TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA -- Kasus penyakit menular di Indonesia masih jadi tantangan kesehatan di Indonesia.
Beberapa penyakit menular yang masih menjadi perhatian utama di Indonesia antara lain Tuberkulosis (TBC), Campak, dan Polio.
Baca juga: Layanan Kesehatan Primer Disorot IDAI, Jadi Penyebab Penyakit Menular Anak Muncul Lagi
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI Aji Muhawarman mengungkapkan, peningkatan kasus penyakit menular tidak bisa dilihat dari satu faktor saja.
Kasus penyakit menular di Indonesia sulit ditekan karena beberapa faktor.
Baca juga: Tekankan Kolaborasi dan Keterbukaan Data, Wamendagri Wiyagus Soroti Penanganan TBC di Bandar Lampung
Pertama, agen penyakit: seperti virus, bakteri.
Kedua, host (manusia) dengan lingkup kondisi tubuh, daya tahan, dan perilaku individu.
ketiga, lingkungan yang meliputi kebersihan, sanitasi, hingga perubahan iklim dan bencana.
Tiga faktor tersebut membuat upaya penaggulangan penyakit menular agak panjang prosesnya.
"Jadi dalam menekan penyakit menular itu faktornya banyak dan panjang," kata dia saat dihubungi Tribunnews.com, Selasa (14/4/2026).
Di sisi lain, berbagai program pengendalian sudah berjalan, misalnya imunisasi.
Aji menjelaskan, dalam konteks penyakit menular, imunisasi tetap menjadi strategi pencegahan paling efektif.
Upaya ini efektif terutama untuk penyakit yang termasuk dalam kategori PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi).
Pihaknya berupaya memperluas cakupan imunisasi.
Namun di sisi lain, perubahan perilaku masyarakat juga sangat penting, termasuk menjaga kebersihan, menerapkan pola hidup sehat, dan meningkatkan kesadaran untuk segera memeriksakan diri ketika sakit.
"Fokus pembangunan kesehatan tidak hanya pada rumah sakit atau layanan kuratif. Upaya promotif dan preventif tetap menjadi prioritas," tegas Aji.
Kemenkes juga melalui Quick Win menghadirkan pemeriksaan kesehatan gratis.
Juga edukasi perubahan perilaku di masyarakat, penguatan kader kesehatan di lapangan hingga surveilans penyakit menular di berbagai daerah.
"Kami melihat burden of disease ini berdasarkan data, kasus-kasus penyakit seperti jantung dan diabetes juga meningkat. Sehingga tidak hanya bisa mendorong orang mencegah penyakit menular. Tapi semuanya paralel," ungkap dia.