BPBD Lampung Siapkan Skema Hujan Buatan Hadapi Godzilla El Nino 
soni yuntavia April 10, 2026 06:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Provinsi Lampung diprediksi bakal mengalami fenomena iklim ekstrem yang disebut sebagai "Godzilla El Nino" pada pertengahan 2026 ini.

Menyikapi situasi ini, BPBD Provinsi Lampung menetapkan status waspada tinggi terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. 

BPBD Lampung bahkan menyiapkan skema Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk memicu hujan buatan jika terjadi keadaan mendesak.

Analis Kebencanaan BPBD Lampung, Wahyu Hidayat, menyebut fenomena kekeringan ini diprediksi menjadi yang terpanas dan terpanjang dalam 30 tahun terakhir.

Menanggapi ancaman tersebut, Wahyu mendorong sektor pertanian untuk melakukan langkah ekstra. 

"Yang pertama tentu kita akan kekurangan air secara ekstrem, jadi kita harus melakukan tata kelola air dari sekarang. Selain itu kita juga harus siaga menghadapi potensi ancaman kebakaran hutan dan lahan," Ujar Wahyu, Jumat (10/4/2026).

Dari data yang dihimpun, pada masa puncak musim kemarau, tingkat kerawanan di Provinsi Lampung terbagi ke dalam beberapa zona.  

Di antaranya zona merah atau Sangat Rawan Mencakup wilayah Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat (Tubaba), Mesuji, Lampung Tengah, Lampung Timur, Lampung Selatan, Bandar Lampung, dan Metro.

Lalu, zona oranye atau Rawan meliputi wilayah Way Kanan, Lampung Utara, Pesisir Barat, Tanggamus, Pringsewu, dan Pesawaran.

Selain itu, waspada Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) juga berpotensi terjadi di area hutan lindung seperti TNWK (Way Kambas) dan TNBBS (Bukit Barisan Selatan).

Tak hanya itu, fenomena "Godzilla El Nino" bukan sekadar cuaca panas, namun juga diprediksi membawa dampak nyata pada berbagai sektor.

Pada sektor pertanian, fenomena ini berisiko menimbulkan gagal panen (puso) tinggi di lahan tadah hujan. Selain itu, terjadi infiltrasi air laut (intrusi) yang dapat menurunkan kualitas tanah di wilayah pesisir.

Di sektor pengairan, diprediksi bakal terjadi penurunan muka air secara drastis di bendungan besar seperti Waduk Way Sekampung dan Way Rarem, yang dapat mengganggu sistem irigasi teknis untuk kebutuhan pertanian.

Fenomena Godzila El Nino juga berpotensi memicu lonjakan kasus ISPA akibat debu dan asap, serta risiko heatstroke (serangan panas) bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan.

Khusus di perkotaan seperti diBandar Lampung dan Metro, krisis air bersih dan suhu udara ekstrem (gerah) yang menyengat juga mengancam.

"Dampaknya luas, bukan hanya kekurangan air bersih, tapi juga mengancam sektor perikanan darat seperti budi daya, sektor pertanian dan perkebunan, sehingga perlu dilakukan mitigasi risiko terhadap kemungkinan hidrometeorologi kering ini.

Menyikapi ini, petani dihimbau mempercepat masa tanam atau beralih ke varietas tanaman yang tahan kering seperti palawija atau sorgum.

Terkait upaya mitigasi dan pencegahan, BPBD Lampung akan mengintensifkan koordinasi dengan TRC, Pusdalops Kabupaten/Kota, serta Damkar.

Bahkan, BPBD akan mengaktifkan Desa Tangguh Bencana (Destana) untuk mendeteksi titik api melalui siskamling komunitas.

"Kami meminta masyarakat yang memiliki usaha di sekitar kawasan hutan, seperti bengkel tambal ban, gudang barang bekas yang mudah terbakar, hingga pabrik, untuk sangat waspada. Pastikan APAR berfungsi dan sumber air tersedia jika sewaktu-waktu muncul api," kata Wahyu.

Jika eskalasi bencana meningkat, Wahyu menyebut pemerintah tidak akan ragu melakukan upaya luar biasa. 

"Apabila kebakaran meluas, kita siapkan water bombing. Jika kekeringan semakin parah, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) akan dilakukan untuk memicu hujan buatan," imbuhnya.

Di sisi lain, Wahyu juga mengajak masyarakat menyeimbangkan ikhtiar teknis dengan kekuatan doa. 

"Kami juga meminta dukungan para alim ulama dan pesantren untuk menggelar doa bersama atau salat Istisqa sesuai ajaran agama, memohon agar kemarau ini tidak membawa bahaya yang lebih besar bagi warga Lampung," tutupnya.


( Tribunlampung.co.id / Hurri Agusto )

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.