Cerita Pertemuan Majalah INTISARI dengan Ibu Inggit Garnasih Beberapa Bulan Sebelum Wafat
Moh. Habib Asyhad April 13, 2026 08:34 PM

Majalah INTISARI pernah punya kesempatan untuk menjenguh Ibu Inggit Garnasih beberapa bulan menjelang kematiannya. Inggit adalah sosok penting di balik perjuangan Bung Karno di masa pergerakan nasional.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Inggit Garnasih, sosok penting dalam perjalanan pergerakan nasional Bung Karno, meninggal dunia pada 13 April 1984. Beberapa bulan sebelum dia wafat, Majalah INTISARI berkesempatan bertemu dengannya.

Kisah pertemuan itu termaktub dalam sebuah artikel yang tayang di Majalah INTISARI edisi Maret 1984 dengan judul "Berapakah Usia Ibu Inggit?"

===

Ternyata tidak mudah ditentukan dengan pasti. Apakah umur mantan istri Bung Karno itu betul hampir seabad? Yurinda Hidayat mengunjunginya permulaan bulan Januari 1984 dan menghubungi dokter-dokter yang pernah merawat Ibu Inggit beberapa tahun terakhir dalam hidupnya.

“Jadilah lalaki lalanang jagat. Jangan kalah, jangan mundur dan jangan putus asa. Biar, tidak apa sebentar di penjara, tidak akan ada artinya penderitaan ini dibandingkan dengan cita-cita besar yang sedang Koes perjuangkan.”

Itulah kata-kata pengobar semangat yang selalu didengungkan kepada Bung Karno di masa perjuangan oleh Ibu Inggit Garnasih, ketika dia menjadi istri Bung Karno, apabila Bung Karno ada dalam keadaan lelah dan frustrasi akibat tekanan Belanda. Bahkan ketika Bung Karno mulai ragu apakah perjuangannya akan berhasil dan dapat diteruskan, karena terlalu lama dalam pembuangan Belanda, Ibu Inggit tidak hentinya meyakinkan bahwa dia percaya benar, suatu hari kelak Bung Karno akan menjadi orang yang memegang peranan penting, akan menjadi pemimpin bangsa Indonesia.

"Tetap kuat jangan kalah, Koes sedang merintis hari depan bangsa. Tidak apa kita dibuang sekarang, nanti kita akan merdeka," ujarnya penuh yakin. Koesno, nama kesayangan dan panggilan Bung Karno bagi Ibu Inggit, kembali bersemangat mendengar ucapan istrinya..

Namun, wanita yang mampu mengeluarkan kata-kata perkasa pengobar semangat bagi Bung Karno di masa perjuangan dulu, kini (Januari 1984) tidak dapat lagi bicara. Penyakit tua yang dideritanya tiga tahun belakangan ini, telah merampas semangat hidupnya.

Bahkan dalam enam bulan terakhir, Ibu Inggit hanya tergolek diam di atas tempat tidurnya, di rumahnya di Jl. Ciateul, Bandung. Matanya terpejam terus, bicaranya lenyap. Seakan tidak ada kontak lagi dengan dunia sekelilingnya. Hanya napasnya yang turun naik, yang menjadi tanda ada kehidupan dalam tubuh tua yang perkasa itu.

Kisah gigi palsu

Dalam tidurnya yang panjang itu, Ibu Inggit tampak tenang. Selimut membungkusnya sebatas dada, kebaya yang tersembul tampak dipeniti rapi. Demikian pula seprai, sarung bantal dan gulingnya bersih.

Tempat tidurnya yang diletakkan di bawah jendela kamar selalu mendapat sinar matahari sepanjang hari. Ibu Inggit dirawat sebaik-baiknya oleh anak angkatnya, Ratna Djuami, dan Mak Irah, pembantu dan pendamping setianya sejak tahun 1943.

"Sejak enam bulan terakhir ini, Ibu Inggit hampir tidak pernah membuka mata dan bicara lagi. Beliau tampak pasrah sekali," tutur Tito Harmaen, cucu Ibu Inggit dari Ny. Ratna Djuami Asmara Hadi.

Tidak pernah lagi minta makan dan minum atau minta dibantu buang air, dia baru makan bila disuapi, itu pun sulit sekali ditelannya. Tampaknya Ibu Inggit sudah kembali seperti bayi. Namun demikian, sisa kecantikannya di masa muda, secara samar masih kelihatan.

Wajahnya yang langsat, tidak terlalu banyak keriput seperti layaknya orang tua seusia dia. Di sekitar pipinya tidak tampak kerutan dalam, hanya di sekitar rahangnya tampak kempot, karena giginya sudah tanggal semua.

"Dokter minta agar gigi palsunya dilepas," ucap Ratna Djuami. Gigi palsu Ibu Inggit punya riwayat sendiri. Ketika ia dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung, pada bulan Oktober/November 1982, gigi palsu itu sempat hilang.

Padahal sudah disimpan baik-baik. Semua orang ikut mencari, namun tidak ketemu. Gigi palsu itu kemudian dianggap sudah lenyap.

Tapi ketika Ibu Inggit kembali ke rumahnya, tahu-tahu gigi palsu itu sudah ada di atas lemari pakaiannya, terbungkus sapu tangan. "Entah siapa yang mengembalikan." kata Ratna.

Keluar masuk RS

Dua kali Ibu Inggit dirawat di RSHS. Yang kedua kalinya Ibu Inggit masuk kembali ke RSHS tanggal 14 Desember 1982 sampai 4 Januari 1983.

Ketika itu ia sudah dinyatakan "koma", siang malam ia diawasi oleh team dokter RSHS dan dijaga para perawat. Kemudian keadaannya agak membaik, namun kesadarannya tidak kembali.

"Kecil kemungkinan kesadarannya pulih kembali. Beliau menderita penyakit tua, yang dibutuhkan sekarang ini adalah pcrawatan bukan pengobatan," ucap dr. Eko Antono, ahli penyakit dalam RSHS yang telah merawat Ibu Inggit sejak tahun 1979.

Menurut dr. Eko, pertengahan 1979 kesehatan umum Ibu Inggit mulai terganggu akibat penyakit tua. Bahkan akhir 1979 ia hampir lumpuh akibat serangan trombosis ringan di otak. Masa krisis saat itu dapat diatasi dan kesehatan umum Ibu Inggit relatif pulih kembali, hanya pendengaran dan penglihatannya yang mulai berkurang.

Menurut Prof. Soegana Tjakrasoedjatma, seorang ahli penyakit mata senior di Bandung yang merawat mata Ibu Inggit sejak tahun 1978, dalam tahun itu dua kali Ibu Inggit menjalani operasi mata. Yang pertama, operasi terpaksa dilaksanakan karena mata Ibu Inggit ketika itu mengalami glaukoma.

Namun beberapa bulan kemudian, Ibu Inggit mengeluh penglihatannya kabur. "Menurut pemeriksaan pada waktu itu, Ibu Inggit menderita rabun mata atau katarak. Terpaksa operasi dilakukan lagi," cerita Soegana. Namun setelah dioperasi, perbaikan penglihatannya hanya sedikit, cukup untuk bergerak di dalam rumah saja.

"November 1979, Ibu Inggit kembali mengeluh. Kali ini beliau merasa nyeri pada mata kirinya," tutur Soegana. Ternyata saat itu Ibu Inggit mengalami kerusakan mata total, sehingga mata kirinya tidak mungkin melihat kembali. "Dari gejalanya, kemungkinan besar akibat kekurangan vitamin A. Hal itu terjadi saya kira karena Ibu Inggit banyak pantang makanan, banyak puasa," tambah Soegana.

Mengalami kebutaan itu, Ibu Inggit terpukul sekali. Kala itu jika diwawancarai, kesedihannya karena mengalami kebutaan selalu menjadi topik utama pembicaraannya. "Apalagi yang mau ditulis tentang Ibu. Sekarang Ibu hampir buta. Kalau ada yang bisa mengembalikan penglihatan Ibu, baru boleh bicara," ujarnya pada awal wawancara dulu.

Ketika akhir 1979 kabar tentang sakitnya Ibu Inggit tersiar luas, berduyun-duyun sepanjang hari tamu menjenguknya. Padahal untuk memulihkan kesehatan umumnya kala itu, istirahat total sangat dibutuhkan.

Sulitnya lagi, Ibu Inggit saat itu masih dapat berbicara lancar, sebab itu setiap tamu yang datang dilayani dan dibawanya bercerita. Terpaksa dr. Eko menempelkan pengumuman di pintu kamarnya, "Tidak boleh menerima tamu. Harus istirahat".

Sampai hari ini pengumuman itu masih tertempel di pintu kamar Ibu Inggit. Tapi meskipun sekarang masih cukup banyak tamu menjenguk, tampaknya sudah tidak lagi mengganggu istirahat Ibu Inggit. Semua yang datang hanya dapat melihatnya saja, tidak lagi dapat berbicara dengannya.

"Dewasa ini Ibu Inggit menderita dementia senilis atau penurunan fungsi otak akibat usia tua. Sedangkan fungsi jantungnya relatif baik, karena itu beliau masih bertahan sampai saat ini," kata dr. Dede Gunawan, ahli penyakit saraf RSHS. Bersama dr. Eko Antono dan dr. Achmad Toha Muslim, dia ditunjuk sebagai tim dokter yang mengawasi dan merawat kesehatan Ibu Inggit oleh pimpinan RSHS, ketika Ibu Inggit dirawat di RSHS, Bandung.

Seratus tahun?

Semua dokter yang memeriksanya telah sepakat, penyakit yang diderita Ibu Inggit saat ini adalah akibat usia lanjut. Lalu berapa usia Ibu Inggit sesungguhnya?

"Sulit untuk memastikan berapa usia Ibu Inggit yang tepat. Karena seperti umumnya orang tua dulu, catatan kelahiran Ibu Inggit tidak ada. Kami hanya tahu Ibu Inggit dilahirkan pada hari Sabtu. Yang dapat dijadikan pegangan, mungkin perkiraan umur ketika menikah dengan Bung Karno di tahun 1923. Ketika itu selisih umur diperkirakan sekitar 12 sampai 13 tahun lebih tua Ibu Inggit," tutur Ratna.

Ibu Inggit sendiri ketika masih sehat di tahun 1979, jika ditanya mengenai usianya selalu mengaku berumur 95 tahun. Maka apabila berpegang pada pengakuan Ibu Inggit itu, berarti pada tahun ini Ibu Inggit genap berusia seratus tahun.

Sedangkan dalam kartu penduduknya, tanggal lahir Ibu Inggit tercatat 17 Februari 1888 di Bandung. "Bung Karno sendiri pernah menyatakan, pada tahun 1941 usia Ibu Inggit mencapai 53 tahun," kata Ratna Djuami. Jadi apabila pertanyaan Bung Karno yang dipegang, usia Ibu Inggit saat ini baru sekitar 94 tahun.

Perkara umur ini menjadi lebih kacau lagi apabila melihat pada catatan dalam surat nikah Ibu Inggit dengan Bung Karno di tahun 1923. Dalam surat nikah itu dicatat usia Ibu Inggit baru 23 tahun, sedangkan umur Bung Karno disebutkan 24 tahun. Entah juru tulis kantor agama saat itu yang salah mencatat, atau memang ada pertimbangan lain, tidak diketahui.

Dalam surat nikah tersebut dituliskan, Pejabat Kantor Agama (Chalifah) telah menikahkan R. Soekarno, penduduk Desa Kejaksan/District Kota/Afdeeling Bandung, pekerjaan murid dan berusia 24 tahun dengan Nyi Garnasih janda 4 bulan, penduduk Kejaksan/District Kota/Afdeeling Bandung, berusia 23 tahun. Bertindak sebagai wali pernikahan bagi Ibu Inggit yaitu M. Nata, kakak laki-lakinya.

"Namun saya yakin benar, usia Ibu Inggit dewasa ini sudah lebih dari 92 tahun, karena dia lebih tua dari saya ketika menjadi istri Bung Karno," tutur H.A. Ghany Aziz (92 tahun), kenalan Bung Karno sejak masa perjuangan kemerdekaan dulu.

Bedak dan jamu

Pada masa mudanya, konon Ibu Inggit terbilang "bunga"-nya kota Bandung. Matanya bulat dan kulitnya halus cemerlang. Bukan hanya kaum pria yang terpikat bila melihatnya, kaum wanita pun banyak yang penasaran ingin tahu apa rahasia kecantikannya.

"Sejak masih gadis Ibu merawat kulit dengan bedak dan jamu-jamuan buatan sendiri," kata Ibu Inggit ketika diwawancarai awal 1980. Semula dia membuat bedak dan jamu untuk dipakainya sendiri.

Pada waktu mengikuti Bung Karno dalam pembuangan, Ibu Inggit menekuni pembuatan jamu dan bedak sebagai pengisi waktu. Banyak ramuan yang dicobanya pada waktu itu, karena alam di tanah pembuangan memberinya bahan baku yang berlimpah. Ia mencari ramuan baru untuk bedak dan jamu-jamu penghalus kulit serta jamu yang berkhasiat lainnya.

Setelah dicerai oleh Bung Karno dan kembali ke Bandung, ternyata kemahirannya membuat jamu serta bedak "dingin" menjadi sumber penghasilannya. Terutama sebelum ia mendapat tunjangan dari Bung Karno dan pemerintah.

"Dari mulut ke mulut, akhirnya langganan bedak dan jamu-jamu Ibu cukup banyak," tuturnya empat tahun lalu. Memang jamu dan bedak dingin Ibu Inggit cukup terkenal, mungkin karena kaum wanita tertarik memakainya setelah melihat kecantikan dan kulit Ibu Inggit.

"Tapi meskipun butuh uang pada tahun-tahun pertama setelah perceraian, membuat bedak dan jamu sebetulnya bukan sekedar untuk mencari nafkah. Selain mencari kesibukan, bedak dan jamu itu dapat menjadi jembatan perjumpaan Ibu dengan masyarakat. Dengan alasan hendak membeli bedak atau jamu, banyak orang yang berani bertemu Ibu," tuturnya kala itu.

Dengan dibantu oleh Mak Irah dan Bi Ikah, pendamping setianya, ia menyibukkan diri membuat jamu dan bedak dingin.

"Tapi apabila hatinya gundah atau gelisah, Ibu Inggit lebih banyak bersujud di tikar sembahyang. Beliau memang pemeluk agama Islam yang taat. Ia pasrah sekali dengan keadaan yang dideritanya. Padahal, tentu sakit hatinya menerima kenyataan harus berpisah dari orang yang dicintainya, namun hampir tidak pernah ia mengeluh. Bahkan ia selalu berdoa bagi keselamatan Bung Karno, berdoa agar Bung Karno berhasil meraih cita-citanya," tutur Ratna Djuami.

Cinta Ibu Inggit memang tulus dan dalam. "Ibu menikah dengan Koesno, bukan sekedar ingin menjadi istrinya, tapi ingin menjadi ‘pamajikannya’. Tempat ia pulang, tempat ia memperoleh kasih sayang," demikian tuturnya kepada Prof. Soegana ketika selesai dioperasi mata tahun 1978.

Bung Karno sendiri pernah mengaku, Ibu Inggit adalah sumber ilhamnya, pendorong dan pemberi semangat saat dibutuhkan. Ia juga berperan sebagai ibu, kekasih dan kawan setia di kala susah. Dengan Ibu Inggit mendampinginya, Bung Karno melangkah maju memenuhi panggilan cita-citanya.

Di dalam rumah Ibu Inggit, potret Bung Karno tergantung di mana-mana. Bahkan di ruang tengah, tergantung potret Bung Karno dalam ukuran besar. Senyum khas yang terpancar dari potret itu, seakan menghangatkan ruangan tengahnya.

Di atas tempat tidur Ibu Inggit, tergantung potretnya berdampingan dengan potret Bung Karno. Ada pula potret Bung Karno yang dilukis di piring kecil, dengan tulisan "Cintailah Kemerdekaan" serta tanda tangan Bung Karno di bawahnya. Di setiap sudut rumah Ibu Inggit, senyum dan sorot mata Bung Karno terpancar.

Namun meski demikian cintanya Ibu Inggit kepada Bung Karno, ia tidak bersedia dimadu. Ketika Bung karno berniat menikah lagi, ia memilih bercerai. Padahal Bung Karno, anak angkatnya Ratna Djuami serta menantunya Asmara Hadi, menyarankan agar dia tidak bercerai.

"Ibu tidak mau dimadu, tidak baik, menyusahkan semuanya," ucap Ibu Inggit empat tahun lalu ketika diwawancarai. Menurutnya, ia tidak mau menyusahkan semua pihak, terutama Bung Karno. Dia rela bercerai, agar Koesno dapat menikah dan memperoleh keturunan.

Hampir sembilan belas tahun ia menjadi istri Bung Karno, tapi tidak berhasil memberinya keturunan: Mereka mengambil anak angkat, Ratna Djuami dan Sukarti.

Hampir lupa memenuhi janji

Sesudah bercerai, Ibu Inggit kembali ke Bandung. Yang menyambut Ibu Inggit di Bandung, antara lain bekas suaminya, H. Sanusi. "Pak Sanusi memang laki-laki berhati emas," komentar Ibu Inggit tentang bekas suami pertamanya itu.

Di kota kelahirannya, Ibu Inggit ditampung di rumah H. Anda, kenalan lama Bung Karno. Beberapa bulan ia menumpang di rumah H. Anda, kemudian dia pindah ke Jl. Lengkong Tengah 16, di rumah sewaan.

"Masa itu memang masa terberat bagi Ibu Inggit," kata Ratna Djuami. Namun Ibu Inggit tidak larut menyesali nasibnya. Ia bangkit dan berusaha mencari nafkah untuk menghidupi dirinya dan Mak Irah.

Kepandaian membuat jamu dan bedak dingin menjadi salah satu sumber penghasilannya. "Bung Karno hanya memberi tunjangan resmi sampai sekitar tiga bulan setelah bercerai," kata Ratna. Selanjutnya, keperluan Ibu Inggit diurus oleh Pak Winoto Danu Asmoro. "Pak Winoto ini yang memperjuangkan kepentingan Ibu Inggit kepada Bung Karno," tambah Ratna.

Pada suatu kesempatan, sekitar tahun 1951, Ratna Djuami yang tetap baik hubungannya dengan Bung Karno, meminta agar Bung Karno membelikan rumah untuk Ibu Inggit. "Bung Karno marah kepada saya waktu itu. Tidak, katanya, apa kau kira Papi punya duit," kata Ratna menirukan Bung Karno.

Padahal Ratna berani mengemukakan permohonan itu, karena mengingat pada waktu perceraian Bung Karno pernah menandatangani suatu perjanjian yang disaksikan oleh Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai H. Mas Mansoer, yang berbunyi bahwa Bung Karno akan membelikan rumah dengan pekarangan serta isinya bagi Ibu Inggit.

Dalam perjanjian itu, disebutkan pula Bung Karno akan membayar utangnya kepada Ibu Inggit sebesar Rp2.000,00 kontan setelah perceraian dan sisanya Rp4.280,00 akan diangsur Rp50,00/bulan selama sepuluh tahun.

"Saya yakin bukannya Bung Karno tidak ingat pada janjinya, tapi Bung Karno tidak pernah punya uang pribadi banyak. Lagipula Bung Karno tidak mau diberi tahu orang tentang kewajibannya, jadi dia pura-pura marah. Sebab setelah saya pulang ke Bandung, datang utusannya menyampaikan agar Ibu Inggit dan saya memilih rumah yang mana yang mau dibeli," tutur Ratna panjang.

Pilihan justru jatuh pada rumah di Jalan Ciateul, Bandung.

Rumah ini semula setengah tembok, kamar mandinya terpisah dari kamar tidurnya. Ketika pada tahun 1978, Ibu Inggit pernah jatuh di kamar mandi.

Gubernur Jabar H. A. Kunaefi dan nyonya yang menyempatkan diri menjenguk Ibu Inggit ketika itu, menganggap perlu membangun kamar mandi di dalam kamar Ibu Inggit. Tahun itu juga Pemda Jabar memperbaiki rumah Ibu Inggit.

Seluruh bangunan dijadikan bertembok dan kamar mandi khusus untuk Ibu Inggit dibangun di kamar tidurnya. Dibangun pula beranda belakang untuk ruang kerja Ibu Inggit membuat jamu dan bedak: Tirai-tirai dan perabotan kamar diganti baru semuanya.

Setelah belasan tahun Ibu Inggit hidup prihatin dan membanting tulang mencari nafkah, keadaan sedikit berubah pada tahun 1961. Dia menerima Tanda Kehormatan Satyalancana Perintis Pergerakan Kemerdekaan, yang piagamnya ditandatangani oleh Bung Karno selaku Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI.

Dengan demikian ia berhak menerima tunjangan sebagai, Perintis Kemerdekaan. "Sekarang tunjangan itu Rp 75.000,00/bulan. Selain itu, Pemda Jabar juga memberikan tunjangan rutin sebesar Rp 150.000,00/bulan. Ditambah dengan sumbangan rutin dari Mas Agung dan sebuah majalah wanita dari Jakarta, Ibu Inggit tidak pernah kesulitan keuangan lagi," tutur Ratna.

Ketemu lagi

Ibu Inggit wanita sederhana yang pernah belajar di madrasah, mempunyai cita-cita yang sejalan dengan Bung Karno. "Dia ingin melihat bangsanya merdeka, bahkan setelah merdeka Ibu Inggit selalu tertarik pada masalah kesejahteraan rakyat," kata Ratna.

Menurut penuturan Ratna, Ibu Inggit pernah memesan kepada Bung Karno agar jangan melupakan rakyat. "Sekitar tahun 1955 Ibu Inggit sakit, kedua belah kakinya bengkak, mungkin kekurangan vitamin B, karena banyak berpantang makan," tutur Ratna.

Ketika Bung Karno ke Bandung, Ratna yang dipanggil Bung Karno menemuinya dan mengutarakan tentang sakitnya Ibu Inggit. Tidak lupa dia meminta agar Bung Karno mau menjenguk Ibu Inggit. "Seperti biasa dia tidak langsung menjawab," kata Ratna.

Tapi setelah Ratna pulang, ajudan Bung Karno meneleponnya dan menyampaikan Bung Karno mau datang menjenguk Ibu Inggit sekitar pukul 4 sore. "Saya tidak bisa melupakan saat pertemuan itu berlangsung," cerita Ratna.

Ibu Inggit yang tidak tahu siapa yang akan berkunjung, diminta berdiri menyambut di muka pintu rumahnya. "Baik Bung Karno maupun Ibu Inggit sama-sama tertegun ketika berjumpa," tambah Ratna.

"Nggit sakit apa?" kata Ratna mengulangi sapaan Bung Karno kepada Ibu Inggit pada pertemuan tersebut.

"Ah cuma sakit rakyat," jawab Ibu Inggit seperti ditirukan Ratna.

"Kenapa kakinya bengkak?"

"Tidak tahu," jawab Ibu Inggit.

"Itu karena Inggit kurang vitamin. Harus banyak makan dan jaga kesehatan ya, Nggit," tutur Ratna mengulangi percakapan Bung Karno dan Ibu Inggit ketika itu.

Menurut Ratna selanjutnya pembicaraan berkisar tentang Taufan, anak Bung Karno yang bersama ibunya, Ny. Hartini, mendampingi Bung Karno pada pertemuan tersebut.

"Tidak lama Bung Karno lalu meminta Ibu Inggit kembali ke kamarnya untuk istirahat. Bung Karno sendiri yang memapahnya masuk. Dalam kamar Ibu Inggit berpesan, meskipun sekarang Bung Karno telah menjadi pemimpin bangsa, tapi jangan sampai melupakan rakyat kecil. Perjuangkan kesejahteraan rakyat kecil, katanya. Sebab justru rakyat kecil yang dulu mendukung perjuangan kemerdekaan," tutur Ratna.

Bung Karno menurut Ratna, berjanji akan memenuhi pesan Ibu Inggit. Setelah pertemuan itu, ada beberapa kali lagi Bung Karno menjenguk Ibu Inggit.

Titip Mak Irah

"Ketika mulai sakit-sakit, Ibu Inggit sering menitip Mak Irah. Dia tampak khawatir Mak Irah tidak ada yang mengurus bila terjadi apa-apa dengannya," tutur Tito Harmaen. Ibu Inggit memang sayang pada Mak Irah yang telah mendampinginya sejak tahun 1943.

Dia bahkan meminta Tito, cucunya, meneruskan usaha jamu dan bedaknya. "Usaha itu dimaksudkan untuk biaya mengurus Mak Irah," tambah Tito.

Meskipun Ibu Inggit sudah tidak lagi menangani pembuatan jamu dan bedaknya, tapi usaha tersebut masih berjalan lancar. Mak Irah dan Ratna dibantu oleh beberapa wanita lain meneruskannya. Pelanggannya masih banyak, bahkan berdatangan dari berbagai kota.

"Sering ada surat dari kota lain yang minta agar dikirimkan jamu atau bedak Ibu Inggit," kata Tito. Karcnanya Tito bcrmaksud mcngcmbangkan usaha tersebut.

Ibu Inggit tentu akan lega bila usaha bedak dan jamunya ada yang meneruskan. Sebab dulu sering dia bertanya, entah siapa yang mau melanjutkan usahanya itu. Padahal ia bangga pada produknya itu. Setiap tamu yang baru berkunjung, selalu diberinya contoh untuk dicoba.

Dari sembilan cucunya, anak Ratna Djuami dan Asmara Hadi, baru Tito Harmaen yang mencetuskan sanggup melanjutkan usaha bedak dan jamu Ibu Inggit.

Tidak bersusuk

Ibu Inggit saat ini sudah tidak dapat lagi mengecap kebahagiaan bersama anak, cucu, dan cicitnya. Kesadarannya sudah hilang, namun keadaan fisiknya masih kuat, sehingga ia mampu bertahan sampai saat ini.

"Anehnya banyak orang berpendapat Ibu Inggit punya ilmu dan susuk, hingga masih panjang umur sampai sekarang. Kalau ilmu mungkin benar, sebagai orang tua zaman dulu, mungkin Ibu Inggit punya ‘amalan’. Tapi susuk tidak," ucap Ratna dan Tito tegas.

Banyak orang yang merasa "berilmu" tanpa diminta datang ke rumah Ibu Inggit. Mereka datang dari Banten, sekitar Bandung, Cirebon, Surabaya dan Blitar, dengan maksud memberi "pertolongan" mengeluarkan ilmu Ibu Inggit, sehingga mudah menghadap Allah, tutur Tito.

Hampir setiap hari datang tamu menjenguk. Di buku tamunya tertulis nama-nama, Gubernur Jabar dan nyonya, Ny. Hartini Soekarno, Taufan Soekarno serta istri, Guntur Soekarno serta istri, Megawati, Rachmawati Soekarno, Prof. Sunaryo, Prof. Mustopo, Barli, Manai Sophian, Mas Agung, Ny. Aried Riyadi. Rombongan ibu-ibu dari berbagai organisasi wanita serta perkumpulan wanita RW di Bandung.

Ada pula ambalan yang memakai namanya, yaitu Ambalan Inggit Garnasih, Gudep Kabupaten Bandung 916, SMA Cimindi.

Ibu Inggit, wanita pendamping Bung Karno dalam merintis dan memperjuangkan kemerdekaan RI, wanita yang menjadi sumber ilham, pendorong dan pemberi semangat Bapak Proklamator Kemerdekaan Bangsa, saat ini sedang menunggu hari akhirnya. Hidupnya yang panjang sebagian besar diisinya dengan cinta kasih pada Bung Karno.

Wanita sederhana ini, punya cita-cita yang sejalan dengan Bung Karno. "Saya telah puas, Indonesia telah merdeka. Bangsa kita tentu akan sejahtera," ucapnya saat diwawancara.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.