Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Universitas Jember (Unej) bersama Badan Informasi Geospasial (BIG) menyatakan kesiapannya untuk mengawal implementasi kebijakan satu peta (One Map Policy) di kawasan Tapal Kuda yang meliputi Kabupaten Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Jember, Lumajang, hingga Probolinggo.

"Transformasi dari angka menjadi peta itulah yang kini terus didorong oleh Unej bersama BIG dalam mengawal implementasi One Map Policy," kata pakar pertanian presisi Unej Prof Bayu Taruna Widjaja dalam keterangannya di Jember, Minggu.

Menurutnya, data tidak lagi sekadar deretan angka dalam tabel. Di era yang serba dinamis, data yang bernilai adalah data yang mampu "berbicara" ditampilkan secara visual dan memotret realitas ruang secara presisi.

Di Jawa Timur, lanjut dia, BIG menjalin kerja sama dengan Unej dalam pemetaan dan pengelolaan data geospasial, khususnya di kawasan Tapal Kuda, sehingga kolaborasi itu menempatkan kampus tersebut sebagai mitra strategis dalam mendukung penataan dan penyelarasan data wilayah sebagai dasar perumusan kebijakan pembangunan daerah.

"Pemanfaatan data geospasial di kawasan itu masih perlu ditingkatkan, sehingga membuka ruang bagi Unej untuk berperan dalam mendukung pemerintah daerah dalam pengelolaan data spasial," tuturnya.

Dalam praktiknya, pemerintah daerah tidak selalu harus berkoordinasi langsung dengan Badan Informasi Geospasial, karena kehadiran kampus di Jember itu menjadi penghubung yang membantu penanganan berbagai persoalan spasial di tingkat daerah.

"Pemerintah daerah tidak perlu capek-capek ke BIG. Jadi, cukup dengan Unej saja untuk membantu menyelesaikan permasalahan berkaitan dengan spasial di daerah Tapal Kuda," katanya.

Ia menjelaskan pemanfaatan data geospasial di kawasan Tapal Kuda masih relatif rendah, terutama jika dibandingkan dengan daerah lain seperti Jawa Barat yang pengelolaannya sudah lebih berkembang. Selain itu, masih terdapat kecenderungan bahwa pemerintah daerah mengandalkan kepemilikan peta tanpa memastikan pembaruan dan akurasi data yang digunakan.

"Kami mendorong adanya lompatan inovasi dengan mengubah paradigma penyajian data dari yang semula berbasis tabular menuju pemanfaatan data spasial," ujarnya.

Di ranah keterbukaan informasi publik seperti Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) kampus. Misalnya, data sebaran asal mahasiswa tidak lagi hanya ditampilkan dalam baris angka daerah asal, melainkan diproyeksikan ke dalam peta digital berbentuk poin lokasi atau gradasi warna (heatmap).

Pendekatan berbasis spasial itu dapat memberikan gambaran yang lebih informatif. Data tidak hanya menunjukkan jumlah, tetapi juga posisi dan sebarannya di lapangan. Hal itu dinilai dapat menjadi salah satu bentuk inovasi yang dapat dikembangkan, khususnya dalam meningkatkan kualitas penyajian informasi publik di lingkungan kampus.

Dalam pengembangannya, Unej juga telah memanfaatkan infrastruktur komputasi untuk mendukung pengolahan data, termasuk dalam pengembangan Artificial Intelligence (AI). Teknologi itu digunakan untuk membantu analisis data, seperti identifikasi komoditas pertanian berdasarkan data spasial dan citra lapangan.

"Pemanfaatan AI tersebut telah mulai diterapkan dalam kegiatan pemetaan berbasis geospasial, salah satunya melalui pengembangan pemetaan komoditas kakao di Banyuwangi," katanya.

Dalam praktiknya, pemetaan itu dilakukan dengan mengidentifikasi lokasi perkebunan kakao, luas area tanam, serta kondisi lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman berdasarkan data spasial dan hasil pengamatan lapangan.

Melalui pendekatan itu, data tidak hanya menunjukkan keberadaan komoditas, tetapi juga memberikan gambaran mengenai sebaran dan potensi wilayah secara lebih rinci. Pemetaan itu menjadi langkah awal dalam membangun basis data pertanian yang lebih terstruktur dan dapat dikembangkan lebih lanjut ke depan.