Kemenkes Sebut Insiden Bayi Nyaris Tertukar Dipicu Keputusan Titip Bayi, Nina: Ini Memutarbalikkan
Ignatia Andra April 13, 2026 06:32 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Pernyataan pihak Kemenkes terhadap kasus bayi nyaris tertukar di RSHS Bandung masih disoroti.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, sebelumnya menyampaikan bahwa insiden tersebut terjadi karena adanya penitipan bayi kepada tenaga kesehatan.

"Tenaga kesehatan di situ kan memang tugasnya tidak hanya menangani bayi secara khusus, dia di poli anak dan memang akhirnya pekerjaannya pun jadi agak terganggu dengan ada penitipan tersebut," katanya.

"Kemudian ketika ibu tersebut kembali untuk mengambil anaknya, entah karena nakes tersebut lupa atau karena lain hal, sehingga tidak sengaja dititipkan ke orang lain," ujarnya.

Aji juga menegaskan bahwa tidak ada unsur kesengajaan atau niat jahat dalam kejadian tersebut.

Apa tanggapan Nina terhadap pernyataan Kemenkes?

Nina Saleha, ibu dari bayi yang nyaris tertukar merasa sangat kecewa saat mendengarkan pernyataan pihak Kemenkes.

Nina Saleha (27) ibu dari bayi tersebut menilai penjelasan itu tidak sesuai dengan fakta yang ia alami.

"Ini mah malah memutarbalikkan," tulis Nina Saleha melalui unggahan di media sosial dikutip TribunJatim.com dari TribunJabar.id, Senin (13/4/2026).

Ia juga meminta dukungan publik agar kasus ini terus dikawal hingga tuntas.

"Bantu up teman-teman, biar sampai lagi ini ke Pak Dedi biar di usut sampai benar-benar tuntas ini, RSHS dan Dinkes (Menkes) enggak bener ini ya Allah," kata Nina.

Kasus bayi nyaris tertukar di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung terus menjadi sorotan publik.

Ibu bayi, Nina Saleha (27), menyampaikan respons atas pernyataan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang dinilai tidak sesuai dengan kejadian yang ia alami.

Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu, 8 April 2026, saat Nina hendak menjemput bayinya yang dirawat akibat sakit kuning sejak beberapa hari setelah lahir.

Namun, situasi berubah menjadi mengejutkan ketika ia mendapati bayinya berada di pangkuan ibu lain.

Bagaimana kronologi versi Nina?

Nina menjelaskan bahwa sehari sebelum kejadian, ia mendapat kabar bahwa bayinya sudah diperbolehkan pulang.

“Saya dapat kabar hari Selasa kalau anak saya sudah bisa pulang hari Rabu. Tapi saya setiap hari kesana, datang untuk memberikan ASI dan menjenguk bayi,” ujarnya.

Pada hari kepulangan, ia datang sejak pagi dan menunggu proses administrasi yang cukup lama.

Di sela menunggu, ia sempat berbincang dengan ibu pasien lain.

Karena suasana rumah sakit yang sibuk, Nina dan suaminya sempat keluar untuk mencari makan.

Namun, ia merasakan firasat tidak enak dan memutuskan kembali ke ruang perawatan.

“Ketika mau makan saya mendapat firasat, seakan ada bisikan di telinga untuk segera ke atas melihat bayi, jadi saya langsung ke atas dan memilih nggak jadi makan,” katanya.

Setibanya di lokasi, ia terkejut melihat bayinya berada di pangkuan ibu lain.

“Saya lihat selimutnya kok seperti punya anak saya. Tapi saya belum langsung curiga, sampai saya cek ke inkubator dan ternyata anak saya sudah tidak ada,” katanya.

Ia kemudian memastikan bahwa bayi tersebut benar anaknya.

“Pas saya lihat wajahnya, saya langsung yakin itu anak saya. Saya tarik dan bilang, Itu anak saya,” ujarnya.

Apa yang menjadi kejanggalan dalam kasus ini?

Nina menyoroti sejumlah hal yang dianggap janggal, salah satunya pelepasan gelang identitas bayi sebelum prosedur kepulangan selesai.

“Harusnya kan ada prosedur, ada surat pulang. Ini belum ada, tapi anak saya sudah dipegang orang lain. Gelangnya juga sudah diputus," keluh Nina.

Ia juga menilai adanya kelalaian dalam sistem pengawasan di rumah sakit.

“Kalau saya tidak ada, harusnya bayi diamankan dulu, bukan langsung diberikan ke orang lain. Kalau saya telat sedikit saja, mungkin anak saya sudah dibawa pergi,” tuturnya.

Selanjutnya Nina akan lakukan apa?

Nina menyatakan belum berdamai dengan pihak rumah sakit dan memilih menempuh jalur hukum dengan menunjuk pengacara.

"Perlu saya sampaikan bahwa saya belum menyatakan berdamai dengan pihak rumah sakit," tegasnya.

Ia juga menunjukkan surat keterangan sakit sebagai bukti bahwa dirinya masih dalam proses pemulihan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.