BOLASPORT.COM - Ducati tengah mendapatkan sentimen kurang positif setelah hasil minor dari tiga seri balap pertama MotoGP 2026.
Ducati Lenovo disorot setelah dua pembalapnya yakni Francesco Bagnaia dan Marc Marquez belum mampu mempersembahkan podium dalam balapan utama.
Pencapaian terbaik duo pabrikan Borgo Panigale adalah pada ketika Sprint.
Bagnaia meraih podium kedua pada Sprint GP Amerika, sementara Marquez kedua pada Sprint GP Thailand dan pertama pada Sprint GP Brasil.
Sementara dalam balapan utama, duet Marc dan Pecco tak mampu membendung dominasi Aprilia melalui Marco Bezzecchi yang selalu menang.
Aprilia bahkan menguasai posisi ke-1 dan ke-2 berkat lesatan Bezzecchi dan Jorge Martin selaku rekan setim pada balapan GP Brasil dan GP Amerika.
Bagi Ducati, ini bukan kesulitan yang pertama.
Musim lalu peningkatan dari motor terbaru Ducati Desmosedici GP dipertanyakan ketika hanya Marc Marquez seorang yang bisa bersaing dengannya.
Sedangkan musim ini Marquez pun kewalahan walau perlu diperhatikan pula sejumlah nasib sial seperti pecah ban di Thailand dan penalti lap panjang di Amerika.
Mantan rekan setim Marc Marquez di Repsol Honda dulu yakni Pol Espargaro menjawab sorotan negatif mengenai Ducati.
Dia kurang setuju dengan anggapan bahwa Ducati terlalu percaya diri karena musim lalu masih bisa memburu gelar juara dengan faktor Marquez.
Pria yang kini menjadi pembalap penguji KTM sekaligus komentator program siaran MotoGP di DAZN menyatakan kesulitan Ducati murni karena sistem konsesi.
Terlalu dominan membuat Ducati mengalami berbagai pembatasan dalam regulasi konsesi yang baru sejak 2024 silam.
"Perlu diperhatikan bahwa semua pabrikan lain memiliki keunggulan," kata Espargaro kepada AS.com, dilansir BolaSport.com.
"Memang benar Ducati sedang mengalami kesulitan, tetapi kita harus menyadari bahwa Ducati telah dibatasi selama bertahun-tahun."
"Mereka tidak bisa melakukan modifikasi mesin, aerodinamika hanya bisa diutak-atik secara sangat terbatas, dan parameter yang bisa mereka ubah sangat sedikit."
"Semua pabrikan lain, terutama yang Jepang, tapi juga yang Eropa, termasuk Aprilia dan KTM, punya keuntungan lebih besar."
Pembatasan paling signifikan terjadi pada alokasi ban pengujian yang paling sedikit dan tidak ada lagi kuota wild card.
Aprilia, KTM, dan Honda selaku rival terdekat di Grup C mendapatkan 50 pasang ban lebih banyak daripada Ducati (170 pasang) untuk tes dan 6 jatah wild card dalam semusim.
Dengan jatah wild card, pabrikan bisa melakukan uji coba saat balapan. Pembalap wild card yang biasanya test rider tidak terikat aturan pembekuan mesin.
"Ducati hanya meningkatkan aerodinamika sedikit, tapi sangat sedikit."
"Tujuan dari sistem konsesi adalah untuk menciptakan hambatan bagi pabrikan yang paling unggul guna membantu pabrikan yang kurang unggul," ujarnya.
Pol Espargaro menilai bahwa media terlalu membesar-besarkan kesulitan Ducati. Menurutnya, anggapan krisis Ducati terlalu dilebih-lebihkan.
"Memang benar Ducati tidak meraih hasil seperti dulu lagi, tapi mereka telah terhalang oleh konsesinya itu," ujarnya.
Espargaro menyebut situasi sebenarnya akan terlihat musim depan.
Semua pabrikan akan berada di posisi yang sama ketika spesifikasi motor berubah dengan mesin 850cc, ban Pirelli, pembatasan aerodinamika, dan penghapusan ride height device.
"Saya rasa kita akan melihatnya pada 2027, ketika semua tim memulai dari nol dan memiliki keuntungan serta kendala yang sama," ucap Espargaro menjelaskan.
"Di situlah kita akan melihat apakah Ducati benar-benar dalam masalah atau tidak."
"Tapi saya yakin apa yang terjadi sekarang bukan akibat tahun ini, melainkan akibat empat tahun terakhir di mana mereka dibatasi tanpa konsesinya."