Pemkab Samosir Beri Pendampingan Anak Korban KDRT, Wabup: Kekerasan Tidak Bisa Ditoleransi
Ayu Prasandi April 09, 2026 11:54 PM

TRIBUN-MEDAN.com, PANGURURAN- Setelah mendengar informasi adanya kekerasan yang dialami dua anak yang dilakukan ibu tirinya, Wabup Samosir Ariston Sidauruk sambangi rumah keluarga tersebut. Ia menegaskan, pihaknya peduli terhadap anak korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). 

Hari ini, Kamis (9/4/2026), ia bersama rombongan berkunjung ke rumah korban kekerasan di Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir. 

"Ini sebagai bentuk dukungan moril sekaligus memastikan pemenuhan hak-hak anak tetap berjalan, termasuk pendidikan dan pemulihan kondisi psikologis korban," ujar Wabup Ariston Sidauruk, Kamis (9/4/2026).

Dua anak yang menjadi korban, masing-masing berinisial ES (10), siswi kelas V SD, dan MS (9), siswi kelas III SD, tampak mulai ceria saat menerima kunjungan. 

Keduanya diketahui mengalami kekerasan pada Selasa (7/4/2026) sore saat ayah mereka tidak berada di rumah.

Ia menegaskan, kekerasan terhadap anak maupun perempuan tidak dapat ditoleransi karena melanggar hukum dan berdampak serius terhadap perkembangan mental anak.

"Ini harus menjadi pelajaran bagi semua keluarga yang ada di Kabupaten Samosir. Jangan sampai terjadi lagi KDRT, baik kepada istri maupun anak," tuturnya.

"Hak anak dilindungi undang-undang, dan kekerasan fisik memiliki konsekuensi pidana. Kami sangat prihatin atas kejadian ini," sambungnya. 

Ia juga mengapresiasi keberanian seorang guru DR (wali kelas ES) yang pertama kali merespons dan melaporkan kasus tersebut kepada pihak berwenang. Menurutnya, peran guru sangat penting dalam melindungi anak dari kekerasan.

"TTerima kasih atas kepedulian dan keberanian ibu yang sudah melaporkan kejadian. Ini patut menjadi contoh, semoga semakin banyak guru seperti ibu yang peduli terhadap kondisi anak-anak," katanya.

Dalam kesempatan itu, ia memberikan motivasi dan tali asih kepada kedua korban dan menyatakan komitmen pemerintah daerah membantu kebutuhan pendidikan mereka hingga lulus sekolah dasar.

Ia juga meminta peran aktif orangtua, khususnya ayah memberikan perhatian tidak hanya secara materi, tetapi juga dukungan emosional guna memulihkan trauma anak.

"Anak-anak ini pasti mengalami trauma. Karena itu, perhatian psikologis sangat penting agar kejadian ini tidak meninggalkan dampak jangka panjang," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Samosir Priska Situmorang, mengatakan pihaknya terus melakukan pendampingan intensif, baik dari sisi psikologis maupun hukum.

Menurut Priska, kedua korban telah mendapatkan perawatan medis, termasuk visum, dan akan terus dipantau perkembangannya.

"Kami akan terus mendampingi sampai kasus ini tuntas. Jika dalam beberapa hari kondisi luka belum membaik, anak akan kembali dirujuk untuk penanganan lebih lanjut. Saat ini fokus utama adalah pemulihan kesehatan dan psikologis anak," lanjutnya.

Ia juga memastikan bahwa hak-hak anak, termasuk pendidikan, tetap terpenuhi dan keluarga dapat menghubungi pihaknya kapan saja demi pendampingan.

Ketua PKK Kabupaten Samosir Kennauli Ariston Tua Sidauruk, turut menekankan pentingnya peran keluarga dalam memberikan perlindungan dan kasih sayang kepada anak.

"Anak adalah titipan Tuhan yang harus dijaga dan diayomi. Jangan sampai kejadian serupa terulang kembali," ujarnya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada guru yang telah melaporkan kasus tersebut serta mendorong agar semakin banyak tenaga pendidik yang berani bertindak demi keselamatan anak didik.

Di sisi lain, Dinas Pendidikan Kabupaten Samosir memastikan bahwa kedua korban tetap mendapatkan hak pendidikan secara penuh dan dukungan dari pihak sekolah selama masa pemulihan.

Pemerintah Kabupaten Samosir menegaskan komitmennya  terus hadir dalam memberikan perlindungan terhadap anak serta memastikan setiap kasus kekerasan ditangani secara serius dan tuntas.

(cr3/tribun-medan.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.