Nekat Terobos Selat Hormuz, Dua Kapal Perang AS Nyaris Hancur Terjebak Cegatan Rudal Iran
Budi Sam Law Malau April 12, 2026 11:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM -- Dua kapal perang perusak Amerika Serikat (AS) yakni, USS Michael Murphy (DDG 112) dan USS Frank E Peterson (DDG 121), nyaris hancur setelah dicegat pasukan IRGC saat mencoba melintasi Selat Hormuz secara ilegal, saat negosiasi kedua negara di Islamabad, Pakistan tidak menemui titik temu, Mingg (12/4/2026).

Iran menuduh AS melakukan taktik tipu muslihat dengan mematikan sistem pelaporan kapal dan menyamar sebagai kapal komersial Oman saat kedua kapal perangnya mencoba menembus Selat Hormaz.

Menurut Iran, aksi kedua kapal perang AS ini di Selat Hormuz, untuk memengaruhi negosiasi di Islamabad.

Baca juga: 71 Delegasi Iran Tiba di Pakistan, Negosiasi AS Memanas di Tengah Trauma Perang

Insiden berakhir dramatis setelah rudal jelajah Iran mengunci target, memaksa kapal AS mundur dalam waktu 30 menit demi menghindari kehancuran total.

Insiden militer nyaris memicu bencana besar di jalur nadi minyak dunia berdasarkan laporan Press TV, Minggu.

Investigasi terbaru mengungkapkan bahwa dua kapal perusak kelas Arleigh Burke milik Angkatan Laut Amerika Serikat berada dalam hitungan menit menuju kehancuran total setelah mencoba menerobos Selat Hormuz yang tengah diblokade, Sabtu (11/4/2026).

Taktik Penyamaran yang Berujung Gagal

Upaya AS melalui kapal USS Michael Murphy (DDG 112) dan USS Frank E. Peterson (DDG 121) disebut-sebut sebagai "aksi propaganda" yang gagal.

Investigasi menyebutkan bahwa armada Amerika mencoba mengelabui pasukan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dengan mematikan sistem pelaporan posisi elektronik.

Bahkan, kapal-kapal perang canggih tersebut mencoba melakukan spoofing identitas atau menyamar sebagai kapal dagang milik Oman yang sedang melakukan transit pesisir.

Mereka memilih rute perairan dangkal yang sangat dekat dengan pantai, berharap kelengahan pasukan Iran di tengah suasana gencatan senjata yang rapuh.

Penentuan Lock-On Rudal Jelajah

Namun, taktik 'kucing-kucingan' ini terendus oleh radar IRGC yang sedang berpatroli di sekitar Fujairah.

Saat armada AS mencapai mulut Teluk Persia, situasi memanas secara instan.

Rudal jelajah Iran dilaporkan telah melakukan lock-on atau mengunci sasaran ke arah kapal perusak tersebut, sementara kawanan drone penyerang mulai terbang mengepung di atas dek kapal.

Baca juga: Negosiasi AS-Iran Buntu, Teheran Pegang Lebih Banyak Kartu dan Lebih Mengerikan daripada Amerika

Melalui saluran internasional Channel 16, operator IRGC memberikan peringatan terakhir yang mencekam.

"Putar balik dan tinggalkan area ini dalam 30 menit, atau kalian akan menjadi target penghancuran," ujar operator IRGC.

Dalam komunikasi radio tersebut, pihak Amerika dilaporkan menunjukkan kepatuhan penuh setelah menyadari bahwa mereka hanya berjarak beberapa menit dari ledakan besar jika nekat melanjutkan haluan.

Semua kapal komersial di sekitarnya pun diperintahkan menjauh radius 10 mil demi menghindari dampak serangan.

Propaganda yang Berbalik Menjadi Bencana

Analis militer menyebut operasi berisiko tinggi ini dirancang untuk memberikan daya tawar bagi negosiator AS yang tengah berunding dengan delegasi Iran di Islamabad, Pakistan.

Sayangnya, kegagalan di lapangan ini justru disebut mempermalukan posisi AS di meja runding.

Investigasi juga mencatat bahwa kecerobohan taktis ini kemungkinan dipicu oleh gejolak internal di militer AS, menyusul pemecatan sejumlah jenderal top oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth baru-baru ini.

Kekosongan kepemimpinan strategis dinilai membuat militer AS lebih mengedepankan aksi propaganda daripada perhitungan risiko yang matang.

Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaqari dari Markas Pusat Khatam al-Anbiya menegaskan Ptoritas transit di jalur strategis Selat Hormuz ini sepenuhnya berada di tangan Iran.

Dengan kegagalan negosiasi di Islamabad dan insiden nyaris hancurnya kapal perang ini, ketegangan di Selat Hormuz kini berada pada level tertinggi sejak dimulainya konflik.

Di sisi lain, klaim ini belum mendapat konfirmasi resmi dari pihak militer AS.

Namun jika benar, insiden ini menambah daftar panjang gesekan militer di kawasan yang selama ini menjadi titik panas geopolitik global.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar sepertiga pasokan minyak dunia.

Setiap eskalasi di kawasan ini tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.