TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Pemanfaatan maggot sebagai solusi pengolahan sampah terus berkembang di Wonosobo.
Di TPS3R TPA Wonorejo, metode ini terbukti mampu mengurangi volume sampah secara signifikan sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi.
Aroma khas sampah organik tercium begitu memasuki area TPS3R TPA Wonorejo.
Di dalam hanggar, deretan kotak biopon tampak berjajar. Suara dengung mesin pencacah berpadu dengan aktivitas petugas yang sibuk mengolah limbah.
Baca juga: BUMD Wonosobo Borong Penghargaan di Top BUMD Awards 2026, Bupati Raih Pembina Terbaik
• Pembangunan Sekolah Rakyat Wonosobo Terus Berjalan, Target Rampung Juni 2026
Di tempat inilah, sampah rumah tangga diolah menjadi sesuatu yang lebih bernilai melalui budidaya maggot.
Sulaiman, petugas TPS3R TPA Wonorejo, tampak cekatan saat menunjukkan proses pengolahan.
Dengan alat sederhana, dia menggiling sampah organik menjadi bubur.
Dia menjelaskan, proses pengolahan dimulai dari pemilahan sampah dari masyarakat yang masuk TPA.
“Sampah masuk dari masyarakat, kami pilah antara organik sama anorganik, kami giling dan jadi bubur,” ujarnya kepada Tribunjateng.com, Rabu (15/4/2026).
Bubur sampah tersebut kemudian dimanfaatkan untuk dua kebutuhan utama, yakni bahan kompos dan pakan maggot.
Menurut Sulaiman, sisa pakan maggot justru menghasilkan pupuk yang lebih optimal.
Di area pembiakan, tampak wadah-wadah kecil berisi telur lalat.
Dalam hitungan hari, telur-telur itu akan menetas dan berkembang pesat.
Budidaya maggot di TPS3R Wonorejo mengikuti siklus alami lalat.
Proses dimulai dari telur yang menetas dalam waktu sekira tiga hari.
Setelah itu, maggot dipelihara hingga 21 hari sebelum dipanen.
“Setelah telur menetas, sekira tujuh hari kami pindah ke biopon, lalu 14 hari kemudian sudah bisa panen maggot,” jelasnya.
Biopon, yakni kotak besar berisi media sampah menjadi tempat utama pertumbuhan maggot.
Di sana, larva terus mengonsumsi bubur sampah hingga siap dipanen.
Setelah itu, sebagian akan berkembang menjadi pupa, lalu lalat dewasa yang kembali bertelur.
Siklus ini terus berulang sehingga produksi bisa berlangsung berkelanjutan.
Baca juga: Pemkab Wonosobo Dorong Program HDDAP untuk Perbaiki Pertanian Lahan Kering
• Banjir Wonosobo Belum Tuntas, DPUPR Kaji Pembangunan Sodetan Sungai
Dalam satu kotak biopon, sekira 20 gram maggot mampu mengolah hingga 150-160 kilogram bubur sampah selama 21 hari.
Sulaiman menambahkan, jika dikalikan dengan jumlah biopon yang ada, hasilnya cukup signifikan.
“Kalau ada sekira 15 biopon, berarti bisa mengolah sekira dua sampai 3,5 ton bubur sampah,” ungkap Sulaiman.
Faktor cuaca juga memengaruhi perkembangan maggot, terutama dalam proses perkembangbiakan lalat.
Hasil budidaya maggot di TPS3R Wonorejo tidak hanya membantu mengurangi sampah, tetapi juga menghasilkan produk yang bermanfaat.
Maggot segar dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti bebek, entok, dan ikan.
Selain itu, tersedia juga maggot kering yang diproses dengan cara disangrai.
“Untuk maggot kering, kami sangrai sekira satu jam, nanti jadi produk pakan untuk ikan seperti channa atau koi,” jelasnya.
Adapun harga yang ditawarkan cukup terjangkau. Maggot basah dijual Rp5.000 per kilogram, sementara maggot kering mencapai Rp35.000 per kilogram.
Program ini telah berjalan sekira tiga tahun di TPS3R Wonorejo.
Selain bernilai ekonomis, metode ini dinilai efektif dalam mengurangi beban tempat pembuangan akhir.
“Kami buat maggot juga untuk mengurangi volume sampah,” ujarnya.
Saat ini, penjualan maggot masih melayani masyarakat sekitar Wonosobo.
Operasional TPS3R dibuka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga pukul 12.00. (*)