Menlu Iran Balas JD Vance: AS Biarkan Netanyahu Serang Lebanon Itu Bodoh
Darwin Sijabat April 10, 2026 05:11 PM

 

TRIBUNJAMBI.COM – Diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat kini berada di ujung tanduk pasca seranngan Israel ke Lebanon. 

Terhadap serangan itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melontarkan peringatan keras kepada Washington.

Peringatan itu atas berlanjutnya agresi Israel ke Lebanon dapat menghancurkan kesepakatan gencatan senjata yang baru saja seumur jagung.

Ketegangan memuncak setelah Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menyebut Lebanon tidak termasuk dalam cakupan gencatan senjata yang berlaku sejak Rabu (8/4/2026). 

JD Vance bahkan mengejek Iran dengan menyebut mereka "bodoh" jika nekat membatalkan kesepakatan hanya karena serangan di wilayah Lebanon.

Araghchi membalas telak komentar tersebut dengan menuding balik kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang dinilai terlalu tunduk pada agenda Benjamin Netanyahu.

"Jika AS rela melubangi ekonomi mereka dengan membiarkan Netanyahu membunuh diplomasi, itu akan jadi pilihan mereka. Kami mengira itu bodoh, tetapi siap menghadapinya," tegas Araghchi sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Kamis (9/4/2026).

Motif Tersembunyi Netanyahu: Menghindari Penjara?

Menlu Iran tersebut juga menyinggung sisi personal dari Perdana Menteri Israel. 

Dia menduga Netanyahu sengaja terus mengobarkan api peperangan di Lebanon untuk menunda proses hukum kasus korupsi yang sedang menjeratnya. 

Baca juga: Mojtaba Khamenei: Kemenangan Final Iran Telah Menginspirasi Dunia

Baca juga: Pesan Menteri Bahlil: Matikan Lampu Hingga Mobil Listrik Demi Hemat Energi

Menurut Araghchi, penghentian perang secara total di kawasan justru akan mempercepat nasib Benjamin Netanyahu di balik jeruji besi.

"Gencatan senjata di kawasan, termasuk di Lebanon, akan mempercepat dia dipenjara," cetus Araghchi.

Simpang Siur Kesepakatan di Lebanon

Ketidakpastian ini berakar dari perbedaan interpretasi antara mediator dan pelaku perang. 

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, selaku mediator, secara tegas menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut harus mencakup Lebanon. 

Namun, Israel dan pihak Gedung Putih bersikeras bahwa serangan ke Lebanon adalah operasi terpisah.

Akibat "salah paham" berdarah ini, militer Israel dilaporkan tetap meluncurkan serangan masif yang menelan korban jiwa hingga lebih dari 300 orang di Lebanon tepat saat gencatan senjata seharusnya dimulai. 

Iran kini mendesak AS untuk bertanggung jawab atas tindakan sekutunya jika ingin stabilitas di kawasan benar-benar terjaga.

Mojtaba Khamenei Klaim Kemenangan Iran

Di tengah suasana gencatan senjata yang baru saja disepakati dengan Amerika Serikat, Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, secara resmi mendeklarasikan kemenangan mutlak atas aliansi AS-Israel. 

Kemenangan itu disampaikan dalam pesan publiknya yang disiarkan pada Kamis (9/4/2026).

Mojtaba Khamenei menegaskan keteguhan bangsa Iran selama 40 hari pertempuran telah menjadi simbol perlawanan global.

Meskipun Iran harus kehilangan tokoh-tokoh kunci, termasuk sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei, yang gugur pada awal agresi 28 Februari lalu, Mojtaba menekankan kekuatan revolusi tidak pernah surut. 

Baca juga: Pemerintah Pastikan Unggahan Trump Sindir Warga Indonesia Dukung Iran Hoaks

Baca juga: Jaga Marwah Organisasi, PKC PMII Jambi Siap Pasang Badan Bela 6 Kadernya

Sebaliknya, duka tersebut diklaim telah bertransformasi menjadi energi keberanian yang tidak terduga di medan pertempuran.

"Meski menghadapi agresi musuh dan kerugian yang diderita, tak diragukan lagi bahwa bangsa Iran telah meraih kemenangan."

"Rakyat Iran mengubah kesedihan mereka menjadi perlawanan dan tekad yang membuat musuh-musuh mereka takjub, serta menginspirasi dunia yang mengamati," tegas Khamenei sebagaimana dikutip dari The Jerusalem Post.

Dalam pernyataan yang dibacakan melalui televisi nasional Iran, Mojtaba memperingatkan bahwa gencatan senjata bukan berarti pengampunan atas kejahatan perang yang terjadi.

Iran tetap berkomitmen untuk menuntut keadilan bagi para martir dan pemulihan infrastruktur yang hancur.

Ia secara eksplisit bersumpah akan membalas kematian para pejabat tinggi dan memastikan para agresor menerima hukuman yang setimpal.

"Kami jelas tak akan membiarkan penjahat agresor yang menyerang negara kami tak dihukum."

"Iran akan menuntut kompensasi untuk semua kerusakan, begitu juga bagi para martir, dan semua yang terluka," tambahnya dengan nada mengancam.

Fase Baru Selat Hormuz

Menutup pesannya, Pemimpin Tertinggi baru tersebut memberikan sinyal misterius mengenai masa depan jalur energi dunia di Selat Hormuz.

Tanpa merinci langkah teknisnya, ia menegaskan bahwa Iran akan segera memasuki "fase terbaru" dalam pengelolaan selat strategis tersebut guna mempertahankan hak sah negaranya.

Dunia kini menanti manuver diplomatik maupun militer Teheran selanjutnya dalam perundingan damai yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad.

 

Baca juga: Akhirnya 6 OPD di Kabupaten Tanjab Barat Bakal Lelang Jabatan

Baca juga: Akhirnya 6 OPD di Kabupaten Tanjab Barat Bakal Lelang Jabatan

Baca juga: Pesan Menteri Bahlil: Matikan Lampu Hingga Mobil Listrik Demi Hemat Energi

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.