TRIBUNPRIANGAN.COM – Muhasabah diri adalah introspeksi dan evaluasi amal perbuatan di dunia untuk memperbaiki diri, meningkatkan kebaikan, serta memohon ampunan atas dosa.
Praktik ini penting untuk mempersiapkan diri sebelum hari hisab, sesuai pesan Umar bin Khattab untuk menimbang amal sebelum ditimbang di akhirat. Muhasabah membawa keselamatan abadi.
Berbicara perihal Jumat esok hari, tepatnya di hari Jumat tanggal 17 April 2026, kita selaku laki-laki beragama muslim akan melaksanakan ibadah Salat Jumat.
Hari Jumat yang merupakan Sayyidul Ayyam atau Penghulunya Hari pun diyakini oleh kaum muslimin sebagai hari yang penuh keberkahan.
Khusus untuk khutbah pada Jumat esok hari, berikut merupakan naskah khutbah Jumat tanggal 17 Mei 2026 yang sudah TribunPriangan.com lansir dari berbagai sumber tentang "Muhasabah Diri Meraih Keselamatan Akhirat".
Baca juga: Naskah Singkat Khutbah Jumat 17 April 2026: 3 Sifat Riya Penghalang Aliran Pahala
Khutbah 1
الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِتَرْك الْمَنَاهِيْ وَفِعْلِ الطَّاعَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبهِ الهَادِيْنَ لِلصَّوَابِ وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ اْلمَآبِ
اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Baca juga: Naskah Singkat Khutbah Jumat 17 April 2026: Doa Untuk Hal Mustahil
Jemaah Jumat rahimakumullah
Di mimbar ini, Alfaqir mengajak jamaah Jumat dan kepada diri sendiri agar senantiasa mempertebal tingkat ketakwaan kepada Allah swt. Takwa adalah kunci kesuksesan di dunia meraih kebahagiaan yang abadi kelak di akhirat. Dengan takwa juga, kita akan mendapat jalan keluar yang tak disangka-sangka atas aneka permasalahan yang menimpa kita di dunia.
Salawat dan salam marilah senantiasa kita haturkan kepada Rasulullah, Muhammad saw. Nabi terakhir yang menjadi panutan kita bersama dalam mengarungi kehidupan di dunia untuk meraih ridha dan kasih Allah swt. Nabi Muhammad saw membawa ajaran Islam untuk umatnya agar menjadi hamba Allah yang taat dan selalu menghiasi diri dengan kebaikan-kebaikan di antara sesama.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 17 April 2026: Azab Untuk Orang Munafik
Jemaah Jumat rahimakumullah
Manusia diciptakan dengan berbagai kelebihan dan keunggulan atas makhluk-makhluk Allah yang lainnya. Kendati demikian, manusia memiliki keterbatasan-keterbatasan tertentu yang kadang membuat manusia alpa atau lalai terhadap ketentuan-ketentuan yang ditetapkan agama. Oleh
karena itu dibutuhkan muhasabah atau introspeksi diri atas segala tindakan yang dilakukan di dunia. Muhasabah ini perlu dilakukan dengan istikamah sebagai pengingat bahwa segala perbuatan tidak akan luput dari catatan-catatan malaikat. Apakah konsisten dalam prilaku terpuji atau justru sebaliknya. Tentu saja kita berharap Allah swt selalu memberikan petunjuk dan rahmat-Nya agar senantiasa bisa melaksanakan perintah-perintah Allah dan konsisten menjauhi larangan-larangan-Nya. Amin ya rabbal alamin.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 17 April 2026 - Hari Kartini Menghormati Perempuan Sesuai Ajaran Islam
Jemaah Jumat rahimakumullah
Muhasabah diri adalah perintah agama. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan Sayyidina Umar bin Khattab. Ia pernah berkata:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا
Artinya, “Hisablah diri (introspeksi) kalian sebelum kalian dihisab, dan berhias dirilah kalian untuk menghadapi penyingkapan yang besar (hisab). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia.”
Sayyidina Umar menyerukan kepada kita agar kerap mengevaluasi diri. Ini penting, di samping sebagai pemicu agar tindakan kita selalu sesuai dengan rel kehidupan yang ditetapkan agama, juga memastikan prilaku-prilaku tercela yang kadung kita kerjakan tidak terulang kembali di kemudian hari. Dengan demikian, tanggung jawab kita di hadapan Allah swt tidak terlalu berat alias ringan.
Dalam hadits Rasulullah bersabda:
عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتََنَّى عَلَى اللَّهِ
Artinya, "Dari Syadad bin Aus ra, dari Nabi Muhammad saw bahwa beliau bersabda, ‘Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.' (HR Tirmidzi. Ia berkata, “Ini hadits hasan”).
Hadits ini secara tersirat mengungkapkan bahwa akallah yang seharusnya menundukkan nafsu bukan sebaliknya. Nafsu merupakan sebuah potensi yang sejatinya hanya untuk memenuhi kebutuhan wajar dan alamiah manusia, semisal makan, minum, kawin, tidur, atau sejenisnya. Tatkala nafsu menunggangi akal sehat, maka yang terjadi adalah tamak dan kesewenang-wenangan. Saat itulah muhasabah dibutuhkan untuk memperbaiki diri.
Dari penjelasan ini, ada manfaat penting yang bisa dicatat dari introspeksi diri. Yakni ishlâh atau semangat membenahi diri. Introspeksi membuka mata kita tentang kelemahan-kelemahan, kekurangan-kekurangan, untuk di kemudian diperbaiki. Introspeksi juga mengandaikan adanya perencanaan sebelum melakukan sesuatu agar kesalahan yang serupa tidak terulang.
Sebagai hamba, manusia diwajibkan untuk memposisikan kehidupan di akhirat lebih utama daripada alam duniawi ini. Dengan introspeksi diri mereka sesungguhnya sedang mengejawantahkan ajaran bahwa kelak semua yang diperbuat anggota badan manusia akan dipertanggungjawabkan di kehidupan kelak. Sebagiamana tertuang dalam Surat Yasin ayat 65:
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Artinya, “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan” (Q.S. Yasin/36 : 65)
Baca juga: Naskah Singkat Khutbah Jumat 17 April 2026: Ketakwaan Kunci Kesuksesan Dunia dan Akhirat
Jemaah Jumat rahimakumullah
Marilah kita selalu introspeksi diri guna meneguhkan cinta kita kepada Allah dan Rasulullah Muhammad saw. Allah telah menegaskan kepada kita semua bahwa jika umat Islam memang benar-benar cinta kepada Allah, maka ikutilah semua tingkah-laku Rasulullah, dan untuk mengikutinya, terlebih dahulu kita harus cinta kepadanya. Dalam Al-Qur’an Allah swt berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya, “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Ali ‘Imran [3]: 31).
Merujuk penjelasan Imam Fakhruddin ar-Razi dalam kitab Tafsir Mafatihul Ghaib, ayat ini Allah swt turunkan kepada Nabi Muhammad untuk menjawab pengakuan-pengakuan orang yang mengaku cinta kepada Allah namun enggan untuk mengikuti apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad. Misal, orang-orang Yahudi yang mengaku cinta kepada Allah, dan orang Nasrani yang mengakui bahwa pemuliaan mereka kepada al-Masih merupakan bukti cintanya kepada Allah.
Tidak hanya kepada Yahudi dan Nasrani saja, ayat ini juga diturunkan kepada semua orang-orang yang mengaku cinta kepada Allah swt, namun mereka tidak mengikuti semua yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, maka pengakuan cinta itu pada dasarnya merupakan pengakuan dusta yang tidak memiliki makna apa-apa.
Demikian khutbah Jumat singkat ini. Semoga kita menjadi hamba yang selalu taat kepada Allah. Nabi Muhammad juga telah memberikan teladan penting bagi kita semua melalui tindakan nyata melalui risalah atau ajaran Islam yang dibawa.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 17 April 2026: Memastikan Ikhlas saat Beribadah
Khutbah 2
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ