mengalami kenaikan suhu.

Ronny menjelaskan, pemantauan ini menjadi penting sebagai langkah awal pencegahan. Sebab, karhutla kerap diawali dari kondisi lahan yang mulai mengering akibat suhu tinggi.

Baca juga: Spanduk Tangkap Pelaku Buang Sampah Liar, Anda Kami Bayar, Terpampang di Gambah Tabalong

Sementara itu, status siaga darurat karhutla hingga kini belum ditetapkan, baik di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi. Penetapan status tersebut, kata dia, masih menunggu perkembangan kondisi di daerah.

“Kalau sudah ada dua atau tiga kabupaten menetapkan siaga, baru provinsi menyusul. Saat ini belum ada,” jelasnya.

Terkait langkah lanjutan, Ronny mengungkapkan bahwa opsi pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan sudah masuk dalam skenario penanganan. Namun, hingga saat ini langkah tersebut belum diperlukan.

“OMC itu sifatnya usulan ketika status siaga atau darurat ditetapkan. Saat ini masih belum diperlukan karena kita juga belum menetapkan status siaga,” jelasnya.

Ia menambahkan, keputusan pelaksanaan OMC akan sangat bergantung pada perkembangan kondisi cuaca dan status kebencanaan di daerah. Pemerintah provinsi juga masih menunggu langkah dari kabupaten/kota.

“Kalau sudah ada dua atau tiga daerah menetapkan siaga, baru provinsi menyusul. Dari situ nanti kita lihat apakah perlu OMC atau tidak,” ujarnya.

Di sisi lain, kondisi lahan di sebagian besar wilayah Kalsel masih tergolong basah. Hal ini terlihat dari indikator kebencanaan yang masih berada di level aman hingga waspada rendah.

“Lahan masih cukup basah, ketinggian air di daerah resapan juga masih tinggi,” tambahnya.

Meski belum memasuki fase kritis, Ronny mengingatkan masyarakat untuk mulai bersiap menghadapi kemungkinan musim kemarau yang lebih panjang.

“Antisipasi sejak awal, seperti menyiapkan cadangan air dan menjaga kesehatan saat beraktivitas di luar ruangan,” ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur Kalsel Muhidin, juga menekankan pentingnya langkah pencegahan, salah satunya melalui optimalisasi kanal untuk menjaga kelembapan lahan.

Langkah ini dinilai sejalan dengan kondisi lapangan saat ini, di mana kenaikan suhu mulai terdeteksi, namun masih bisa dikendalikan berkat ketersediaan air yang cukup. (Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.