TRIBUNNEWSMAKER.COM - Di balik ketenangan alam Wonogiri, tersembunyi sebuah destinasi bersejarah yang memikat bernama Candi Muncar.
Candi ini menawarkan perpaduan unik antara nilai sejarah dan keindahan alam yang masih sangat asri serta jauh dari keramaian kota.
Dikelilingi hamparan hijau perbukitan, suasana di sekitar Candi Muncar menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Angin sejuk yang berhembus pelan menambah kesan damai, membuat setiap pengunjung betah berlama-lama menikmati panorama.
Tak hanya menjadi saksi peninggalan masa lalu, candi ini juga menjadi ruang refleksi bagi siapa saja yang datang berkunjung.
Keindahan tersembunyi ini menjadikan Candi Muncar sebagai destinasi yang layak dijelajahi bagi pecinta wisata alam dan sejarah.
Baca juga: Tumurun Private Museum Solo, Destinasi Seni yang Wajib Masuk Bucket List: Koleksi Seni Kelas Dunia
Candi Muncar berlokasi di Jalan Tempel, Siroto, Bubakan, Girimarto, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
Lokasinya berjarak 56 kilometer dari pusat Kota Solo, bisa ditempuh kurang lebih 1,5 jam kendaraan pribadi.
Candi Muncar terletak di kawasan perbukitan dengan panorama hijau yang masih sangat asri.
Lokasinya berada di tengah hutan yang terjaga, sehingga suasana yang ditawarkan begitu sejuk dan alami.
Tidak ada suara kendaraan atau keramaian kota di sekitar kawasan ini.
Yang terdengar hanya gemericik air dari telaga yang menambah ketenangan suasana.
Berada di lereng Gunung Lawu, udara di kawasan ini terasa lebih sejuk meski matahari cukup terik.
Wisatawan yang datang ke Candi Muncar biasanya memanfaatkan momen pagi hari untuk menikmati pemandangan matahari terbit dari puncak bukit.
Pemandangan ini menjadi salah satu daya tarik utama bagi pengunjung.
Selain itu, suasana klasik dan alami membuat lokasi ini cocok sebagai spot foto bernuansa alam dan budaya, terutama bagi pengunjung yang suka eksplorasi tempat wisata unik.
Jarak Candi Muncar dari Alun-alun Giri Krida Bakti Wonogiri sekitar 35 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam perjalanan menggunakan motor maupun mobil.
Selama perjalanan, wisatawan akan disuguhi panorama alam perbukitan yang indah. Namun, pengunjung perlu berhati-hati karena sebagian jalan menuju lokasi cukup menantang dan menanjak.
Meski demikian, rasa lelah selama perjalanan akan terbayar begitu tiba di lokasi dengan pemandangan alam yang memanjakan mata.
Di kawasan Candi Muncar, pengunjung dapat melakukan berbagai aktivitas santai seperti duduk di tepi telaga, menikmati suasana alam, hingga memberi makan ikan.
Tersedia juga area bermain air yang bisa dinikmati oleh anak-anak maupun orang dewasa.
Tak hanya itu, pengunjung juga bisa menikmati kopi lokal sambil bersantai di area wisata.
Candi Muncar buka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 18.00 WIB.
Menariknya, tidak ada tarif tiket resmi untuk masuk kawasan ini.
Pengunjung hanya dikenakan biaya sukarela sekitar Rp5.000.
Candi Muncar bermula dari keinginan pemerintah dan masyarakat untuk membangun bendungan demi menyuplai air irigasi.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya dipilihlah lembah Candi Muncar di Desa Bubakan sebagai lokasi pembangunan.
Pembangunan bendungan dimulai pada 15 Mei 1976, dengan nama proyek resmi: Pembangunan Wadukan Candi Muncar Girimarto.
Proyek ini selesai tepat satu tahun kemudian, pada 31 Maret 1977, dan diresmikan oleh Bupati Wonogiri saat itu, KRMH Soemoharmoyo, pada 8 Agustus 1977.
Sampai sekarang, prasasti peresmiannya masih bisa dilihat di sisi selatan tubuh bendungan.
Awalnya, waduk seluas 1,1 hektare ini mampu mengairi sawah sepanjang 6 kilometer, hingga ke wilayah Dusun Setalang dan Ngrongga.
Tapi, masalah mulai muncul ketika terjadi tanah longsor di hulu sungai.
Longsoran itu terbawa arus dan mengendap di dasar waduk, menyebabkan pendangkalan parah.
Lama-lama, seluruh permukaan waduk tertutup endapan, dan fungsi irigasi pun terhenti.
Kondisi ini tidak membuat warga menyerah.
Warga mulai turun tangan membersihkan waduk.
Berbekal cangkul dan semangat gotong royong, mereka menggali parit-parit kecil untuk mengalirkan endapan tanah keluar dari waduk.
Hasilnya pada Februari 2017, air kembali mengisi waduk.
Waduk yang dulu mati kini menjadi telaga jernih yang dipenuhi ikan nila.
Keberhasilan ini membuka peluang baru, menjadikan waduk sebagai tempat wisata.
(TribunNewwsmaker.com/TribunSolo.com)