SURYA.co.id – Di tengah negosiasi sensitif antara Amerika Serikat dan Iran, sebuah pesan tegas datang dari lingkaran dalam Presiden AS Donald Trump.
Ia dilaporkan meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menahan diri dan tidak memperkeruh situasi militer di kawasan.
Permintaan itu muncul di saat yang krusial, ketika Iran mulai memasang syarat tinggi dalam perundingan.
Bagi Trump, satu langkah agresif dari Israel berpotensi menghancurkan peluang besar mencapai kesepakatan bersejarah dengan Teheran.
"Saya sudah berbicara dengan Bibi (Netanyahu) dan dia akan menurunkan intensitasnya. Saya pikir kita harus sedikit lebih tenang," ujar Trump, dikutip SURYA.co.id dari Tribunnews.
Di balik pernyataan itu, tersimpan ketegangan yang tak biasa antara dua sekutu lama.
Trump kini bukan hanya berhadapan dengan Iran, tetapi juga harus “menjinakkan” Israel demi menjaga jalur diplomasi tetap hidup.
Langkah Trump bukan tanpa alasan.
Ia tengah mengejar dua target besar sekaligus, warisan politik sebagai pembawa perdamaian global dan efisiensi biaya militer AS yang terus membengkak akibat konflik berkepanjangan.
Dalam konteks ini, stabilitas menjadi kunci.
Trump membutuhkan Iran untuk melunak di meja perundingan, dan itu hanya mungkin terjadi jika Israel tidak terus melancarkan tekanan militer, khususnya di Lebanon.
Baca juga: Gencatan Senjata Batal Gegara Israel Serang Lebanon, Akankah Trump Hukum Netanyahu demi Iran?
Wakil Presiden AS, JD Vance, bahkan mengakui adanya upaya Israel untuk menyesuaikan situasi demi kepentingan diplomasi.
"Pihak Israel mencoba menata situasi agar perundingan kita sukses. Bukan karena itu bagian dari (dokumen) gencatan senjata, tapi mereka ingin memberikan ruang bagi kesuksesan diplomasi," kata Vance.
Namun, “ketenangan” ini jelas bukan kondisi alami di tengah konflik yang masih menyala.
Di sisi lain, Iran justru memanfaatkan situasi ini dengan cermat.
Melalui Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf, Teheran secara terbuka memasang syarat berat sebelum bersedia berunding.
"Dua hal ini harus dipenuhi sebelum negosiasi dimulai. Gencatan senjata di Lebanon dan pelepasan aset Iran yang diblokir adalah syarat mutlak," tegasnya.
Dengan tuntutan itu, Iran seperti sedang menguji sejauh mana Trump mampu mengendalikan Netanyahu.
Jika Israel terus bergerak agresif, Iran punya alasan kuat untuk menolak negosiasi dan menuding Barat tidak serius.
Situasi ini membuat posisi Washington menjadi serba sulit, menekan Israel berisiko meretakkan aliansi, tetapi membiarkannya justru bisa menggagalkan diplomasi.
Baca juga: Sosok JD Vance yang Emban Misi Berat di Pakistan, Kesepakatan dengan Iran hingga Buka Selat Hormuz
Bagi Netanyahu, situasi ini bukan tanpa tekanan. Di satu sisi, ia berkomitmen melanjutkan tekanan terhadap Hezbollah demi keamanan nasional Israel.
Namun di sisi lain, ia juga membuka peluang dialog langsung dengan Lebanon, langkah yang jarang terjadi sebelumnya.
"Saya telah menginstruksikan Kabinet untuk memulai negosiasi langsung dengan Lebanon guna mencapai dua tujuan, yakni pelucutan senjata Hezbollah dan perjanjian damai yang berkelanjutan," tegas Netanyahu.
Langkah ini memperlihatkan dua jalur strategi yang berjalan bersamaan: tekanan militer dan diplomasi. Tapi keduanya sulit berjalan seimbang tanpa memicu gesekan dengan Washington.
Baca juga: Di Balik Ambisi Serangan Israel ke Iran, Netanyahu Ternyata Terjerat Kasus Korupsi, Segera Disidang
Pertanyaan besar kini muncul: seberapa jauh Trump bersedia menekan Israel?
Jika Netanyahu mengabaikan permintaan untuk “kalem”, bukan tidak mungkin Washington akan mempertimbangkan langkah lebih jauh, mulai dari pembatasan dukungan militer hingga tekanan politik yang lebih terbuka.
Di sisi lain, negara-negara Arab melihat dinamika ini sebagai peluang. Jika AS benar-benar mendorong de-eskalasi, stabilitas kawasan bisa lebih mudah dicapai, termasuk membuka ruang kerja sama baru.
Namun semuanya bergantung pada satu hal: apakah Israel akan mengikuti arah Washington, atau tetap pada jalur militernya sendiri.
Belum genap 48 jam dunia menyambut gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, Timur Tengah kembali membara.
Pada Rabu (8/4/2026), Israel melancarkan serangan besar ke Lebanon dengan sekitar 100 rudal yang menewaskan sedikitnya 254 orang.
Serangan itu langsung dibalas Iran dengan peluncuran rudal ke wilayah Israel dan negara-negara Teluk, sekaligus memperketat blokade Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Di tengah eskalasi ini, Presiden AS Donald Trump menghadapi ujian terberatnya.
Dengan kerugian militer AS yang ditaksir mencapai Rp28 triliun, Trump berada dalam dilema besar, tetap membela sekutu abadinya, Israel, atau mengambil langkah tegas demi menyelamatkan kesepakatan ekonomi-politik dengan Iran.
Serangan mendadak Israel ke Lebanon memunculkan dugaan kuat adanya motif politik domestik.
Pemerintahan Benjamin Netanyahu sebelumnya berada di bawah tekanan besar akibat kritik publik atas jalannya perang dan meningkatnya protes internal.
Serangan ke Lebanon dinilai sebagai upaya mengalihkan perhatian sekaligus menunjukkan kekuatan militer.
Namun, langkah sepihak ini justru memperlihatkan keretakan hubungan antara Washington dan Tel Aviv.
Di mata internasional, tindakan Israel seolah mempermalukan Donald Trump karena menunjukkan bahwa AS tidak sepenuhnya mampu mengendalikan sekutu utamanya.
Lebih jauh, keputusan Israel menyerang Lebanon, yang dikaitkan dengan keberadaan Hizbullah, juga memperumit kesepakatan damai yang tidak mencakup wilayah tersebut.
Respons Teheran tidak hanya bersifat militer, tetapi juga politis.
Iran menegaskan bahwa serangan balasan mereka adalah “teguran langsung” terhadap pelanggaran kesepakatan.
Bagi Teheran, serangan Israel ke Lebanon merupakan bukti bahwa gencatan senjata tidak dijalankan secara serius.
Langkah Iran memperketat blokade Selat Hormuz menjadi sinyal yang lebih mengkhawatirkan.
Jalur ini menangani sekitar seperlima distribusi minyak dunia, sehingga gangguan kecil saja bisa langsung mendorong lonjakan harga energi global.
Pesan yang ingin disampaikan Iran jelas, jika Donald Trump tidak mampu mengendalikan Israel, maka stabilitas ekonomi global akan menjadi taruhannya.