Kasus Andrie Yunus Diyakini Operasi Intelijen, Amnesty International Kasih Pesan Ini ke Pemerintah
Desy Selviany April 10, 2026 05:35 PM

Laporan wartawan Wartakotalive.com, Miftahul Munir

WARTAKOTALIVE.COM, KRAMAT JATI - Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis HAM, Andri, memicu kekhawatiran serius di tengah situasi politik tak menentu di Indonesia. 

Direktur Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menilai serangan tersebut bukan sekadar tindak kriminal biasa, tapi sudah terencana.

Usman menegaskan bahwa pola serangan terhadap Andri memiliki kemiripan dengan kasus kekerasan terhadap aktivis sebelumnya, termasuk yang menimpa Novel Baswedan. 

Ia menyebut, kejadian ini menunjukkan adanya ruang yang memungkinkan kekerasan terhadap suara kritis kembali terjadi.

"Ini bukan peristiwa spontan. Ada perencanaan, ada pengintaian, bahkan kemungkinan melibatkan kemampuan operasional tertentu,” tegas Usman, Jumat (10/4/2026).

Menurutnya, indikasi tersebut terlihat dari fakta di mana pelaku tidak mengambil barang korban, melainkan langsung menyerang dan melarikan diri. 

Bahkan, polisi mengungkap korban telah dibuntuti sebelum kejadian penyiraman air keras tersebut.

Usman juga menyoroti meningkatnya narasi negatif terhadap aktivis, akademisi, dan pihak kritis yang kerap dilabeli sebagai “antek asing” atau tidak patriotik.

Ia mengaitkan hal ini dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya menyebut kritik sebagai sesuatu yang perlu “ditertibkan”.

“Kalau kritik dianggap ancaman, maka ruang demokrasi menyempit. Ini berbahaya," tutur Usman.

Baca juga: Novel Baswedan Terkejut dengan Proses Penyidikan Kasus Andrie Yunus di TNI

Ia menduga adanya operasi yang sistematis untuk melukai aktivis Andri Yunus.

“Ini butuh keberanian, perencanaan, dan kemungkinan akses pada kemampuan intelijen. Tidak mungkin sekadar dendam pribadi,” jelasnya.

Lebih lanjut Usman, dalam banyak kasus kekerasan terhadap aktivis, para eksekutor sering kali bukan aktor utama.

Usman menambahkan, keberhasilan pengungkapan kasus ini bukan hanya soal menangkap pelaku eksekutor, tetapi juga mengungkap aktor intelektual di baliknya.

Apabila dalang tidak ditangkap, maka kasus serupa dipastikan akan kembali terjadi.

Usman menegaskan kepada pemerintah, sia-sia menghalau kebebasan demokrasi. Sebab kebebasan bentuknya seperti air.

Sekuat apapun dibendung, maka air akan selalu mencari jalan keluar. 

“Kalau hanya pelaku lapangan yang dihukum, kejahatan seperti ini akan terus berulang. Kebebasan itu seperti air. Dibendung sekuat apa pun, dia akan mencari jalan,” imbuhnya. (m26)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.