SERAMBINEWS.COM, BEIRUT – Serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Israel ke Lebanon pada Kamis (9/4/2026) menewaskan lebih dari 250 orang.
Eskalasi ini terjadi hanya sehari setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran pada Rabu (8/4/2026).
Israel menegaskan bahwa operasi militer mereka di Lebanon, yang menargetkan kelompok Hizbullah, tidak termasuk dalam cakupan gencatan senjata yang diumumkan Trump.
Namun, Iran dan Pakistan selaku mediator menyatakan bahwa wilayah Lebanon tetap termasuk dalam kesepakatan tersebut, sebagaimana dilaporkan Reuters.
Negara-negara lain, termasuk Perancis dan Inggris, juga mendesak agar gencatan senjata diperluas hingga mencakup Lebanon guna mencegah pertumpahan darah lebih lanjut.
"Ini (serangan Israel) adalah pelanggaran berat terhadap gencatan senjata," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, kepada BBC Radio.
"Ini adalah bencana yang bisa berujung pada bencana lebih besar. Inilah sifat dari perilaku nakal yang kita saksikan dari Israel di seluruh Timur Tengah," tambahnya.
Baca juga: Iran Ancam Kembali Berperang Usai Israel Gempur Lebanon, Hizbullah Balas Serangan
Tragedi Kemanusiaan di Beirut
Di Beirut, suasana duka menyelimuti rumah sakit saat keluarga berkumpul mencari jenazah anggota keluarga yang tewas akibat serangan Israel.
Tim penyelamat bekerja sepanjang malam menyisir puing-puing bangunan di area padat penduduk yang hancur tanpa peringatan dini.
Naim Chebbo, salah satu warga Beirut, menceritakan kondisi rumahnya yang hancur akibat serangan. "Ini tempat saya, ini rumah saya.
Saya sudah tinggal di sini selama lebih dari 51 tahun. Sekarang, semuanya hancur. Lihat?" tuturnya dengan pedih.
Pemerintah Lebanon telah menetapkan hari berkabung nasional dan menutup kantor-kantor pemerintahan sebagai bentuk penghormatan terhadap para korban.
Serangan dan Balasan
Militer Israel mengonfirmasi telah membunuh keponakan Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, yang juga menjabat sebagai sekretaris pribadinya.
Selain itu, serangan Israel juga menargetkan titik-titik penyeberangan sungai di Lebanon.
Sebagai balasan, Hizbullah, yang sebelumnya sepakat untuk menghentikan serangan demi menghormati gencatan senjata, mengumumkan akan kembali mengangkat senjata.
Pada Kamis pagi, mereka dilaporkan telah meluncurkan serangan lintas batas dan dua kali menargetkan pasukan Israel di wilayah Lebanon selatan.
Baca juga: Iran Tegas Lebanon Harus Masuk dalam Perjanjian Gencatan Senjata dengan AS-Israel
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan terus menyerang kelompok Hizbullah yang didukung Iran "di mana pun diperlukan".
Hal ini disampaikannya pada hari Kamis (9/4), sehari setelah serangan besar-besaran Israel menghantam Lebanon.
"Pesan kami jelas: siapa pun yang bertindak melawan warga sipil Israel -- kami akan menyerang mereka. Kami akan terus menyerang Hizbullah di mana pun diperlukan, sampai kami sepenuhnya memulihkan keamanan bagi penduduk di utara Israel," imbuhnya.
Sebelumnya pada hari Rabu (8/4), Israel melakukan serangan di negara tetangga Lebanon, termasuk di pusat Beirut, ibu kota Lebanon yang padat penduduk.
Ini merupakan serangan terbesar Israel sejak kelompok Hizbullah yang berbasis di Lebanon, bergabung dalam perang Iran melawan AS-Israel pada awal Maret lalu.
Militer Israel (IDF) menyebut gempuran ke Lebanon itu sebagai gelombang serangan udara terbesar ke negara itu.
IDF mengklaim telah menyerang lebih dari 100 pusat komando dan lokasi militer Hizbullah dalam waktu 10 menit. Pinggiran selatan Beirut, Lebanon selatan, dan Lembah Bekaa di bagian timur menjadi sasaran.
Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan sedikitnya 182 orang meninggal dunia dan 890 orang luka-luka.
Jumlah itu menambah daftar korban meninggal sejak Israel melancarkan serangan ke Lebanon, enam pekan lalu.
Sebelumnya, sebanyak 1.700 orang meninggal dunia, termasuk 130 anak-anak, di negara tersebut, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.
IDF juga mengklaim telah menewaskan penasihat pribadi dari pemimpin kelompok Hizbullah, Naim Qassem dalam serangan di Beirut pada hari Rabu tersebut.
Harshi adalah "rekan dekat dan penasihat pribadi Qassem dan memainkan peran sentral dalam mengelola dan mengamankan kantornya," tambahnya.