Petani Terdampak Bencana Diminta Bertahan, Sarankan Tanam Ubi di Lokasi Lahan Pertanian Rusak
Rahmadi April 16, 2026 10:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sumatera Barat meminta para petani tetap produktif mengolah tanah meski saat ini sedang menghadapi kondisi lahan pertanian rusak berat.

Pemerintah daerah mengusulkan agar warga mulai melirik tanaman alternatif seperti jagung atau ubi kayu sebagai solusi mandiri di area lahan pertanian rusak berat yang belum tersentuh anggaran perbaikan.

Penanganan lahan pertanian rusak berat akibat bencana besar pada November 2025 di Sumatera Barat hingga kini masih menghadapi ketidakpastian. 

Pemerintah daerah mengungkapkan belum adanya alokasi anggaran khusus untuk rehabilitasi lahan dengan tingkat kerusakan parah tersebut.

Kepala Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sumbar, Afniwirman, mengatakan bahwa saat ini pemerintah pusat baru mengalokasikan anggaran untuk perbaikan lahan kategori rusak ringan dan sedang.

Baca juga: Waspada Hujan Lebat di Sumatera Barat hingga Pukul 21:30 WIB, BMKG Terbitkan Peringatan Dini

“Sampai saat ini, anggaran yang disampaikan ke kita itu baru untuk penanganan lahan rusak ringan dan rusak sedang. Untuk rusak berat, belum tersedia anggarannya,” ujar Afniwirman saat diwawancarai TribunPadang.com di ruang kerjanya, Kamis (16/4/2026).

Ia menjelaskan, lahan dengan kategori rusak berat membutuhkan penanganan berbeda karena umumnya sudah tertimbun material besar dan memerlukan alat berat untuk pemulihannya.

Menurutnya, terdapat wacana dari pemerintah pusat melalui Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian bahwa penanganan lahan rusak berat kemungkinan akan dialihkan ke Kementerian Pekerjaan Umum.

“Karena rusak berat ini membutuhkan alat berat, tentu di sektor pertanian kita tidak memiliki kemampuan untuk itu. Namun sampai sekarang belum ada kepastian bagaimana penanganannya,” jelasnya.

Afniwirman mengakui kondisi di lapangan cukup memprihatinkan. Sejumlah wilayah bahkan sudah tidak lagi memiliki struktur tanah yang layak untuk bercocok tanam karena dipenuhi material batu.

Baca juga: Bupati Padang Pariaman Resmikan 6 Jembatan di Tengah Efisiensi, Akses Warga Kembali Pulih

Beberapa lokasi terdampak parah di antaranya berada di Kecamatan Tanjung Raya dan Palembayan di Kabupaten Agam, Paninggahan di Kabupaten Solok, serta Malalo di Kabupaten Tanah Datar.

“Itu sudah bebatuan semua. Mau tanam apa? Memang kondisinya sangat berat,” katanya.

Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah daerah mendorong masyarakat untuk tetap memanfaatkan lahan yang masih memungkinkan ditanami, meskipun bukan dengan komoditas utama seperti padi.

“Kita sarankan apa yang bisa ditanam dulu, seperti jagung, ubi kayu, atau tanaman lain yang penting bisa menghasilkan,” ujarnya.

Untuk lahan yang benar-benar tidak bisa dimanfaatkan, masyarakat juga didorong untuk melihat potensi lain, seperti pemanfaatan material batu yang ada di lahan tersebut.

“Kalau memang tidak bisa ditanami, mungkin materialnya bisa dimanfaatkan. Setelah itu, ketika tanahnya sudah muncul kembali, baru bisa kita kembangkan lagi untuk pertanian,” tambahnya.

Baca juga: Pemerintah Siapkan 2 Pabrik Pengolahan Gambir di Sumbar, Hilirisasi Sasar Pessel dan Limapuluh Kota

Ia menegaskan, langkah ini diambil sebagai solusi sementara agar aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan sambil menunggu kepastian penanganan dari pemerintah pusat.

“Yang penting ada aktivitas dan ekonomi masyarakat tetap hidup, sambil kita menunggu penanganan lahan rusak berat ini secara menyeluruh,” pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.