TRIBUNNEWS.COM - Lonjakan harga kantong plastik dalam beberapa waktu terakhir mendorong masyarakat mulai beralih ke tas belanja berulang pakai yang dinilai lebih hemat dan ramah lingkungan.
Selain menekan pengeluaran rumah tangga, perubahan ini juga sejalan dengan upaya mengurangi limbah plastik sekali pakai yang berdampak buruk bagi lingkungan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang, Banten, Wawan Fauzi, mengatakan penggunaan kantong plastik sekali pakai tidak hanya boros, tetapi juga berdampak buruk terhadap lingkungan.
“Selain lebih hemat karena harganya terus naik, penggunaan kantong plastik sekali pakai dapat menjadi limbah yang merusak lingkungan,” ujar Wawan di Tangerang.
Baca juga: UMKM Jadi Korban Kenaikan Harga Plastik, Komisi VI DPR Desak Pemerintah Bertindak Cepat
Ia menjelaskan, ajakan tersebut sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang terkait pembatasan penggunaan kantong plastik di pusat perbelanjaan, swalayan, restoran, dan pasar.
Kebijakan ini telah diatur dalam Peraturan Wali Kota Tangerang Nomor 111 Tahun 2022.
Menurut Wawan, penggunaan tas belanja ramah lingkungan dapat menjadi solusi konkret untuk menekan biaya rumah tangga sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Tas jenis ini dinilai lebih efisien karena dapat digunakan berulang kali dibandingkan kantong plastik sekali pakai.
“Bahan tas ramah lingkungan umumnya lebih kuat dan tahan lama, sehingga mampu menahan beban hingga berkilo-kilo tanpa mudah rusak,” jelasnya
Selain itu, tas belanja ramah lingkungan juga memiliki fungsi yang beragam, mulai dari membawa kebutuhan pokok di pasar hingga perlengkapan kerja seperti alat tulis kantor (ATK).
DLH Kota Tangerang berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan beralih ke alternatif yang lebih ramah lingkungan demi masa depan yang lebih bersih dan sehat.
Harga berbagai jenis kantong plastik dan gelas plastik di Pasar Tradisional Curug, Kabupaten Tangerang, Banten, mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Kenaikan harga bahkan disebut mencapai 60 hingga 70 persen, sehingga berdampak langsung pada para pedagang.
Pantauan di lokasi pada Jumat (10/4/2026), sejumlah lapak penjual plastik terlihat sepi pembeli. Kondisi ini dipicu oleh tingginya harga jual yang membuat daya beli masyarakat menurun.
Salah satu pedagang plastik, Arwanto, mengungkapkan bahwa kenaikan terjadi hampir di seluruh jenis produk. Ia menyebut, harga kantong plastik yang sebelumnya Rp10.000 kini naik menjadi Rp16.000.
Sementara kantong plastik merah mengalami kenaikan dari Rp19.000 menjadi Rp26.000.
"Semua jenis plastik naik. Plastik kiloan untuk kopi atau es yang dulu Rp7.000 sekarang jadi Rp12.000,” ujar Arwanto.
Menurutnya, lonjakan harga ini berdampak besar terhadap omzet penjualan.
Banyak pelanggan yang akhirnya mengurungkan niat membeli karena harga yang terlalu tinggi.
“Pembeli kaget dengan kenaikan ini, jadi banyak yang batal beli,” katanya.
Dampak kenaikan harga plastik juga dirasakan pedagang kopi keliling.
Salah satunya Soma, yang mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan kemasan seperti gelas dan kantong plastik.
Ia terpaksa mengurangi jumlah pembelian plastik agar tidak menaikkan harga jual kopi kepada pelanggan.
"Dulu beli banyak, sekarang dikurangi sesuai modal. Harga kopi saya usahakan tetap, jadi plastiknya saja yang dikurangi,” jelas Soma.
Para pedagang berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga plastik.
Pasalnya, lonjakan harga ini dinilai sangat memberatkan, terutama bagi pelaku usaha kecil yang bergantung pada kemasan plastik dalam operasional sehari-hari.
Tulisan ini sebagian sudah tayang di Tribun Tangerang https://tangerang.tribunnews.com/kabupaten-tangerang/57073/harga-plastik-di-kabupaten-tangerang-naik-gila-gilaan-pedagang-keluhkan-dampaknya?page=all