Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Peneliti Pusat Studi Energi UGM, Dr Rachmawan Budiarto, menyebut gagalnya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di Pakistan berpotensi memperpanjang krisis energi global.
Ini menjadi tantangan pula bagi Indonesia dalam penyediaan energi.
"Dinamika terbaru di Selat Hormuz berisiko memperpanjang durasi tantangan penyediaan energi global dengan berbagai dampak kompleks lintas sektor lainnya," katanya, Senin (13/4/2026).
Dalam kondisi ini, Indonesia perlu memperjelas strategi sistemik jangka pendek, menengah, dan panjangnya untuk mengurangi ketergantungan impor minyak dari negara lain secara signifikan.
Ia menilai transisi energi menjadi salah satu kunci jawaban komprehensif.
Ia memandang Indonesia memiliki kemampuan untuk swasembada energi.
Dengan catatan Intervensi terhadap teknologi, khususnya industri energi perlu diperkuat.
Namun dalam jangka pendek, hal pertama yang perlu dilakukan pemerintah untuk menghadapi krisis energi adalah penghematan konsumsi minyak.
Baca juga: Mediasi As-Iran Buntu, Pakar UMY Sebut Ancaman Trump Sebagai Diplomasi Koersif
Di samping itu, pemerintah perlu segera mendapatkan pengganti impor minyak yang selama ini berasal dari negara -negara kawasan konflik.
"Perlu juga mendiversifikasi sumber pasok impor minyak. Tapi tidak berasal dari satu negara saja. Begitu kita didominasi oleh satu negara, dua negara, itu nggak sehat. Disrupsi pada satu titik bisa berakibat fatal," ujarnya.
Ia menambahkan lawatan Presiden Prabowo ke Rusia juga menjadi upaya melakukan diversifikasi impor minyak.
Sebelumnya, Indonesia mengimpor minyak dari Amerika Serikat.
Di sisi lain, lawatan Presiden Prabowo cukup baik dalam memenuhi prinsip non blok.
"Perimbangan pasok substitusi dari Rusia dan USA akan baik," imbuhnya. (*)