Perundingan AS-Iran di Pakistan Berakhir Buntu, Selat Hormuz Jadi Rebutan Utama
Pipit Maulidya April 12, 2026 09:32 PM

 

SURYA.CO.ID - Upaya perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang digelar di Pakistan berakhir buntu.

Titik berat kegagalan ini bukan sekadar soal diplomasi, melainkan perebutan kendali atas jalur strategis dunia yaitu Selat Hormuz.

Kegagalan ini memicu kekhawatiran baru akan stabilitas ekonomi dan keamanan di Timur Tengah, mengingat posisi Selat Hormuz sebagai urat nadi pengiriman minyak global.

Syarat yang Memberatkan

Dalam pertemuan marathon selama 21 jam tersebut, Iran bersikeras tidak akan melepas pengaruhnya di Selat Hormuz.

Selain itu, penolakan Iran untuk menghentikan program nuklir (pengayaan uranium) menjadi tembok besar bagi delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance.

Mantan Menlu Iran, Mohammad Javad Zarif, menilai AS terlalu memaksakan kehendak sepihak dalam perundingan ini.

Lewat akun X miliknya, Zarif menegaskan:

“Amerika Serikat harus belajar: Anda tidak bisa mendikte syarat kepada Iran. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Belum.”

Baca juga: Alasan Trump Minta Netanyahu Kalem, Mulai Gerah dengan Manuver Israel yang Hambat Damai dengan Iran?

Diplomasi yang Tidak Seimbang

Zarif, yang juga tokoh kunci perundingan nuklir 2015, menekankan bahwa negosiasi hanya akan berhasil jika kedua pihak saling menghargai.

Ia memperingatkan bahwa pola mendikte hanya akan memperpanjang konflik.

“Tidak ada negosiasi, setidaknya dengan Iran, yang akan berhasil jika didasarkan pada ‘syarat kami/Anda’,” tegasnya pada Minggu (12/4/2026).

Mengapa Selat Hormuz Begitu Penting?

Laporan dari Axios menyebutkan bahwa tuntutan Iran untuk mengendalikan Selat Hormuz adalah salah satu poin paling krusial yang ditolak mentah-mentah oleh AS.

Siapa pun yang menguasai jalur ini, secara praktis memegang kunci atas distribusi energi dunia.

Kilas Balik Konflik:

28 Februari: Ketegangan memuncak setelah serangan AS-Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

7 April: Gencatan senjata disepakati melalui mediasi Pakistan.

11 April: Perundingan 21 jam di Pakistan gagal mencapai kesepakatan final.

Hingga saat ini, kondisi di lapangan masih berada dalam status gencatan senjata yang rapuh.

Jika kontak diplomatik tidak segera dilanjutkan, risiko pecahnya kembali konflik terbuka di kawasan tersebut diprediksi akan semakin meningkat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.