Ketua Hanura Sulsel Soroti Dampak Geopolitik Global, Ajak Masyarakat Hidup Hemat
Muh Hasim Arfah April 13, 2026 08:06 PM

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Ketua DPD Partai Hanura Sulawesi Selatan (Sulsel), Andi Muhammad Bau Sawa Mappanyukki, menyoroti perkembangan geopolitik dan geostrategi global yang dinilai berdampak langsung hingga ke tingkat daerah.

Apalagi, Konflik di Timur Tengah yang mempengaruhi harga minyak mentah dan gas alam.

Ia mengatakan kondisi dunia saat ini saling terhubung, sehingga tidak ada satu negara pun yang dapat berdiri sendiri tanpa kerja sama internasional.

"Mustahil kalau bilang ada negara bisa hidup dari kekayaan alamnya sendiri atau tidak mau berdiri. Tidak ada, tidak ada. Kita memang harus di dalam lingkungan global ini, harus selalu bekerja sama, sering,” katanya kepada Tribun Timur di Kantor Hanura Sulsel, Jl Kumala, Senin (13/4/2026).

Bahkan, kata dia, pada zaman kemerdekaan Indonesia dulu, para pejuang harus mendapatkan pengakuan dari negara-negara lainnya.

“Ingat sejarah kita zaman mau merdeka, kalau bukan karena bantuan-bantuan dari saudara-saudara kita yang ada di sana, masih kemarin rame juga itu dipertentangkan, bahwa dulu yang pertama yang menyuarakan Indonesia ini supaya merdeka di tahun 1944 itu adalah orang Palestin. Itu jelas sekali itu," ujarnya.

Baca juga: Diskusi Santai, Tribun Timur dan Hanura Sulsel Bahas Isu Politik

"Seorang yang berduit, orang Palestin yang ada di Arab Saudi, punya duit, bahkan memberikan bantuan kepada utusan kita yang mencari dukungan-dukungan politik, dukungan-dukungan. Nah itu, itu orang Palestina," tambah dia.

Menurutnya, kondisi global saat ini dipastikan akan berdampak pada Indonesia, termasuk dalam sektor energi dan kebutuhan pokok.

"Bayangin pak. Kalau minyak itu, kita kan, minyak kita kan juga mengambil dari sana. Pertamina kan, coba dengar tuh, kalau gak lolos dari situ, bayangin harga minyak di Indonesia akan melonjak, seperti di Amerika, hampir 100 persen naiknya,” katanya.

Meskipun beberapa negara memiliki cadangan energi besar, kata mantan Pangdam TNI XIV/Hasanuddin itu, pertimbangan stabilitas ekonomi tetap menjadi faktor utama dalam menentukan kebijakan.

“Padahal Amerika itu punya cadangan BBM yang banyak, berlimpah. Mungkin sampai 50 tahun masih ada, tapi kenapa? Karena dia mempertimbangkan kesimbangan ekonomi, baik secara nasionalnya, maupun regional, maupun internasionalnya," kata dia.

Meskipun Indonesia memiliki sumber daya yang melimpah, kata pria dengan julukan Panglimata itu, namun masih belum mampu untuk menyuplai dari negeri sendiri.

"Tapi harus kita ngambil, makanya akan dampaknya itu akan ada terhadap kita. Itu baru minyak," ungkapnya.

Selain energi, ia juga menyinggung ketergantungan terhadap impor bahan lain seperti pupuk yang berbahan dasar gas.

“Belum lagi yang lain-lainnya seperti, contohnya pupuk. Pupuk kita ini, itu kita ngambil dari sana, gas. Kalau mengandalkan kita pun sendiri, gak mampu,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya peran pemimpin dunia dalam menjaga stabilitas global dan menciptakan perdamaian.

"Ingat, negara kita negara sejarahnya berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang 1945. Kita ini harus berada di, mendukung negara-negara yang tertindas. Kita ini kan negara-negara non-blok. Kita harus berjuang kepada negara-negara yang tidak beraliansi kemana siapapun, kekuatan apapun. Tapi kita, artinya memperjuangkan,” jelasnya.

Ia juga menyinggung peran Presiden pertama Indonesia dalam diplomasi global yang mampu memperjuangkan hal-hal urgensi di Indonesia.

"Tapi karena itulah hebatnya pemimpin kita, Bung Karno, untuk mensiasati dunia saat itu, sama dengan segini, Pak Prabowo, pemimpin kita ini, yang terpilih secara demokratis, pemimpin presiden kita ini, sudah berusaha semaksimal mungkin agar Indonesia punya peran penting di dalam kancah global ini,” kata dia.

Ia meminta kepada masyarakat, khususnya di Sulawesi Selatan, untuk mulai menerapkan pola hidup hemat dalam menghadapi ketidakpastian global.

"Energi kita harus hemat. Di beberapa daerah, para pejabatnya, para ininya, mau kemana, cuma naik sepeda. Bahkan ada yang jalan kaki,"katanya.

"Tidak perlu harus keluar jalan kemana itu, tidak usah pakai kendaraan yang menggunakan BBM. Jalan kaki saja atau naik sepeda, ini diharapkan kemana," tambahnya.

Terakhir, kata dia, masyarakat diimbau agar tidak perlu membeli bahan-bahan hingga berlebihan apalagi sampai menimbun.

"Mulai sekarang masyarakat, mungkin kalau belanja itu, jangan belanja yang seperti yang orang bilang, memborong sesuatu, seolah-olah kita akan mengalami krisis. Tidak, tidak, tidak. Jadi semampunya, secukupnya, tapi kita itu tadi, menghemat," jelasnya.

"Kemudian, satu lagi, sebagai bangsa Indonesia yang beriman dan bertakwa, kita selalu mendekatkan diri kepada yang mahapuasa,” kata dia.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.