TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU TENGAH - Di tengah tantangan geografis dan keterbatasan fasilitas, seorang perempuan kelahiran pelosok Kabupaten Mamuju Tengah bernama Sukarnil, S.Pd., Gr., membuktikan bahwa semangat Kartini masa kini tidak hanya dirayakan dalam sejarah, tetapi juga dihidupi dalam perjuangan nyata.
Putri daerah asal Desa Salulekbo, Kecamatan Topoyo, wilayah yang masuk dalam kategori tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) ini telah mengabdikan dirinya sebagai tenaga pendidik sejak usia muda.
Ia terlahir sebagai anak keempat dari tujuh bersaudara dalam keluarga sederhana.
Sang ayah seorang petani, sementara ibunya ibu rumah tangga yang gigih menanamkan nilai kerja keras, kejujuran, serta pentingnya pendidikan sebagai jalan mengubah masa depan.
Baca juga: Cerita Sukarnil Guru Honorer Muda di Pelosok Mamuju Tengah
Baca juga: INGAT Sukarnil? Guru SD Viral di Mamuju Tengah, Begini Nasibnya Kini
Sukarnil memulai pendidikan dasar di UPTD SD Negeri Kecil Salulebo, kemudian melanjutkan ke UPTD SD Negeri Kecil Salunusu.
Ia lalu menempuh pendidikan menengah di UPTD SMP Negeri 3 Tobadak, dan menyelesaikan SMA di MA Pondok Pesantren Husnayain Salulekbo.
Di lingkungan pesantren, ia dibentuk menjadi pribadi yang disiplin, mandiri, dan berlandaskan nilai-nilai keagamaan yang kuat.
Minimnya tenaga pendidik di daerahnya, bahkan kerap membuat proses belajar mengajar terhambat karena ketidakhadiran guru, menggerakkan hati Sukarnil untuk mengabdi sebagai pengajar sukarela.
Tanpa mengharapkan imbalan, ia mengajar dengan sepenuh hati.
Di sela kesibukannya, ia tetap melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Terbuka Majene melalui sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Kelas Mamuju Tengah.
Seiring waktu, ia dipercaya menjadi tenaga honorer dengan penghasilan sekitar Rp300.000 per bulan.
Jumlah yang sangat terbatas itu tak menyurutkan niatnya.
"Bagi saya, menjadi pendidik adalah panggilan jiwa," ungkapnya kepada Tribun-Sulbar.com, Senin (13/4/2026).
Dengan kesabaran, ketekunan, dan doa yang tak putus, Sukarnil mengikuti seleksi Aparatur Sipil Negara Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (ASN PPPK) yang sangat kompetitif.
Beruntung, ia dinyatakan lulus dan resmi diangkat sebagai ASN PPPK.
Perjalanan hidup Sukarnil menjadi bukti nyata bahwa dari desa kecil di pelosok negeri, dengan tekad kuat, kerja keras, dan keyakinan kepada Tuhan, setiap mimpi dapat diwujudkan.
Ia percaya, setiap langkah kecil yang dilakukan dengan tulus akan membawa perubahan besar bagi diri sendiri maupun masyarakat sekitar.
Sukarnil adalah salah satu wajah Kartini masa kini: perempuan yang tidak menunggu kemudahan, tetapi menciptakan peluang di tengah keterbatasan. (*)
Laporan wartawan Tribun Sulbar, Sandi Anugrah