Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pemkot Bandung melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), kembali mengadakan forum Ngumpul Diskusi Teknologi Informasi dan Komunikasi Data Statistik (NGULIK), pada Kamis (16/4/2026).
Pada kegiatan forum NGULIK kali ini mengambil tema Artifical Intellegence For Leader yang dibuka Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Bandung, Henryco Arie Sapiie, dihadiri anggota Komisi III DPRD Kota Bandung, Aan Andi Purnama, dan narasumber, Praktisi Manajemen Strategi dan Dosen, Samidi.
Henryco mengatakan, pelaksanaan sistem pemerintahan berbasis elektronik (SPBE) yang merupakan amanah dari pemerintah pusat sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2018, telah mengantarkan Kota Bandung meraih nilai tertinggi di tingkat pemerintahan kota di Indonesia dengan indeks 4,66 atau sangat memuaskan.
"Sebagai upaya mempertahankan nilai tersebut salah satunya dengan cara melaksanakan peningkatan kompetensi SDM digital yang berkelanjutan. Terutama SDM pemimpin digital. Oleh sebab itu, hari ini kita semua mengikuti acara Ngulik AI for Leaders," ujarnya dalam Forum NGULIK, Kamis (16/4/2026).
Dia mengatakan, AI atau kecerdasan buatan bukan lagi sesuatu yang hanya dibicarakan di masa depan, tetapi telah menjadi realitas yang harus dihadapi.
Sehingga Pemerintah Kota Bandung sudah menggunakan AI dalam analisis data serta dalam mengambil dalam pengambilan keputusan.
"Oleh karena itu para pemimpin di tingkat pemerintah perlu memahami, mengenali dan memanfaatkan teknologi ini secara bijak dan strategis. Tema AI for Leaders sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi pemerintah daerah saat ini," kata Henryco.
Menurutnya, seorang pemimpin tidak cukup hanya memahami kebijakan dan administrasi, tetapi juga harus mampu membaca perubahan bahan zaman, memahami perkembangan teknologi, serta mengambil keputusan yang cepat, tepat, dan berbasis data.
"Artificial Intelligence dapat membantu pemerintah dalam banyak hal, antara lain meningkatkan kualitas pengambilan keputusan melalui analisis data yang lebih cepat dan akurat," ucapnya.
Selain itu, kata dia, AI juga mendukung perencanaan program dan kebijakan berbasis kebutuhan masyarakat, mempercepat pelayanan publik melalui partisipasi dan digitalisasi, memperkuat pengawasan, evaluasi, dan manajemen resiko serta meningkatkan efisiensi kerja di lingkungan perangkat daerah.
"Namun demikian, pemanfaatan AI juga harus disertai dengan tanggung jawab. Kita harus memastikan bahwa teknologi ini digunakan secara etis, aman, transparan dan tetap berorientasi pada kepentingan masyarakat," ujar Henryco.
Menurutnya, jangan sampai teknologi ini menimbulkan kesenjangan, penyalahgunaan data ataupun menurunkan kualitas pelayanan.
Sehingga melalui kegiatan NGULIK ini dia berharap seluruh peserta dapat memperoleh wawasan baru.
"Serta membangun pemahaman yang sama mengenai AI agar yang sudah mulai dimanfaatkan di Pemerintah Kota Bandung ini dapat lebih dikembangkan dan dimanfaatkan untuk mendukung kepemimpinan dan tata kelola pemerintahan yang lebih baik," katanya.
Atas hal tersebut, pihaknya mengajak seluruh perangkat daerah untuk menjadikan forum ini sebagai momentum memperkuat sinergi, memperluas inovasi dan menumbuhkan semangat perubahan menuju pemerintahan yang modern, responsif dan berdaya saing.
"Akhir kata, saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para narasumber, panitia dan seluruh pihak yang berkontribusi dalam penyela penyelenggaraan kegiatan ini," ujarnya.
Henryco juga berharap, kegiatan ini bisa memberikan manfaat yang besar serta menjadi langkah yang nyata dalam mewujudkan Pemerintah Kota Bandung yang semakin maju, cerdas dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Sementara Aan Andi mengatakan, Kota Bandung selalu dikenal sebagai kota yang inovatif, melahirkan ide-ide besar, dan tidak pernah takut bereksperimen dengan hal-hal yang baru.
Hal itu dibuktikan dengan adanya pembahasan soal AI pada forum NGULIK kali ini.
"Saya harus jujur, kemarin ketika saya mendapatkan undangan, pertama kali saya baca adalah tema, ini menarik saya kira. AI for leader, ada satu pertanyaan yang langsung muncul di benak saya apakah AI akan menggantikan peran pemimpin," ujar Andi.
Setelah dipelajari dan diskusikan dengan berbagai pihak, kata dia, ternyata jawabannya bahwa AI ini tidak akan menggantikan pemimpin.
Tetapi akan menggantikan pemimpin yang berhenti berkembang, sehingga acara seperti NGULIK tersebut dinilai menjadi sangat penting.
"Tentu ini bukan sebagai perintah, tapi ini adalah sebagai ajakan dari seorang sesama yang juga sedang belajar menghadapi perubahan zaman ini. Pertama, jadikanlah AI sebagai alat, bukan tuan, sebagai pemimpin kita harus gas, memegang prinsip. Ini teknologi hadir untuk melayani manusia, bukan sebaliknya," katanya.
Dia mengatakan, AI boleh menganalisis data, menyusun laporan, bahkan membantu merumuskan kebijakan.
Tapi keputusan akhir, keputusan yang sangat menyangkut nasib masyarakat, nasib organisasi, nasib orang-orang yang dipimpin itu tetap ada di tangan pemimpin.
"Jangan sampai kita menjadi pemimpin yang hanya memindahkan tanggungjawab pada algoritma. Kedua, kuasai literasi digital sebagai kompetensi wajib pemimpin. Di DPRD Kota Bandung, kami menyadari bahwa tantangan tata kelola pemerintahan hari ini semakin kompleks, data semakin besar, persoalan semakin beragam dan masyarakat semakin kritis," ucapnya.
Sementara Samidi mengatakan, implementasi AI di Kota Bandung sudah luar biasa jika dibandingkan dengan beberapa kota-kota lain di Indonesia.
Namin, AI ini hanya sebatas alat yang difungsikan sebagai alat bantu, bukan kemudian keputusan dan kebijakan diserahkan ke algoritma.
"Jadi kata kuncinya adalah ini data ya dan menjadi keputusan. Dari prediksi itu menjadi kebijakan, maka data ini kita pakai dalam rangka untuk pengambilan keputusan," kata Samidi.
Dia menekankan bahwa kunci utama dalam pengambilan keputusan tetap terletak pada data.
Data yang diolah melalui AI dapat membantu menghasilkan prediksi, yang kemudian menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan yang lebih tepat.
Samidi mengatakan, kualitas seorang pemimpin salah satunya diukur dari kemampuannya dalam mengambil keputusan.
Oleh karena itu, pemanfaatan AI diharapkan mampu mendukung para pemimpin dalam menyediakan alternatif kebijakan berbasis data.
"AI bisa membantu berpikir secara sistematis, tetapi tidak bisa menggantikan sisi manusiawi dalam pengambilan keputusan," ucapnya.
Dengan demikian, peran AI dalam pemerintahan lebih difokuskan sebagai alat pendukung dalam proses pengambilan keputusan, khususnya dalam menyediakan data, prediksi, serta rekomendasi kebijakan berbasis analisis yang mendalam.