SURYA.CO.ID - Ini lah sosok Khawaja Asif, Menteri Pertahanan Pakistan yang menyebut Israel sebagai kutukan bagi kemanusiaan.
Pernyataan keras Khawaja Asif itu disampaikan setelah Israel menyerang Lebanon habis-habisan hingga mengakibatkan ratusan orang tewas, saat Amerika Serikat sedang gencatan senjata dengan Iran.
Asif menegaskan bahwa tindakan Israel di wilayah tersebut jelas-jelas merupakan genosida.
"Israel adalah kejahatan dan kutukan bagi kemanusiaan. Di saat pembicaraan damai sedang berlangsung di Islamabad, genosida sedang dilakukan di Lebanon," tulis Asif melalui unggahan di media sosial X pada Kamis (10/4/2026).
Asif menyoroti banyaknya warga sipil tak berdosa yang menjadi korban dalam rangkaian serangan tersebut, sebagaimana dilansir Anadolu Agency.
Baca juga: Imbas Serangan Israel ke Lebanon Tewaskan 182 Orang Sehari, Iran Ancam Batalkan Gencatan Senjata
Dia menilai kekerasan yang dilakukan Israel telah meluas dari satu wilayah ke wilayah lain tanpa ada tanda-tanda berhenti.
"Pertama Gaza, lalu Iran, dan sekarang Lebanon. Pertumpahan darah terus berlanjut tanpa henti," tambahnya.
Dalam pernyataannya yang emosional, Asif juga menyampaikan kecaman terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pendirian Israel di tanah Palestina.
Dia berharap agar mereka yang menciptakan Israel di atas tanah tersebut terbakar di neraka.
Khawaja Muhammad Asif lahir di Sialkot, Punjab, pada 9 Agustus 1949.
Dia berasal dari keluarga berpengaruh berlatar belakang Kashmir.
Ayahnya, Khawaja Muhammad Safdar, merupakan politisi senior dari Partai Muslim Pakistan (PML).
Asif menempuh pendidikan menengah di Cadet College Hasan Abdal, lalu meraih gelar sarjana dari Government College University Lahore, disusul gelar LLB dari University Law College Lahore pada tahun 1970.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana dan memperoleh gelar master di bidang ekonomi dari London School of Economics pada tahun 1975.
Sebelum terjun ke politik, Asif bekerja sebagai bankir di Uni Emirat Arab.
Ia kembali ke Pakistan pada 1991 setelah wafatnya sang ayah untuk melanjutkan kiprah politik keluarganya.
Asif memulai karier politiknya sebagai anggota Senat Pakistan pada tahun 1991.
Ia terpilih sebagai anggota Majelis Nasional (National Assembly) dari Sialkot pada Pemilu 1993 dan terus memenangkan kursi di parlemen dalam berbagai pemilu hingga 2024.
Ia menjadi figur sentral dalam Partai Liga Muslim Pakistan-Nawaz (PML-N) dan menjabat sebagai Ketua Komisi Privatisasi pada periode Nawaz Sharif tahun 1997.
Selama dua dekade terakhir, Asif menduduki berbagai posisi penting di kabinet, termasuk Menteri Pertahanan (2013–2017; 2022–2023; 2024–kini), Menteri Luar Negeri (2017–2018), Menteri Air dan Tenaga Listrik (2013–2017), serta Menteri Perminyakan dan Olahraga pada 2008. Sejak Maret 2024, ia juga memegang jabatan sebagai Menteri Penerbangan Sipil.
Sebagai Menteri Pertahanan, Asif dikenal dengan sikap vokalnya terhadap kebijakan India, terutama menyangkut Kashmir dan tuduhan pelanggaran wilayah.
Pada Pemilu 2024, ia terpilih kembali dari Dapil NA-71 Sialkot-II, mengalahkan Rehana Imtiaz Dar, kandidat independen yang juga ibu dari rival lamanya, Usman Dar. Asif memperoleh 119.001 suara, dibandingkan 100.482 suara yang diraih lawannya.
Kiprahnya sempat terganggu oleh sejumlah kontroversi, termasuk diskualifikasi oleh Pengadilan Tinggi Islamabad pada 2018 karena kepemilikan izin kerja (iqama) dari UEA.
Namun, Mahkamah Agung Pakistan membatalkan keputusan tersebut dan mengizinkannya mencalonkan diri kembali.
Ia juga pernah ditahan oleh Biro Akuntabilitas Nasional (NAB) pada 2020 atas dugaan aset tidak sah, tetapi kemudian dibebaskan.
Serangan Israel di Lebanon telah menewaskan 182 orang dan melukai 890 orang, sepanjang Rabu (8/4/2026).
Serangan ini dilakukan saat terjadi gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat.
Israel melancarkan serangan ke Lebanon di wilayah yang menurut Pakistan, termasuk dalam area gencatan senjata.
Pakistan adalah pihak menjadi mediator gencatan senjata tersebut.
Namun, pernyataan Pakistan itu dibantah Perdama Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menyebut Lebanon bukan termasuk kawasan gencatan senjata.
Baca juga: Baru Sehari Jeda Perang, Hubungan AS-Iran Kembali Panas Gara-Gara Israel Serang Lebanon
Israel justru melakukan serangan paling dahsyat yang menargetkan 100 lokasi dalam 10 menit.
Serangan ini dilakukan tanpa peringatan evakuasi sebelumnya.
Rangkaian ledakan hebat mengguncang pusat kota Beirut pada siang dan malam hari, termasuk di sebuah bangunan di daerah Tallet El-Khayat.
Dikutip dari AFP, kepulan asap yang membubung di atas Beirut memicu kepanikan di jalanan dan bangunan-bangunan runtuh menimpa penghuninya tanpa peringatan sebelumnya.
Fotografer AFP melihat dua orang terjebak di lantai atas sementara tim penyelamat berupaya menjangkau mereka setelah sebagian bangunan retak.
Israel juga menyerang pinggiran selatan Beirut pada Rabu malam.
Menteri Pertahanan Israel mengatakan, pihaknya telah melakukan serangan yang menargetkan anggota Hizbullah di seluruh Lebanon.
Serangan serentak di Beirut terjadi tanpa peringatan, membuat orang-orang di jalan berlarian dan para pengendara membunyikan klakson untuk memberi jalan bagi ambulans.
"Saya melihat ledakan itu, sangat kuat, dan ada anak-anak yang tewas, beberapa di antaranya kehilangan kedua tangannya," kata Yasser Abdallah, yang bekerja di toko peralatan rumah tangga di pusat kota Beirut, kepada AFP.
Salah satu serangan menghantam Corniche al-Mazraa, jalan utama di ibu kota, meruntuhkan sebuah bangunan, dan mengirimkan asap hitam mengepul ke langit saat puing-puing terbakar.
Sumber: https://internasional.kompas.com/read/2026/04/10/132100770/geram-lebanon-diserang-terus-menhan-pakistan-sebut-israel-kutukan.