Laporan Wartawan TribunPalu.com, Supriyanto Ucok
TRIBUNPALU.COM, PALU - Mengenal Lampurio, seorang praktisi artistik yang berangkat dari persinggungan antara ingatan, lanskap, dan dinamika kehidupan kontemporer.
Berbasis di Kota Palu, Sulawesi Tengah, selama lebih dari satu dekade ia mengembangkan pendekatan visual melalui mural dan painting yang berakar pada isu lingkungan, sosial dan budaya.
Sebuah upaya untuk membaca sekaligus merespons realitas yang dekat dengan keseharian masyarakat.
Baca juga: Fazzio Kanvas, Terobosan Yamaha Hadirkan Motor Lukis Pertama di Indonesia
Salah satu elemen kunci dalam praktik Lampurio adalah menghadirkan "Palindopopart", sebuah karakter yang berfungsi sebagai medium naratif sekaligus simbolik.
Karakter ini terinspirasi dari tradisi megalitikum yang tersebar di lembah Napu, Behoa, dan Bada.
3 wilayah lembah yang menyimpan jejak peradaban tua dengan dimensi sakral dan misterius yang kuat
Nama "Palindopopart" merujuk pada "Palindo, salah satu patung megalit terbesar di Lembah Bada
Dalam tangan Lampurio, figur ini tidak diposisikan sebagai artefak statis, melainkan sebagai entitas yang dihidupkan kembali melalui pendekatan visual kontemporer.
Mengalami transformasi dari objek arkeologis menjadi subjek aktif, mampu bernegosiasi dengan waktu dan berinteraksi dengan konteks kekinian.
Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana Lampurio memandang sejarah bukan sebagai sesuatu yang selesai, tetapi sebagai ruang dialog yang terus berlangsung.
Baca juga: Program Sejuta Rumah Masuk Desa Binangga Sigi, Infrastruktur dan UMKM Jadi Sasaran
"Palindopopart" menjadi jembatan antara peradaban masa lalu dan peradaban masa kini, menghadirkan kemungkinan baru dalam membaca ulang warisan budaya melalui bahasa visual yang lebih dekat dengan publik,
Kolaborasi Lampurio bersama Yamaha Sulawesi Tengah melalui praktik live painting pada body motor Yamaha Fazzio memperluas medan kerja artistiknya.
Dalam konteks ini, kendaraan tidak lagi dipahami semata sebagai objek fungsional, tetapi sebagai medium ekspresi yang bergerak.
Intervensi visual pada permukaan motor menghadirkan lapisan makna baru, mengubahnya menjadi kanvas berjalan yang membawa narasi artistik ke ruang publik yang lebih luas.
Kehadiran "Palindopopart" pada body Yamaha Fazzio mempertegas gagasan tentang mobilitas, baik secara foik maupun simbolik.
la tidak hanya menemani perjalanan penunggangnya melintasi ruang, tetapi juga menghadirkan dimensi waktu yang berlapis, di mana ingatan masa lalu terus beresonansi dalam gerak kehidupan hari Ini
Dalam praktiknya, Lampurio menempatkan seni sebagai sesuatu yang inklusif dan merakyat.
Baca juga: Lampurio, Seniman Artistik Palindo Pop Art Tampil di Painting Live Fazzio Kota Palu
Karyanya tidak dibatasi oleh ruang-ruang institusional, tetapi justru menemukan relev relevansinya di jalan, di tengah masyarakat, dan dalam kehidupan sehari-hari
Dengan demikian, seni tidak lagi menjadi sesuatu yang eksklusif, melainkan hadir sebagai bahasa bersama, yang dapat diakses, dirasakan, dan dimaknai oleh berbagai lapisan publik.
Melalui pendekatan ini, kolaborasi antara Lampurio dan Yamaha Fazzio membuka pembacaan baru terhadap relasi antara seni, medium, dan kehidupan sehari-hari.
Sebuah praktik yang tidak hanya memperluas batas batas kanvas, tetapi juga mempertegas bahwa seni memiliki potensi untuk hidup, bergerak, dan berinteraksi secara langsung dengan ruang sosial tempat la hadir.
Baca juga: Akses Jalan di Lokasi Pohon Tumbang di Jl. Cinta Parigi Moutong Kembali Terbuka
"Karya ini merupakan bentuk transformasi peradaban pada kendaraan atau benda yang berjalan," ucapnya.