Trump Tolak Perpanjangan Gencatan Senjata, Blokade Selat Hormuz Berlanjut
Ansari Hasyim April 15, 2026 02:23 PM

 

SERAMBINEWS.COM – Ketegangan geopolitik Timur Tengah kembali memuncak. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tegas menyatakan tidak mempertimbangkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran, di tengah blokade ketat AS di Selat Hormuz yang mulai mengguncang pasar energi global.

Pernyataan Trump diungkapkan oleh koresponden ABC News, Jonathan Karl, usai wawancara eksklusif dengan sang presiden. Trump mengisyaratkan konflik mendekati titik penentuan.

“Saya pikir Anda akan menyaksikan dua hari yang luar biasa ke depan,” ujar Trump, dikutip Karl.
Meski mengakui perang “bisa berakhir dengan cara apa pun”, Trump menyebut diplomasi sebagai opsi yang lebih ia sukai.

“Saya pikir kesepakatan lebih baik, karena kemudian mereka bisa membangun kembali,” katanya.
Trump juga mengklaim telah terjadi perubahan signifikan di Iran.

Baca juga: Arab Saudi Desak Trump Redakan Konflik Iran, Khawatir Jalur Minyak Global Terancam

“Mereka benar-benar memiliki rezim yang berbeda sekarang. Apa pun yang terjadi, kita telah menyingkirkan kaum radikal. Mereka sudah pergi.”

Namun dari Teheran, sinyal yang muncul justru sebaliknya. Analis politik Iran, Abbas Aslani, menegaskan bahwa Tehran tidak mengubah kebijakannya terkait Selat Hormuz.

Menurut Aslani, penerapan protokol baru di jalur pelayaran strategis itu telah dirancang bahkan sebelum Amerika Serikat memberlakukan blokade angkatan laut.

“AS ingin menekan Iran agar mengubah kebijakannya. Tapi sejauh ini, kami tidak melihat tanda atau sinyal apa pun bahwa Iran akan mundur,” ujarnya.

Sementara itu, US Central Command (CENTCOM) mengklaim keberhasilan penuh operasi blokade. Tidak satu pun kapal disebut berhasil menembus pertahanan AS.

Satu kapal yang sempat dilaporkan lolos, ternyata hanya berhasil melewati selat dan kini terjebak di sisi lain, tepat di depan garis blokade. Enam kapal lain bahkan dikawal kembali oleh angkatan laut AS sesuai perintah.

Untuk menjaga operasi ini, AS mengerahkan kekuatan besar: lebih dari selusin kapal perang, puluhan pesawat tempur, serta lebih dari 10.000 personel militer mulai dari Marinir, Angkatan Darat, hingga Angkatan Udara.

Namun harga yang dibayar bukan hanya militer, melainkan juga diplomatik.

Sebagian besar minyak Iran diekspor ke China, yang selama ini menjadi pelanggan terbesar. Sekitar sepertiga kebutuhan minyak domestik China disebut bergantung pada pasokan dari Iran.

Situasi ini memunculkan pertanyaan besar:
akankah Beijing menekan Teheran agar bernegosiasi dengan Washington, atau justru konflik ini memperlebar jurang permusuhan?

Ketidakpastian itu membuat pasar energi global berada di ujung tanduk—dan dampaknya tak hanya dirasakan Iran, tetapi juga Amerika Serikat sendiri.

Beijing Desak Hentikan Operasi Militer

Di tengah eskalasi, pemerintah China secara terbuka mendesak agar operasi militer di Timur Tengah segera diakhiri.

Pernyataan ini muncul setelah Menteri Keuangan AS menuding Beijing sebagai “mitra global yang tidak dapat diandalkan”, termasuk tuduhan menimbun minyak dan membatasi ekspor komoditas strategis.

Menanggapi hal itu, Liu Pengyu, juru bicara Kedutaan Besar China di Washington DC, menegaskan bahwa krisis energi global bukan disebabkan kebijakan Beijing, melainkan memburuknya situasi keamanan di Timur Tengah.

“Tugas mendesak saat ini adalah mengakhiri operasi militer secepatnya dan mencegah dampak lanjutan terhadap ekonomi global,” kata Liu kepada Reuters, Selasa (14/4/2026).

China juga menegaskan peran diplomatiknya. Sehari sebelumnya, Presiden Xi Jinping mengajukan proposal empat poin untuk perdamaian Timur Tengah—mulai dari hidup berdampingan secara damai, penghormatan kedaulatan, penegakan hukum internasional, hingga sinergi keamanan dan pembangunan.

Delapan Tanker Dipaksa Putar Balik

Tekanan AS semakin nyata di laut. Dalam waktu kurang dari 36 jam sejak blokade diberlakukan, delapan kapal tanker minyak yang terkait Iran dipaksa memutar balik oleh Angkatan Laut AS.

Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, menyebut langkah itu telah melumpuhkan urat nadi ekonomi Iran.

“Sekitar 90 persen ekonomi Iran bergantung pada perdagangan laut. Dalam waktu singkat, perdagangan itu berhenti total,” tulis Cooper di akun X.

Semua kapal mematuhi perintah tanpa perlawanan. Tidak ada penggeledahan fisik menandakan strategi AS kini bertumpu pada kendali jalur strategis, bukan konfrontasi langsung.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.