Gas Beracun di Bawah Tanah Tokyo, Dalangnya Pemimpin Sekte Kepercayaan Aum Shinrikyo
Moh. Habib Asyhad April 15, 2026 01:34 PM

Serangan gas beracun (gas sarin) di kereta bawah tanah Tokyo pada 20 Maret 1995. Pelaku utamanya adalah anggota sekte Aum Aum Shinrikyo yang dipimpin oleh Shoko Asahara.

Artikel ini tayang pertama di Majalah INTISARI edisi Desember 2002 dengan judul "Gas Beracun di Bawah Tanah Tokyo" | Pencukil: Mayong Suryo Laksono

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Kenangan membawa kita pada sebuah teror mengerikan yang pernah mengguncang Jepang di suatu hari Senin, 20 Maret 1995.

Pagi itu, tujuh jalur kereta api bawah tanah Metropolitan Tokyo ditebari sarin, gas dari cairan beracun yang daya bunuhnya 26 kali sianida. Teror yang menewaskan belasan orang dan melukai ribuan orang itu diperintahkan oleh Chizuo Matsumoto (juga dijuluki Shoko Asahara), pemimpin sekte kepercayaan Aum Shinrikyo.

Berikut ini kumpulan hasil wawancara dan analisis yang dilakukan oleh Haruki Murakami, dan dibukukan dengan judul Underground, The Tokyo Gas Attack and the Japanese Psyche (2001).

Dua anggota Aum Shinrikyo ditugasi menebarkan gas sarin di kereta bawah tanah jalur Chiyoda, Kereta Api No. A725K, yang menghubungkan Kita-senju di sisi timur laut Tokyo dengan Yoyogi-uehara di barat.

Mereka adalah Ikuo Hayashi dan Tomomitsu Niimi. Hayashi, dokter yang sebelumnya bekerja dengan reputasi bagus di Kementerian Riset dan Teknologi Jepang, menjadi operator lapangan. Sedangkan Niimi adalah pengemudi yang membawa kabur dengan mobil setelah Hayashi bertugas.

Kenapa profesional seperti Hayashi bersedia mengabdi pada seorang pimpinan aliran kepercayaan baru, tak pernah terkuak. Apa pula sebab dia mau menjalankan perintah pembunuhan tak terjelaskan karena Hayashi tutup mulut.

Diduga, keterlibatan dr. Hayashi di sekte itu sudah lama, sampai dia menempati posisi penting. Namun, sang pemimpin, Shoko Asahara, konon tak mempercayainya. Untuk mengembalikan kepercayaan pimpinan, Hayashi melakukan perintah itu.

Anggota super-elite

Senin pagi itu, pukul 07.48, Hayashi naik kereta A725K di gerbong paling depan. Satu tangan menjinjing bungkusan plastik berisi senyawa sarin, dan tangan lain menenteng payung yang ujungnya sangat runcing.

Menjelang Stasiun Shin-ochanomizu di pusat distrik bisnis Tokyo, bungkusan plastik yang diletakkannya di lantai gerbong itu dia pinggirkan. Dengan satu tusukan ujung payung, plastik itu berlubang. Blus, uap cairan sarin pun menebar. Tak ada yang memperhatikan.

Hayashi turun, dan di luar stasiun disambut Niimi dengan mobilnya. Keduanya langsung menuju ajid (kantor perwakilan Aum) di Shibuya. Tugas selesai.

"Sebuah laku yoga Mahamudra," Hayashi bicara sendiri. Mahamudra, bagi anggota Aum, dianggap proses penting menuju sang mahaguru agung, The True Enlightened Master.

Si pelaku, Hayashi, kelahiran 1947, anak kedua dari seorang dokter di Tokyo. Ketika bekerja di Keio Hospital, dia mengambil spesialis jantung dan pembuluh darah. Setelah lulus spesialis Hayashi menjabat kepala bagian Circulatory Medicine di National Sanatorium Hospital di Tokaimura, Ibaragi, utara Tokyo.

Bagi masyarakat Jepang, orang semacam Hayashi dianggap anggota profesional superelit. Namun, karier bagus sebagai dokter agaknya masih kurang, karena dia terpikat pada ajaran Shoko Asahara.

Pada 1990 dia keluar dari pekerjaan, membawa keluarganya masuk sekte Aum. Banyak kolega yang mencegah, tetapi tekadnya untuk hidup religius lebih kuat. Di Aum, Hayashi segera mendapat tempat utama, dan belakangan diangkat menjadi Menteri Pengobatan (Minister of Healing).

Misi 20 Maret 1995 dilakukan secara tertutup dan mendadak. Hayashi, bersama empat pelaku utama lain, berlatih menusukkan ujung payung ke plastik kosong pada dini hari itu, di markas utama Aum di Satyam no. 7, Desa Kamikuishiki, dekat Gunung Fuji.

"Sebenarnya saya tidak perlu berlatih. Saya tahu harus berbuat apa tanpa melibatkan perasaan," katanya.

Hayashi membekali diri dan empat rekannya dengan alat suntik berisi sulfat atropin, menyuruh mereka segera menyuntik diri ketika merasakan tanda-tanda keracunan sarin. Masuk ke gerbong pertama KA A725 K, dia berdiri di depan seorang ibu bersama anaknya yang masih kecil.

Dia berpikir, kalau plastik dia coblos sekarang, ibu dan anak itu pasti langsung mati. Kecuali kalau dia segera turun. "Tapi apa saya harus peduli? Ini 'perang', yang lemah pasti kalah," gumamnya.

Ketika kereta mendekati Stasiun Shin-ochanomizu, dia menusuk plastiknya. Wuss! cairan bening itu pun mengeluarkan bau manis, seperti sirup.

Dia tusuk lagi sisi lain plastik itu. Kantong plastik satunya ternyata tak sempat dilubangi. Namun, dengan satu plastik pun kerusakan yang terjadi cukup fatal. Di Kasumigaseki dua pegawai stasiun tewas saat memindahkan kantung itu.

Kereta A725K berhenti di stasiun berikutnya, Kokkai-gijidomae, dekat gedung Dewan Nasional Jepang. Seluruh penumpang dikeluarkan, kereta dibersihkan. Dua orang meninggal dan 231 menderita sakit serius.

Batuk bersama-sama

Kiyoka Izumi baru semangat-semangat bekerja di bagian humas sebuah perusahaan penerbangan asing, setelah tiga tahun bekerja di Japan Railways, perusahaan KA Jepang. Sewaktu berdiri di gerbong depan Jalur Chiyoda, di dekat ruang masinis, tiba-tiba gadis 26 tahun itu merasa pusing, disusul dengan napas ter'engal-sengal.

"Mungkin saya akan sakit. Mungkin pula karena kondisi saya belum fit setelah beberapa hari lalu mengurus kematian kakek. Lagi pula ini hari 'kejepit'. Kemarin Minggu, dan Selasa besok 'Spring Equinox', hari libur nasional. Namun, saya tetap semangat kerja," dia mencoba menghibur diri.

Di Stasiun Hibiya, satu stasiun sebelum Kasumigaseki, napasnya makin tersengal-sengal. Pandangannya berkunang-kunang. Ternyata, para penumpang juga batuk bersahutan.

Sesampai di Kasumigaseki, para penumpang menghambur keluar, termasuk Izumi. Alarm stasiun berbunyi. Sebagai bekas pegawai Izumi tahu, itu tanda bahaya.

Semampunya dia memapah orang untuk menaiki tangga menuju permukaan tanah, mencari ambulans atau kendaraan apa saja untuk mengangkut mereka ke rumah sakit. Izumi dirawat seminggu di rumah sakit, dalam tiga hari terakhir suhu badannya tinggi. Sebulan sekeluar dari rumah sakit pun dia masih terbatuk-batuk.

Masaru Yuasa, pemuda usia 24, menceritakan pengalamannya. Sebagai penjaga kios tiket di Stasiun Kasumigaseki, pagi itu dia dikejutkan oleh banyak orang yang berlarian sambil terbatuk-batuk keluar dari kereta.

"Tiga senior saya, Toyoda, Takahashi, dan Hishinuma menarik keluar plastik berbungkus koran basah dari dalam gerbong kereta A725K yang diletakkan di peron. Sebelum memutuskan mau diapakan bungkusan basah itu, ketiganya terhuyung-huyung. Issho Takahashi paling tidak kuat, dia jatuh. Saya menarik dan memapahnya ke luar stasiun."

Yuasa panik, berteriak-teriak mencari pertolongan dan menyuruh orang mencari ambulans. Ternyata ambulans tak kunjung datang. Melihat mobil van sebuah stasiun televisi, dia pun mendesak pengemudi untuk mengantar Asisten Kepala Stasiun Takahashi ke rumah sakit. "Sayang, Pak Takahashi terlambat ditolong. Ia meninggal," kata Yuasa pendek.

Minoru Miyata, pengemudi Toyota Hi-Ace bertuliskan "TV Tokyo", menceritakan, kalau saja Takahashi cepat ditolong, jiwanya pasti selamat.

"Sesampai di RS .Hibiya, rumah sakit yang satu afiliasi dengan perusahaan KA Jepang, kami ditolak karena katanya tak ada dokter. Karena Yuasa memaksa, dua dokter baru muncul belakangan. Itu sudah pukul 09.30, satu jam lebih dari serangan sarin. Pak Takahashi tak terselamatkan."

Sebagai pengemudi mobil liputan televisi, Miyata telah beberapa kali datang ke markas Aum di Desa Kamikuishiki. Mereka, kata Miyata, terkesan seperti orang yang tercabut jiwanya. Tak pernah senyum, apalagi tertawa atau menangis. Ekspresinya datar, seperti topeng.

"Pikiran mereka seperti dikendalikan. Mereka bersedia menerima perintah tanpa reserve. Manusia apa itu?"

Toshiaki Toyoda, juga pegawai di Stasiun Kasumigaseki, memperingati ulang tahun ke-34 kariernya di Perusahaan Kereta Api Jepang dengan tragedi itu. Ia yang mulai bekerja di jawatan transportasi darat sejak 20 Maret 1961, pagi itu bekerja seperti biasa, tak sadar nyawanya nyaris melayang.

"Saya tidak berpikir apakah bercak-bercak mirip parafin di lantai gerbong itu mematikan. Yang masih di dalam plastik saya amankan agar terpisah dari orang-orang. Baunya menyengat, seperti bau kremasi jenazah, tapi lebih kuat," kata Toyoda.

Dua kawannya yang juga membersihkan kereta dan peron dari racun, Hishinuma dan Takahashi, tewas. Toyoda sendiri dirawat 11 hari di rumah sakit. Lebih dari seminggu ia tidak bisa bicara. Namun, ia tetap bangga dengan tugasnya.

"Saya bukan korban. Saya orang yang selamat. Mereka, para teroris penebar gas beracun itu, tidak bisa menghentikan karier saya yang telah 34 tahun," katanya.

Tak lebih dari sebuah pengorbanan

Kereta Jalur Marunouchi dengan tujuan Ogikubo, nomor A777 juga menjadi target. Pelaksananya Kenichi Hirose (30), dan Koichi Kitamura sebagai pengemudi.

Hirose, master dalam bidang fisika terapan lulusan Fakultas Teknik Universitas Waseda, memang orang penting di Aum. Dia anggota Brigade Kimia sekaligus terlibat dalam proyek pengembangan senjata ringan automatis. Perintah diberikan oleh atasannya, Hideo Murai, pada 18 Maret, setelah 20 hari sebelumnya berlatih di Desa Kamikuishiki.

Menjelang beraksi, Hirose sempat ragu dan berpindah kereta. Dia merasa seseorang membuntutinya. Namun, ketika dia masuk ke kereta A777, menjelang sampai di Stasiun Ochanomizu, dia tusuk juga plastik berbungkus kertas koran itu sambil menahan napas.

Dia ingat mantra yang selalu dinasihatkan Asahara, "Ini sebuah pengorbanan. Saya bisa mati, orang lain pun akan mati." .

Dari dua plastik yang ditusuk Hirose, uap dari 900 ml sarin terembus keluar. Satu penumpang kereta tewas, 358 orang harus dirawat di rumahsakit.

Hirose juga sempat sesak napas dan sulit bicara, tapi langsung menyuntik diri dengan atropin sulfat pemberian Hayashi. Ia kembali ke Kamikuishiki dan melapor, "Tugas telah dilaksanakan."

Kenji Ohashi (41), pegawai pada sebuah agen penjualan mobil ternama, adalah salah seorang korban selamat kereta A777. Dia yang biasa naik di gerbong nomor tiga dari Stasiun Yotsuya, pagi itu mendapati sesuatu yang tidak biasa: stasiun sepi dan gerbong hanya sedikit terisi.

Ia bisa duduk dan memejamkan mata walau tidak tidur. Ia merasakan ada bau aneh. Mirip muntahan orang mabuk tapi lebih manis. Mirip bau thinner tapi lebih menyengat.

Ketika kereta sampai di Nakano-sakaue, dia turun. Tiba-tiba napasnya sesak, pandangannya kabur, cuaca terasa jadi redup. Ia mendekati keran air, membasuh muka. Hampir saja ia terjatuh karena kakinya gemetar.

Ia terduduk di bangku, tak berdaya menyaksikan orang batuk-batuk dan terhuyung-huyung. "Ingin rasanya menolong mereka, tetapi saya tidak kuat. Dada sesak seperti habis lari maraton," kata ayah tiga anak itu.

Akhirnya ia malah digotong orang ke kantor staf stasiun, sementara beberapa pegawai juga berjatuhan. Ohashi dibawa dengan mobil polisi ke Nakano General Hospital. Dua belas hari ia terbaring. Beberapa bulan sekeluar dari rumah sakit pun ia masih sering sakit kepala.

Sumio Nishimura (46), Transport Assistant di Stasiun Nakano-sakaue, terbilang beruntung meski dia yang mengambil plastik berukuran 30 x 30 x 30 cm berisi sarin itu dengan tangannya. Mencoba tidak mengenai bagian yang basah, ia memasukkan plastik basah itu ke keranjang dan menutupnya, kemudian menyerahkannya kepada polisi.

Dia dirawat selama enam hari di rumah sakit, dan empat hari di rumah.

Modal pelarian lima juta yen

Plastik berisi sarin yang bertahan paling lama di kereta rupanya dibawa pasangan Masato Yokotama (kelahiran 1963) dan Kiyotaka Konozaki (lahir tahun 1964). Bungkusan itu berada di kereta Jalur Marunouchi tujuan Ikebukuro selama 1 jam 40 menit sejak dicoblos ujung payung Yokotama.

Berangkat dari Stasiun Shinjuku, saat kereta B801 mendekati Stasiun Yotsuya, Yokotama mencoblos dua plastik yang dibawanya. Kemudian ia turun dan pergi bersama Konozaki yang mengemudikan mobil. Kereta yang sudah sampai di Stasiun Ikebukuro berbalik arah menjadi nomor A801.

Berita tentang paket sarin sudah menyebar, banyak orang teracuni, dan penumpang dievakuasi. Namun, petugas gagal menemukan bungkusan sumber malapetaka. Baru sesampai di Hongo-sanchome, dalam perjalanan menuju Shinjuku, petugas menemukan plastik itu.

Tanpa sempat dibersihkan, dan barangkali petugas terburu-buru, kereta menuju Shinjuku. Dari stasiun itu kereta kembali ke Ikebukuro sebagai kereta B901.

Untungnya tak ada korban tewas, hanya 200 penumpang terluka. Misi Yokotama terbilang gagal, rupanya karena dua plastik itu hanya terlubangi satu kali.

Yokotama dan Konozaki sempat kabur berbekal modal pelarian sebesar lima juta yen pemberian salah satu pimpinan Aum, Hisako Ishii, sebelum tertangkap. Pada September 1999 Yokotama dijatuhi hukuman mati dan naik banding. Konozaki yang divonis seumur hidup pun naik banding.

Shintaro Komada (58), pensiunan pegawai bank yang memiliki usaha art-gallery, sejak awal melihat bungkusan yang dibawa Yokotama diletakkan di dekat pintu masuk pertama sebelah kanan, gerbong kelima. "Petugas berompi saya rasa juga melihat bungkusan itu, tapi dia diam saja," sesalnya.

Kereta terus berjalan, berhenti di beberapa stasiun. Shin-otsuka, Myogadani, Korakuen, dan tiba-tiba orang terbatuk-batuk. Beberapa mencoba menutup mulut dengan saputangan.

Sesampai di Hongo-sanchome lima-enam petugas masuk gerbong dan mengambil plastik terbungkus koran basah itu. Kereta bergerak lagi.

Di Ochanomizu, beberapa petugas stasiun masuk lagi dan menutupi lantai gerbong yang basah oleh isi bungkusan tadi dengan keset. Tak ada pengumuman, tak ada pemberitahuan. Di Ginza, Komada tak tahan lagi dan keluar. Mendadak sekitarnya jadi gelap. "Seperti masuk gedung bioskop di siang hari," katanya.

Perlahan dia menapak tangga. Sesampai di permukaan, dia bagai merayap menuju kantornya. Bunyi sirene dan peluit polisi bersahutan dengan teriakan orang.

Sesampai di kantor ia minta diantar ke rumah sakit terdekat. Namun, di meja penerima pasien, saat ia melapor dengan mata tak bisa melihat, perawat malah menjawab, "Maaf, Pak, ini bukan klinik mata."

Nyonya Ikuko Nakayama (30-an), guru bahasa Jepang bagi orang asing di Tokyo, pagi itu juga berangkat kerja. Ia naik dari pintu depan gerbong kedua kereta Jalur Marunouchi dari Ikebukuro menuju Otemachi.

Melalui stasiun Shin-otsuka, Myogadani, Korakuen, dan ... orang terbatuk-batuk. Pandangan Nakayama berubah, semua serba kekuning-kuningan. "Saya pernah mengalami anemia, kira-kira seperti itu."

Orang berhamburan keluar. Nakayama berpindah gerbong. Ia membuka kaca jendela. Penumpang lain diam saja sambil terbatuk-batuk. Ia berencana pindah ke gerbong belakang sesampai di Hongo-sanchome. Seorang polisi masuk dan mengambil bungkusan plastik basah. Kereta berhenti agak lama, dan Nakayama pindah dua gerbong ke belakang.

Di Stasiun Awajicho, tiga penumpang turun. Seorang gadis dua puluhan tahun, seorang pria lima puluhan, dan Nakayama. Semuanya kesakitan. "Merasakan pupil mata bergerak-gerak, saya langsung tahu, kami keracunan sarin," kata Nakayama.

Perempuan yang pernah setahun tinggal di AS itu ingat, 27 Juni 1994 gas sarin sengaja dilepaskan di sebuah permukiman di Matsumoto, Jepang tengah. Tujuh orang meninggal dan ratusan lainnya cedera.

Diduga pelaku utamanya Yoshiyuki Kouno, oleh media dijuluki "Poison Gas Man". Belakangan ia dibebaskan dan nama baiknya dipulihkan setelah diketahui pelakunya ternyata anggota sekte Aum Shinrikyo.

Nakayama membantu si gadis dan lelaki itu menuju kantor kereta api. Herannya, selain tak ada ambulans, semua nomor telepon darurat yang dihubungi tak diangkat.

Akhirnya, dengan didampingi seorang pegawai kereta api, ketiganya berjalan kaki ke rumah sakit. Nakayama dirawat selama lima hari di bagian gawat darurat. Ketika sembuh, ia tak mau lagi menginjak Hongo-sanchome yang dulu menjadi tempat favoritnya.

Semoga bukan gadis itu

Pasangan yang ditugasi menebar sarin di kereta Jalur Hibiya nomor B711T Nakameguro - Tobudobutsukoen adalah Toru Toyoda dan Katsuya Takahashi. Toyoda (kelahiran Hyogo Prefecture, dekat Kobe, tahun 1968) adalah mahasiswa cemerlang ketika kuliah.

Lulus jurusan fisika terapan dari Fakultas Sains Universitas Tokyo dengan penghargaan, meneruskan studi pascasarjana dengan kualitas yang sama. Dia tinggal selangkah menuju studi doktoral ketika mengesampingkan peluang itu dan mengabdi pada Aum.

Dia menjadi anggota Brigade Kimia di bawah Kementerian Sains dan Teknologi Aum Shinrikyo.

Toyoda naik kereta B711T pukul 07.59 dari Stasiun Nakameguro. Menjelang stasiun pertama, Ebisu, ia menusuk dua plastik bawaannya, dan kabur ketika kereta berhenti.

Pada dua stasiun berikut, di Roppongi, para penumpang mulai "merasa aneh". Di stasiun berikut, Kamiyacho, 900 ml sarin itu telah luber di lantai gerbong. Panik tercipta.

Michael Kennedy (63) mantan joki asal Irlandia yang telah empat tahun dikontrak untuk melatih sekolah berkuda di Chiba, naik dari Stasiun Roppongi. Heran, separuh gerbong terdepan kosong. Ia masuk dari pintu kedua gerbong dan mendapati plastik bocor mengeluarkan cairan membasahi lantai dan koran pembungkusnya. Tak ada penumpang mendekat.

Ada seorang gadis, tampaknya menangis. Juga lelaki tua yang menutup mulut dengan saputangan. Orang lain terbatuk-batuk, dan ada yang membuka jendela. "Saya mulai lemas. Sesampai di Kamiyacho saya keluar karena tak kuat lagi, diikuti banyak orang lain. Semua panik."

Si gadis yang semula dikira menangis ikut keluar, bahkan pingsan. Kennedy menggendongnya sambil menaiki tangga. Seorang pria membawa kopor datang dan mengambil gadis itu dari Kennedy.

Orang lain kemudian menuntunnya ke permukaan. Kennedy merasa mual. Sepuluh menit kemudian ambulans datang membawanya ke rumah sakit. Ia tak bertemu lagi dengan gadis yang digendongnya. "Dari berita di televisi saya dengar ada gadis 21 tahun yang tewas. Saya berharap bukan gadis itu," gumamnya.

Dikira polisi yang menyamar

Yasuo Hayashi (tidak ada hubungan saudara dengan Ikuo Hayashi) dan Shigeo Sugimoto ditugasi menebar sarin di kereta Jalur Hibiya A720S jurusan Kitasenju - Nakameguro. Hayashi (kelahiran 1957), pernah beberapa kali pindah pekerjaan. Termasuk di luar negeri, dan di India bergabung dengan ashram yoga.

Sekembali ke Jepang ia menjadi pengikut Shoko Asahara, dan pada 1988 ia disumpah dan melejit jadi orang ketiga di Kementerian Sains dan Teknologi Aum.

Pada 20 Maret 1995 pagi ketika empat tim lain membawa dua plastik sarin, Hayashi membawa tiga. Bungkus terakhir itu sisa yang atas inisiatifnya dia minta. Namun, bagi pimpinan kementerian Hideo Murai (dan direstui oleh Asahara), itu menjadi "tes kepribadian".

Ketika Hayashi mengambil plastik ketiga tanpa ragu-ragu, Murai tersenyum seperti menang taruhan. Masalahnya, Asahara pernah mencurigai Hayashi sebagai polisi yang menyamar. Sudah beberapa kali Hayashi di-"tes" untuk menghapus kecurigaan itu. Ketangguhannya memang teruji.

Hayashi naik gerbong ketiga kereta A720S dari Stasiun Ueno pada pukul 07.43. Menjelang dua perhentian, ia tusuk ketiga plastik terbungkus koran itu beberapa kali secara meyakinkan. Saat kereta berhenti di Akihabara, ia keluar dari kereta dan masuk ke mobil yang dikemudikan Sugimoto.

Kereta terus berjalan. Di stasiun berikut, Kodenmacho, para penumpang kesakitan. Cairan sudah membasahi setengah gerbong.

Seorang penumpang yang yakin bungkusan bocor itu penyebabnya, menendangnya keluar hingga berserakan di peron. Rupanya racun dengan cepat menyebar di peron stasiun kecil Kodenmacho. Empat orang meninggal di tempat itu.

Kereta berjalan lagi dengan lantai gerbong ketiga tetap basah oleh sarin. Korban-korban berjatuhan di setiap perhentian. Ningyocho, Kayabacho, Hatchobori - benar-benar. kereta maut. Dalam lima stasiun perhentian, sarin di kereta A720S telah membunuh delapan orang dan 275 orang luka serius.

Sejak itu Yasuo Hayashi hidup dalam persembunyian. Desember 1996 ia tertangkap di Pulau Ishigaki, 1.000 mil dari Tokyo. Di pengadilan tahun 2000 ia dijatuhi hukuman mati, sementara Shigeo Sugimoto dihukum seumur hidup.

Kejadian paralel

Aum Shinrikyo, awalnya sebuah gerakan politik belaka. Februari 1990, sebagai sebuah organisasi massa, Aum ikut dalam pemilihan Majelis Rendah di Parlemen Jepang (Diet). Asahara berkampanye untuk wilayah Shibuya Ward, sebuah distrik di Tokyo.

Dia menggalang anak-anak muda yang ketika berkampanye mengenakan jubah putih dan topeng Asahara, memperdengarkan musik aneh dari truk-truk besar, berkeliling kota. Di tempat keramaian mereka menari-nari sambil mengajak orang untuk bergabung.

Belakangan Aum menampilkan diri sebagai sebuah aliran kepercayaan, dan Asahara adalah sang Guru, pemimpin tertinggi. Dia memiliki kelebihan psikologis, punya kharisma. Kepada dirinya para anggota mengabdi, menjalankan ide-ide dan perintahnya.

Dalam perspektif spiritual orang Jepang melihat, gempa bumi Kobe pada Januari 1995 dan serangan gas sarin di kereta bawah tanah Tokyo 20 Maret 1995 adalah dua kejadian besar setelah PD II yang paralel. Terjadi di masa Jepang menikmati puncak pertumbuhan ekonominya, tetapi sekaligus menjadi peringatan.

Yang satu karena faktor alam, yang lainnya karena ada sekumpulan warga negara ingin mengajukan kritik terhadap zaman dengan caranya sendiri. Namun, keduanya sungguh tidak bisa dihindarkan. Bagi para korban, kejadian itu adalah serangan dari sesuatu yang tidak dikenal, tidak bisa dihindari.

Apakah kekejian yang sudah ditebarkan Aum membuat jeri para pengikutnya?

Jawabnya: tidak, tapi cukup banyak anggota yang tidak suka akan pembantaian di bawah tanah Tokyo 20 Maret 1995 itu.

Banyak kebaikan yang didapatkan para anggota. Ahli komputer Hiroyuki Kano (kelahiran 1965), misalnya, merasa sangat senang berada di Aum. Dia diberi kebebasan untuk mengeksplorasi kemampuannya dalam komputer, sambil bekerja di Kementerian Sains dan Teknologi Aum.

"Bekerja di Aum tampaknya lebih berat daripada di luar. Tapi saya suka. Semakin keras pekerjaan, semakin memuaskan. Meski tak lagi aktif, hati saya tetap di Aum," kata Kano yang tak pernah langsung menyebut Asahara, tetapi menyebut "pemimpin", "guru", atau "beliau".

Begitu pula Hajime Masutani (kelahiran 1969), seorang arsitek. Selama di Aum dia merasa spiritualitasnya muncul. Batinnya menjadi utuh, jauh lebih menyenangkan ketimbang di luar Aum. "Beberapa kali saya mengalami pengalaman mistis. Kesadaran akan karma terbuka, sehingga kehidupan jadi lebih baik."

Spiritualitas lebih tinggi

Satu per satu anggota Aum ditangkap. Pengadilan bagi mereka dimulai tahun 1999 dan berlangsung panjang. Pada 4 Januari 2000, di tengah proses pengadilan atas diri Asahara, Aum mengumumkan pencopotan Asahara sebagai guru dan pemimpin, dan mengganti namanya menjadi Aleph. Aum juga akan mereformasi diri, antara lain menyertakan tekad untuk taat kepada hukum negara.

Di pengadilan para terdakwa terbagi dua. Ada yang kecewa terhadap Aum, tapi ada yang masih menampilkan diri sebagai bayang-bayang Asahara.

Hayashi dan beberapa anggota lain masih merasa memiliki spiritualitas yang lebih tinggi daripada orang biasa. Ketika putusan hakim dijatuhkan dan hukuman berat menghadang, mereka masih asyik dengan utopianya.

Sampai Agustus 2000, persidangan terhadap sang pemimpin, Chizuo Matsumoto alias Shoko Asahara, masih berlangsung. Ikuo Hayashi divonis dihukum seumur hidup, Masato Yokoyama dihukum mati dan naik banding, Yasuo Hayashi dihukum mati (juga naik banding). Toru Toyoda dan Kenichi Hirose divonis mati pada 17 Juli 2000.

Para sopir seperti Koichi Kitamura diganjar seumur hidup (dan memohon banding), Kiyotaka Tonozaki diganjar sama dan naik banding, demikian pula Shigeo Sugimoto. Ketika sidang terhadap Tomomitsi Niimi sedang digelar, Katsuya Takahashi kabur tak tentu rimbanya.

Pejabat komunikasi Aum, Yoshihiro Inoue dihukum seumur hidup dan naik banding. Para petinggi seperti Kazuaki Okazaki dihukum mati, tetapi naik banding. Kiyohide Hayakawa dan Satoru Hashimoto dijatuhi hukuman mati, masing-masing pada 28 dan 25 luli 2000. Hisako Ishii dihukum tiga tahun, Fumihiro Joyu dihukum tiga tahun, tetapi bebas pada 29 Desember 1999. Yoshinobu Aoyama divonis 12 tahun dan naik banding.

Shoko Asahara sendiri akhirnya divonis mati dan eksekusinya dilakukan pada 6 Juli 2018. (Mayong S. Laksono)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.