BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU – Dini hari di Makkah pada 17 Juni 2025 lalu, seorang jemaah lanjut usia berusia 72 tahun asal Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Hasbullah Ihsan, keluar dari penginapannya tanpa sepengetahuan rombongan.
Ia tidak kembali. Petugas kemudian melakukan pencarian.Hasbullah diketahui memiliki riwayat demensia.
Peristiwa itu menjadi catatan evaluasi penyelenggaraan ibadah haji di Kalsel. Pada musim haji 2026, pengawasan terhadap jemaah, khususnya lanjut usia dan kelompok berisiko diperketat.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Kalsel, Eddy Khairani mengatakan, pendampingan jemaah menjadi fokus utama, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit tertentu.
”Pendampingan kita perkuat, terutama untuk jemaah haji lansia dan yang memiliki riwayat penyakit,” ujar Eddy, Kamis (16/4/2026).
Baca juga: Harga Terong Ungu Tembus Rp15 Ribu Per Kilogram, Pedagang Makanan di Banjarbaru Bingung
Baca juga: BREAKING NEWS- Warga Antasan Kecil Barat Banjarmasin Geger, Temukan Dugaan Mortir di Dalam Rumah
Pengawasan dilakukan secara berlapis, dengan melibatkan petugas haji, tenaga kesehatan, dan anggota rombongan.
Jemaah diimbau tetap berada dalam kelompok dan tidak beraktivitas sendirian di luar keperluan ibadah.
Dari sisi kesehatan, Dinas Kesehatan Kalsel menyiapkan 30 tenaga kesehatan yang terdiri dari 15 dokter dan 15 perawat untuk mendampinhi 15 kloter.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kalsel, Anhar Ihwan mengatakan, perhatian terhadap gangguan kognitif seperti demensia juga diperkuat sejak tahap awal.
“Masalah demensia juga kita perketat dari awal, mulai dari mereka terdaftar haji, itu sudah dilakukan upaya-upaya di kabupaten kota,” ujar Anhar.
Ia berharap, berbagai upaya tersebut membuat kondisi jemaah sudah terpantau dengan baik sebelum masuk asrama haji.
“Kita berharap pada saat jemaah sudah masuk asrama, permasalahan-permasalahan itu sudah clear,” katanya.
Selain itu, Anhar menyebut adanya perubahan tren penyakit pada jemaah tahun ini.
Jika tahun sebelumnya hipertensi menjadi penyakit terbanyak, tahun ini justru digeser oleh gangguan metabolisme lemak atau dislipidemia sebagai kasus dominan.
“Kalau tahun lalu hipertensi nomor satu, sekarang bergeser. Gangguan metabolisme lemak justru lebih tinggi,” ujarnya.
(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki)