TRIBUNKALTENG.COM - Update perang Iran vs Amerika, terkini kdi Timur Tengah kembali meningkat setelah militer Amerika Serikat mengklaim telah berhasil memberlakukan blokade terhadap akses Selat Hormuz yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pendekatan ini dilakukan dengan menempatkan kekuatan armada laut di titik-titik penting, sehingga seluruh aktivitas pelayaran yang keluar dan masuk wilayah Iran berada dalam pengawasan ketat.
Baca juga: Dampak Perang Iran vs Amerika Picu Harga Kripto Naik, Tarif Bitcoin Tol Kapal Tanker Selat Hormuz
Dampak kondisi tersebut, kapal-kapal yang melintas menghadapi risiko tinggi akibat meningkatnya kehadiran militer dan potensi konflik di perairan.
Dampaknya, aktivitas perdagangan laut Iran dilaporkan lumpuh total selama 36 jam, dengan kapal-kapal enggan keluar maupun masuk wilayah tersebut.
Klaim ini disampaikan oleh Brad Cooper, Komando Pusat AS (CENTCOM).
Dalam pernyataannya, ia menyebut bahwa pasukan AS telah mencapai superioritas maritim di kawasan Timur Tengah.
“Blokade pelabuhan Iran telah berhasil dipastikan, karena Angkatan Bersenjata AS telah mencapai superioritas maritim di Timur Tengah,” ujarnya.
Adapun blokade jalur pelayaran Iran dilakukan AS sebagai bagian dari respons atas meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Langkah ini disebut berkaitan dengan upaya menekan ancaman keamanan yang dituding berasal dari Iran, termasuk pengembangan rudal dan program nuklir.
Pemerintah AS menyatakan bahwa tindakan tersebut juga bertujuan melindungi kepentingan strategis dan sekutu di kawasan, sekaligus membatasi ruang gerak militer dan ekonomi Iran pasca militer negara itu memberlakukan tarif tinggi bagi kapal yang akan melintas di Selat Hormuz.
Namun buntut blokade yang dilakukan AS, banyak kapal dagang memilih untuk tidak melintas karena khawatir terhadap potensi konflik atau serangan.
Hal serupa juga diungkap media Azernews yang menyebut aktivitas perdagangan maritim Iran praktis berhenti total usai kapal-kapal komersial memilih menahan diri untuk tidak beroperasi di wilayah sekitar Iran.
Perdagangan Laut Lumpuh Rantai Pasok Global Terganggu
Situasi tersebut tidak hanya berdampak pada ekonomi Iran, tetapi juga mengganggu rantai pasok global, terutama yang berkaitan dengan energi dan logistik laut.
Sejumlah kapal komersial dilaporkan memilih menunda pelayaran dan tidak berani melintas karena meningkatnya risiko keamanan.
Para pelaku industri pelayaran menilai situasi di perairan sekitar Iran tidak lagi aman untuk dilalui, terutama bagi kapal pengangkut energi dan barang logistik.
Apabila kondisi tersebut terus berlanjut, gangguan terhadap rantai pasok global diperkirakan akan semakin meluas, berpotensi memicu kenaikan biaya logistik serta ketidakstabilan pasokan energi di berbagai negara.
Ancaman Meluas ke Perdagangan Global dan Energi Dunia
Gangguan keamanan di perairan sekitar Iran berdampak langsung pada aktivitas perdagangan laut yang kini dilaporkan mengalami kelumpuhan sementara.
Kondisi ini tidak hanya memukul perekonomian Iran, tetapi juga mulai mengganggu rantai pasok global, khususnya pada sektor energi dan logistik.
Akibatnya, aktivitas ekspor dan impor melalui jalur laut Iran praktis terhenti dalam periode tertentu. Barang-barang penting, termasuk minyak dan komoditas energi lainnya, tidak dapat didistribusikan secara normal ke pasar internasional.
Para pelaku industri pelayaran menilai perairan di sekitar Iran sudah tidak aman untuk dilalui, terutama bagi kapal pengangkut energi dan logistik yang memiliki nilai strategis tinggi.
Situasi ini memperbesar tekanan terhadap distribusi global, mengingat kawasan tersebut merupakan salah satu jalur utama perdagangan dunia.
Lebih lanjut, kepala Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Food and Agriculture Organization (FAO) , Maximo Torero, menjelaskan bahwa gangguan distribusi melalui Selat Hormuz dapat berdampak langsung pada sektor agribisnis global.
Jalur ini menjadi rute vital bagi pengiriman energi dan bahan baku pupuk ke berbagai negara.
Jika distribusi terganggu, harga pupuk dan energi berpotensi melonjak, yang pada akhirnya meningkatkan biaya produksi pertanian.
Dalam jangka pendek, harga bahan makanan dapat mengalami lonjakan, sementara dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko memicu inflasi pangan yang lebih luas.
“Hal yang paling tidak kita inginkan adalah hasil panen menurun dan harga pangan meningkat,” ujar Torero, sebagaimana dikutip dari Reuters.
Dalam kondisi tersebut, dunia berpotensi menghadapi krisis pangan yang lebih parah dibandingkan masa pandemi COVID-19.
Amerika Serikat (AS) mengatakan militernya telah sepenuhnya menghentikan perdagangan masuk dan keluar Iran melalui laut, Rabu (15/4/2026).
Hal ini disampaikan AS meskipun Presiden Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran tentang mengakhiri perang dapat dilanjutkan minggu ini.
Trump mengatakan negosiasi antara pejabat AS dan Iran dapat dilanjutkan di Pakistan dalam dua hari ke depan dan Wakil Presiden J.D. Vance, yang memimpin pembicaraan akhir pekan yang berakhir tanpa terobosan, mengatakan dia merasa positif tentang perkembangan situasi.
“Saya pikir Anda akan menyaksikan dua hari yang luar biasa ke depan,” kata Trump kepada reporter ABC News Jonathan Karl, Rabu.
Trump menambahkan bahwa dia tidak berpikir perlu untuk memperpanjang gencatan senjata dua minggu yang berakhir pada 21 April 2026.
“Ini bisa berakhir dengan cara apa pun, tetapi saya pikir kesepakatan lebih baik karena kemudian mereka dapat membangun kembali,” kata Trump, menurut unggahan Karl di X.
“Mereka benar-benar memiliki rezim yang berbeda sekarang. Apa pun yang terjadi, kita telah menyingkirkan kaum radikal," lanjutnya.
Pejabat dari Pakistan dan Iran juga mengatakan tim negosiasi dari AS dan Iran dapat kembali ke Pakistan akhir pekan ini, meskipun satu sumber senior Iran mengatakan belum ada tanggal yang ditetapkan.
Terlepas dari nada optimis tersebut, lebih banyak kapal yang dipulangkan kembali akibat blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, termasuk kapal tanker Rich Starry milik China yang dikenai sanksi AS, yang sedang dalam perjalanan kembali ke Selat Hormuz pada hari Rabu setelah keluar dari Teluk Persia.
Laksamana Brad Cooper, kepala Komando Pusat AS, mengatakan pasukan Amerika telah sepenuhnya menghentikan perdagangan ekonomi yang masuk dan keluar Iran melalui laut, yang menurutnya menopang 90 persen perekonomian Iran.
“Dalam waktu kurang dari 36 jam sejak blokade diberlakukan, pasukan AS telah sepenuhnya menghentikan perdagangan ekonomi yang masuk dan keluar Iran melalui laut,” kata Cooper dalam sebuah unggahan di X.
Militer AS Sebut Blokade Iran Masih Berlaku
Harapan untuk dimulainya kembali pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat pada Rabu.
Munculnya harapan itu setelah militer AS mengatakan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran masih berlaku penuh dan Teheran mengancam akan membalas dengan menyerang target di seluruh wilayah yang dilanda perang tersebut.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Selasa bahwa putaran kedua pembicaraan dapat terjadi "dalam dua hari ke depan," dan mengatakan kepada New York Post bahwa negosiasi dapat diadakan lagi di Islamabad karena para diplomat berupaya mengaturnya melalui jalur belakang.
Para pejabat regional mengatakan pada hari Rabu bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai "kesepakatan prinsip" untuk memperpanjang gencatan senjata selama dua minggu, yang akan berakhir pada 22 April, untuk memungkinkan lebih banyak diplomasi.
Salah satu pejabat yang terlibat dalam upaya mediasi mengatakan bahwa para mediator sedang berupaya mencapai kompromi atas tiga poin utama yang diperselisihkan — program nuklir Iran, Selat Hormuz, dan kompensasi atas kerusakan yang dialami Iran selama perang.
Kedua pejabat tersebut berbicara dengan syarat anonim untuk membahas masalah ini.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengatakan bahwa "sangat mungkin" pembicaraan akan dimulai kembali, mengutip pertemuan yang ia adakan dengan Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar.
Kantor Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan bahwa ia akan melakukan perjalanan ke Arab Saudi pada hari Rabu karena negaranya berupaya untuk menengahi pembicaraan baru, sebelum menuju ke Turki untuk Forum Perdamaian Anatalya, yang dimulai pada hari Jumat.
Harga minyak turun karena harapan akan berakhirnya pertempuran, dan di AS saham melonjak mendekati rekor yang ditetapkan pada bulan Januari.
Upaya Pakistan
Pakistan sedang berupaya untuk mempertemukan kembali Iran dan AS untuk putaran kedua pembicaraan.
Upaya Pakistan ini juga untuk mengamankan perpanjangan gencatan senjata guna memungkinkan diplomasi antara AS dan Iran.
Pembicaraan di Islamabad, Pakistan, yang berlangsung dari Sabtu (11/4/2026) hingga Minggu (12/4/2026) pagi waktu setempat, adalah pertemuan langsung AS-Iran pertama dalam lebih dari satu dekade dan diskusi tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam Iran tahun 1979.
“Upaya sedang dilakukan untuk membawa kedua pihak kembali ke meja perundingan, tentu saja kami ingin mereka kembali ke Islamabad, tetapi tempatnya belum final,” kata seorang sumber senior Pakistan kepada AFP, Selasa (14/4/2026).
“Pertemuan itu bisa segera berlangsung meskipun tanggalnya belum dikonfirmasi,” kata sumber tersebut.
Sumber tersebut menambahkan: “Kami juga berupaya agar gencatan senjata diperpanjang melampaui batas waktu saat ini untuk memberikan waktu tambahan.”
(Tribunnews.com/tribunkalteng.com)