Opini: Diagnosa Dini- Jembatan Memperpanjang Hidup
Dion DB Putra April 09, 2026 07:41 PM

 Studi Kasus di Provinsi Nusa Tenggara Timur

Oleh: Vinsen Belawa Lemaking, SKM.,M.Kes 
Kepala Lembaga Penelitian, Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat Universitas Citra Bangsa Kupang.

POS-KUPANG.COM - Hidup hanya sekali dan kesehatan menjadi hal termahal dalam kehidupan itu sendiri. 

Orang akan melakukan apa saja untuk sembuh dari sakit namun saat sehat mereka tidak melakukan apa-apa lagi. 

Kesehatan itu baru menjadi sangat mahal ketika jatuh sakit parah dan sebaliknya tak punya harga jika sedang baik-baik saja. 

Baca juga: LIPSUS: TTS Kekurangan Alat Diagnosa TBC, Lonjakan Kasus Semakin Mengkhawatirkan

Inilah sifat dasar manusia yang mempercepat datangnya malaikat maut sebelum waktu yang ditetapkan oleh Sang Pemilik Kehidupan. 

Ternyata hal ini diperkuat lagi dengan buruknya fasilitas kesehatan di daerah serta tenaga kesehatan yang kurang berkompeten. 

Beberapa pengalaman tragis telah dan sedang terjadi dan bahkan akan terus terjadi bahwa banyak sekali kesalahan diagnosa awal pasien di daerah kabupaten yang ada di Nusa Tenggara Timur.

Contoh kasus, diagnosa awal rujukan hanya terdapat batu ginjal namun setelah sampai di fasilitas kesehatan lanjutan Kota Kupang ternyata ditemukan kanker stadium akhir dan telah menyebar ke semua organ lainnya. 

Kasus seperti ini telah banyak terjadi dan umumnya mereka yang dirujuk adalah mereka yang hampir tidak punya harapan hidup atau sering orang katakan “Hanya menunggu Mukjizat”. 

Alasan utama terjadinya hal ini sebenarnya ada dua. Pertama kesadaran pada diri sendiri. 

Disertasi Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Provinsi NTT Dr. Aemilianus Mau, S.Kep, Ns, M.Kep menyatakan bahwa persepsi sakit menurut orang NTT adalah ketika mereka tidak mampu melakukan apa-apa lagi atau sama sekali tak berdaya. 

Kesadaran diri untuk melakukan langkah pencegahan adalah perisai terbaik mengusir malaikat maut. 

Periksa kesehatan rutin ke Puskesmas (minimal) adalah langkah awal yang baik untuk memperpajang waktu hidup. 

Setiap hari harus dibangun kesadaran penting dan berharganya kesehatan. 
Apabila hal ini diresapi sebagai pedoman hidup maka keteraturan pasti tercipta dalam setiap tarikan napas. 

Orang akan bangun pagi sebelum mentari terbit dan akan tidur kembali sebelum larut malam (minimal jam 10 malam). 

Mereka akan beraktivitas fisik setiap hari untuk memperkuat semua otot terutama otot pemacu jantung dan memperkokoh tulang. 

Makanan yang dikonsumsi pasti diperhatikan dengan baik dengan keseimbangan gizi yang pas tanpa berlebihan gula dan garam serta penyedap rasa yang berlebihan. 

Mereka juga pasti akan merawat pikirannya agar jauh dari stres dan tekanan yang harusnya tidak menekan apalagi sampai membuat senyum lenyap dari wajah dan menggugurkan perkasanya air mata. 

Ia akan menjaga ritme kehidupan rohani dan jasmani secara teratur sehingga tidak terbentur dinding ego dan derasnya arus kemajuan teknologi. 

Intinya mereka tidak akan berhenti belajar, tidak akan lupa merefleksikan alam semesta yang menjadi sumber kekuatan sehat badan dan jiwa. 

Hal kedua yang mempengaruhi adalah fasilitas dan tenaga Kesehatan. Bagi kita warga NTT tentu hal ini bukan hal baru. Fasiltas lengkap dengan tenaga kompeten hanya ada di Kota Kupang. 

Pada level semua kabupaten rata-rata memiliki fasilitas minus tanpa spesialis memadai. Satu satunya jalan adalah merujuk pasien. 

Proses rujukan dalam wilayah kepulauan ini sangat menyulitkan sama seperti roket menuju bulan. 

Butuh biaya dan energi serta kesulitan tingkat tinggi. Satu daratan seperti dari tanah terindah Amfoang saja tingkat kesulitannya mencapai level dewa dengan harus mengarungi sungai bagai samudra dengan arus sekuat Gonsalu.  

Sebagai negeri ribuan pulau NTT harus diperlakukan berbeda dari yang lainnya. Minimal ada kapal rumah sakit terapung atau ambulans laut jika tidak terjangkau ambulans udara. 

Harusnya tiap ibu kota kabupaten rumah sakitnya minimal tipe B dengan peralatan standar (kalau bisa ada alat CT scan) dengan dokter spesial mumpuni. 

Juga perlu perombakan sistem kesehatan di pelayanan dasar pustu dan puskesmas yang saat ini lebih fokus pada administrasi dengan banyaknya aplikasi dan pelaporan yang ruwet. 

Sebaiknya para tenaga kesehatan ini setiap harinya menjangkau masyarakat, bersama mereka keluar dari kemelut hidup yang kompleks yang semuanya bermuara pada derajat kesehatan.
 

Poinnya di sini adalah bagaimana kita mencegah terjadinya penyakit yang mematikan. Diagnosa dini terhadap penyakit seperti kanker atau penyakit kardiovaskular, bersifat progresif. 

Diagnosis dini memberikan kesempatan untuk intervensi medis saat penyakit masih di tahap awal (stadium 1 atau 2), di mana peluang kesembuhan jauh lebih tinggi dibandingkan saat gejala sudah parah. 

Ia ibarat jembatan yang memperpanjang waktu hidup seseorang. Semoga ke depan tidak ada lagi yang merujuk stadium 4 atau fase puncak atau akhir akibat terlambat mendeteksi. 

Semua kita pasti ingin menua bersama dalam waktu penuh sukacita dan kedamaian. Oleh sebab itu mari kita berubah selama kita masih diberi waktu. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.