SURYA.CO.ID - Sempat bersama-sama dalam proses hukum terkait ijazah eks Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, Dokter Tifa menulis pesan haru untuk Rismon Sianipar.
Dokter Tifa, melalui pesan terbuka di akun X pribadinya, mengungkapkan luka mendalam atas perubahan sikap rekan seperjuangannya tersebut.
Bagi Dokter Tifa, perginya Rismon Sianipar ke kubu Jokowi bukan sekadar urusan perbedaan pendapat, melainkan sebuah kehilangan anggota keluarga.
Dokter Tifa mengenang kembali memori 15 April 2025 di Fakultas Kehutanan UGM sebagai awal mula ikatan mereka.
Menurutnya, perjalanan menuntut kebenaran telah menyatukan mereka lebih dari sekadar rekan profesional.
"Hari itu bukan sekadar hari pertemuan pertama. Hari itu adalah titik mula sebuah perjalanan yang tidak ringan, bahkan mungkin terlalu berat untuk manusia biasa. Dan sejak hari itu, kita bukan lagi sekadar rekan seperjuangan. Kita menjadi tiga sahabat," tulis Dokter Tifa, dikutip Minggu (12/4).
Kekecewaan dojter Tifa terasa begitu nyata karena ia dan Roy Suryo telah menempatkan Rismon dalam posisi yang istimewa.
Keputusan Rismon untuk meminta maaf kepada Jokowi dan mengajukan Restorative Justice (RJ) dirasakan sebagai sebuah pengkhianatan terhadap rasa percaya tersebut.
"Aku dan Mas Roy, menganggapmu bukan hanya partner dalam mencari kebenaran, tapi adik kami sendiri. Ada rasa ingin menjaga. Ada rasa percaya yang tumbuh tanpa dibuat-buat. Ada keyakinan bahwa kita bertiga adalah satu barisan kecil yang tak akan terpisahkan," ungkap Dokter Tifa.
Baca juga: KPK Bongkar Modus Baru Korupsi Bupati Tulungagung Gatut Sunu: Pakai Surat Pernyataan Tanpa Tanggal
Dokter Tifa menekankan bahwa ia tidak menulis pesan tersebut dengan amarah, melainkan dengan rasa sedih yang mendalam.
Ia menyayangkan mengapa Rismon Sianipar memilih menjauh dan justru berbalik memusuhi orang-orang yang dulu berdiri di sampingnya.
"Apakah semua ini sepadan, Rismon? Apakah rasa takut itu lebih besar daripada nilai kebenaran yang dulu kamu perjuangkan dengan penuh keyakinan? Aku tidak menulis ini dengan amarah. Aku menulis ini dengan luka. Karena kehilangan seorang lawan itu biasa. Tapi kehilangan seorang adik dalam perjuangan, itu jauh lebih dalam rasanya," papar Dokter Tifa.
Meski kini Rismon berencana melayangkan somasi terkait penjualan buku mereka, Dokter Tifa tetap mengingatkan bahwa pintu kejujuran selalu terbuka.
Ia berharap suatu saat nanti Rismon akan menoleh ke belakang dan mengingat niat lurus yang pernah mereka bangun bersama.
"Jika suatu hari nanti kamu kembali melihat ke belakang, ingatlah satu hal: Kita pernah menjadi tiga sahabat. Kita pernah berdiri di titik yang sama, dengan hati yang bersih, dan niat yang lurus. Tak akan bisa dihapus oleh apa pun," pungkasnya.