Oleh: Boy Waro
Mahasiswa yang sedang praktik pastoral di Flores, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - “Duniaku terasa terpenuhi, keinginan, nafsu dan kebutuhan pribadiku dan itu semua membentuk aku menjadi pribadi yang angkuh.
Aku tidak peduli kata orang tentang pola hidup yang sedang kunikmati. Aku tidak peduli apa itu kebenaran, kebaikan, apa lagi berbicara tentang kasih dan moral.
Bagiku kebahagiaan tertinggi ketika aku mampu memenuhi keinginan daging, pesta pora, seks dan mabuk-mabukan.
Aku tidak pernah merasakan apa itu keheningan, bagiku kebebasan yang sejati adalah kebebasan yang tanpa batas.”
Baca juga: Puisi-puisi Kerry Dagur
Pada suatu malam di balik riuh rendah suara musik yang memekakkan telinga di sebuah bar sudut kota, terdapat dua jiwa yang merasa asing di tengah keramaian.
Namaku Elias, aku adalah pemuda yang terjebak dalam pusaran gaya hidup serba instan, di mana cinta sering kali hanya sebatas pertemuan satu malam tanpa makna.
Di tengah kemabukkan malam itu, aku bertemu dengan Maria. Pertemuan itu diawali oleh tawa yang dipaksakan dan gelas-gelas yang terus terisi.
Bagi lingkungan kami, hubungan tanpa ikatan adalah hal lumrah sebuah kebebasan yang dianggap mutlak.
Namun, semakin aku masuk ke dalam kehidupan Maria, aku menemukan sebuah luka yang disembunyikan di balik kemewahan pergaulan bebas itu: kehampaan yang mendalam.
Cinta kami tumbuh di tanah yang salah. Aku menyadari bahwa apa yang telah kami jalani selama ini hanyalah pelarian dari rasa sepi, bukan kasih yang membangun.
Maria adalah pelukis yang kehilangan warnanya, sementara aku adalah penulis yang kehabisan kata-kata tulus.
Memasuki Pekan Suci, suasana kota perlahan berubah. Lonceng gereja yang berdentang di kejauhan mulai mengusik kesadaranku.
Aku teringat akan makna pengorbanan yang sesungguhnya bukan pengorbanan harga diri demi kesenangan sesaat, melainkan pengorbanan diri untuk sebuah pembaruan hidup.
Pada malam Sabtu Suci, di sebuah studio kecil yang temaram, aku dan Maria duduk berhadapan. Tidak ada dentum musik, hanya suara napas yang berat.
“Kita sering menyebut ini kebebasan,” bisik Maria sambil menatap kanvasnya yang kosong. “Tapi kenapa aku merasa seperti dipenjara oleh keinginan-keinginanku sendiri?”
Aku memegang tangan Maria. “Mungkin karena kita mencari cinta di tempat yang mati, Maria. Paskah sebentar lagi tiba. Kataku, itu adalah waktu bagi yang mati untuk bangkit kembali.
Sebab cinta yang salah adalah wajar, namun jika cinta yang salah tidak bangkit lagi adalah kurang ajar.
Aku menyadari selama ini kita telah jatuh pada cinta yang salah dan membuat tembok untuk tidak bangkit lagi, jika cintanya siapa orang yang paling kurang ajar di dunia ini aku pasti menjawab diriku sendiri karena tidak mampu bangkit dari biasaan yang salah.”
Malam itu menjadi titik balik. Kami memutuskan untuk menyudahi pola hubungan yang merusak tersebut.
Bukan karena rasa benci, melainkan karena aku menyadari bahwa cinta yang sejati memerlukan hormat, tanggung jawab, dan kesucian hati, hal-hal yang selama ini suci selama ini kami abaikan demi tren pergaulan.
Saat fajar Paskah menyingsing, cahaya matahari menembus jendela studio. Tidak ada lagi botol minuman atau asap yang menyesakkan.
Yang ada hanyalah sebuah sketsa baru di atas kanvas Maria: sebuah jalan setapak yang menuju cahaya.
Aku berdiri di ambang pintu gereja, menghirup udara pagi yang segar. Aku merasa seolah-olah beban berat telah terangkat dari pundakku.
Cinta yang semula “terlarang” karena hanya didasarkan pada nafsu pergaulan, kini ia lepaskan untuk membiarkan cinta yang lebih besar tumbuh: cinta pada diri sendiri yang telah ditebus.
Paskah tahun ini bukan sekadar perayaan ritual bagi Aku dan Maria. Ini adalah eksodus pribadi bagi kami sebuah perjalanan keluar dari kegelapan pergaulan tanpa arah menuju kehidupan yang memiliki makna dan tujuan.
Malam itu, lilin kecil di sudut meja menjadi satu-satunya sumber cahaya. Maria menatap jemarinya yang gemetar, jauh dari keramaian bar yang biasa kami kunjungi.
“Elias,” suara Maria nyaris pecah, “selama ini kita menyebut ini kebebasan. Tapi kenapa setiap kali aku pulang, aku merasa seperti membawa beban ribuan ton di pundakku? Kita tertawa di bawah lampu diskotik, tapi menangis di bawah selimut.”
Aku mendekat, menatap sketsa hitam-putih yang baru saja dibuat Maria sebuah gambaran tangan yang terbelenggu rantai bunga yang layu.
“Karena kita sedang meminum air laut untuk menghapus dahaga, Maria,” jawabku pelan.
“Pergaulan ini... cara kita mencintai... itu hanya pelarian. Kita takut sunyi, jadi kita ciptakan kebisingan. Kita takut ditolak, jadi kita pilih hubungan tanpa komitmen.”
Aku menarik napas panjang, menatap bayang-bayang di dinding. “Besok adalah Sabtu Suci. Hari di mana semesta terdiam menunggu kebangkitan. Aku ingin berhenti berlari, Maria.
Aku ingin berhenti mencuri cinta di sudut-sudut gelap pergaulan bebas ini. Sabtu suci telah mengajarkan kita bahhwa “menunggu” dalam kesunyiaan bukanlah hal yang sia-sia.
Kadang, hal-hal terbesar dalam hidup justru dipersiapkan dalam kehingan paling dalam bukan di tengah kebisingan di bar.”
Lonceng gereja mulai berdentang, membelah kesunyian malam yang dingin.
Nadanya bukan lagi sekadar penanda waktu, melainkan panggilan pulang bagi jiwa-jiwa yang tersesat dalam rimba metropolitan.
Cinta yang terlarang bukan karena dunia melarangku, melainkan karena aku melarang jiwa untuk tumbuh. Aku menuliskan kalimat terakhir di buku catatanku.
Aku menyadari bahwa Paskah bukan sekadar perayaan kuno tentang makam yang kosong, melainkan tentang hati yang kosong yang kini diisi oleh harapan baru.
Ketulusan mulai menggantikan nafsu. Keheningan mulai menggantikan dentum musik yang kosong.
Kami tidak lagi mencari validasi di pelukan orang asing; namun kami mulai belajar mencintai diri sendiri melalui lensa penebusan.
Saat fajar Paskah menyentuh cakrawala, warna emas perlahan menghapus abu-abu di langit kota. Maria mengambil kuasnya, mencelupkannya ke dalam warna yang paling terang yang ia miliki.
Di atas kanvasnya, rantai bunga yang layu itu kini mulai bertunas kembali, menghadap matahari.
Aku berdiri di sampingnya, melihat dunia dengan mata yang baru. “Kita tidak sedang berpisah, Maria,” bisikku.
“Kita hanya sedang membiarkan diri kita ‘mati’ terhadap masa lalu, agar kita bisa ‘bangkit’ sebagai manusia yang utuh.”
Di bawah cahaya Paskah yang hangat, cinta kami tidak lagi sembunyi-sembunyi.
Aku kini menjadi sebuah perjalanan suci untuk saling menjaga, bukan lagi untuk saling menghancurkan dalam kebebasan yang semu.
Sebab cinta sejati tidak terlahir dari nafsu sesaat melainkan sebuah panggilan hidup yang panjang dan di sana terbentuk sebuah ikatan cinta yang kuat di antara dua insan yang saling berjuang.
Bagiku masa lalu adalah jalan menuju kebangkitan. Aku teringat akan kisah Yudas. Yudas telah membuat sejarah yang tidak salah namun ketika ia jatuh ke dalam dosa pengkhianatan yang sadis ia lupa pulang untuk sujud mohon ampun kepada sang guru.
Sebab pengampunan dan pertobatan sejati jika aku mampu pulang ke jalan yang benar. (*)