Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Badan Musyawarah (Bamus) Betawi menilai puncak perayaan Lebaran Betawi 2026 di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, menjadi makna bahwa budaya dapat menjadi pemersatu bangsa.
"Lebaran Betawi bukan sekadar perayaan seremonial tahunan. Lebaran Betawi merupakan wadah untuk menyatukan silaturahmi antarwarga Betawi dengan seluruh warga yang ada di Jakarta. Jadi, dari seluruh rangkaian Lebaran Betawi ini esensi utamanya adalah silaturahmi," kata Ketua Umum Bamus Betawi H. Riano P Ahmad di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Minggu.
Riano menyebut antusiasme masyarakat mengunjungi acara tahunan itu terlihat sejak Minggu pagi hingga siang untuk menyaksikan rangkaian acara budaya khas Betawi.
Dalam kesempatan ini, pengunjung disuguhkan beragam atraksi budaya khas Betawi, seperti Hantaran, Palang Pintu, hingga Topeng Blantek yang menampilkan cerita kerakyatan.
Kemeriahan semakin terasa saat pengunjung disuguhi pawai ondel-ondel yang dipadukan dengan tradisi sorokan. Seluruh rangkaian kegiatan ini diselenggarakan oleh Badan Musyawarah (Bamus) Betawi.
Menurut Riano, acara ini menjadi momen penting dalam menjaga silaturahmi antarwarga Betawi. Ia menilai tradisi menjaga dan mempererat silaturahmi merupakan kearifan lokal Betawi yang telah diwariskan turun-temurun.
Nilai tersebut, kata Riano, juga tercermin melalui simbol penghormatan antara generasi tua dan muda. Salah satunya melalui prosesi simbolis para wali kota dan bupati yang membawa hantaran untuk Gubernur DKI Jakarta.
Selain pertunjukan budaya, pada Lebaran Betawi kali ini pengunjung juga disuguhi sajian kuliner khas Betawi hingga hiburan layar tancap yang digelar Sabtu (11/4) malam.
"Alhamdulillah, antusiasme masyarakat luar biasa sekali. Bahkan semalam hujan deras bukannya bubar malah masyarakat jadi makin rame," ucap Riano.
Riano juga mengungkapkan banyak pengunjung datang dari luar kota untuk menyaksikan langsung Lebaran Betawi, di antaranya dari Tegal dan Yogyakarta.
Acara yang menjadi kalender rutin tahunan Pemprov DKI dan Bamus Betawi ini terus didorong sebagai upaya pelestarian dan pengembangan budaya Betawi.
Adapun puncak rangkaian perayaan Lebaran Betawi 2026 dijadwalkan akan ditutup pada malam hari dengan band beang kerok.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menegaskan, perayaan Lebaran Betawi 2026 memiliki peran strategis dalam memperkuat persatuan masyarakat sekaligus meneguhkan identitas budaya Jakarta sebagai kota global yang berakar kuat pada tradisi lokal.
"Lebaran Betawi menjadi momentum penting untuk mengingat kembali jati diri Jakarta. Budaya Betawi adalah identitas utama yang harus terus hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman," kata Pramono saat memberikan sambutan dalam perayaan Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu (11/4).
Lebaran Betawi 2026 berlangsung pada 10–12 April 2026. Tema yang diusung yakni "Lebaran Betawi untuk Jakarta: Memperkokoh Persatuan dalam Merawat Tradisi Menuju Jakarta Kota Global".
Kegiatan diawali malam syukuran yang diisi pengajian, maulid, tahlilan, tausiah, dan doa bersama yang berlangsung pada Jumat pukul 18.30-21.30 WIB.
Pada hari berikutnya, mulai pukul 08.00–23.00 WIB akan diadakan berbagai atraksi budaya seperti ondel-ondel, tanjidor, silat, dan gambang kromong, serta kegiatan seremonial, silaturahmi akbar, hingga hiburan rakyat seperti lenong Betawi dan layar tancep.
Selanjutnya, pada hari terakhir yang akan dimulai pukul 06.00–22.00 WIB diisi kegiatan santai dan interaktif, seperti senam bersama, permainan tradisional Betawi, dongeng rakyat, karnaval budaya, prosesi hantaran, sajian kuliner Betawi, hingga pertunjukan musik.
Masyarakat dapat menikmati aneka kuliner Betawi serta mengunjungi bazar produk lokal sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi pelaku UMKM.





