TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Di tengah tren harga tinggi, perdagangan pasar fisik emas secara digital di Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) meningkat pesat.
Berdasarkan data ICDX, total transaksi selama kuartal I/2026 mencapai 30,92 juta gram, tumbuh 246 persen dibandingkan dengan periode sama tahun lalu dengan total transaksi sebesar 8,94 juta gram.
Meski demikian, sebagai catatan, sepanjang 2025 transaksi pasar fisik emas secara digital di ICDX mencapai 56,59 juta gram.
Direktur ICDX Nursalam mengatakan, pertumbuhan transaksi di kuartal I/2026 menunjukkan perdagangan pasar fisik emas secara digital di Bursa Berjangka makin diminati masyarakat.
Namun, ICDX terus menghimbau kepada masyarakat untuk tetap berhati-hati terhadap berbagai penawaran perdagangan emas digital yang ada di media sosial.
Ke depan, ICDX akan terus berkolaborasi dengan semua pemangku kepentingan termasuk regulator, dalam hal ini Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), untuk meningkatkan transaksi dengan terus memasyarakatkan ekosistem ini.
"Dengan melihat tren yang ada di kuartal I tahun 2026 ini, kami optimistis sampai akhir tahun transaksi akan tumbuh positif," katanya, dalam keterangan resmi, Rabu (15/4).
Kepala Bappebti, Tirta Karma Senjaya mengatakan, sejak awal ekosistem perdagangan pasar fisik emas secara digital ini berjalan di Indonesia, Bappebti selalu memastikan keberadaan emas fisik yang diperdagangkan. Hal itu sebagai upaya untuk memastikan perlindungan terhadap masyarakat.
Dalam ekosistem ini, Bappebti sebagai regulator mengawasi baik Bursa sebagai tempat perdagangan, Lembaga Kliring untuk penjaminan dan penyelesaian transaksi, maupun Lembaga Depository sebagai lembaga yang berfungsi menyimpan emas fisik yang diperdagangkan.
"Harapannya, ekosistem ini akan terus tumbuh dan menjadi alternatif bagi masyarakat untuk berinvestasi," ucapnya.
Berkait dengan pasar fisik emas secara digital, data Bappebti pada 2025 mencatat total investor di ekosistem ini mencapai 10,52 juta orang.
Dari sisi kelompok usia, investor kalangan muda mendominasi sebanyak 36,3 persen di rentang usia 25-34 tahun, dan 32,6 persen di rentang usia 18-24 tahun. Dari latar belakang profesi, kalangan mahasiswa/pelajar mendominasi dengan 35,1 persen.
Sementara dari sisi transaksi, 94,9 persen melakukan transaksi di bawah 1 gram, dan dari sisi nilai sebanyak 92,6 persen melakukan transaksi dengan nilai di bawah Rp 1 juta.
Sangat fluktuatif
Adapun, pergerakan harga emas tercatat sangat fluktuatif di tengah perang di kawasan Timur Tengah antara Israel-Amerika Serikat Vs Iran.
Harga emas dunia di pasar spot kini berada di kisaran 4.837,8 dolar AS per ons troi, setelah sebelumnya sempat menembus 5.000 dolar AS.
Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX) Yazid Kanca Surya mengatakan, emas merupakan satu safe haven (aset aman), tetapi tidak selalu naik saat terjadi perang.
Menurutnya, harga emas turut dipengaruhi pergerakan harga energi, karena saat terjadi perang di kawasan Timur Tengah harga minyak dunia melonjak.
"Negara yang memiliki pasokan emas tinggi akan menjual emasnya di pasar agar cashflownya dalam jumlah besar untuk membeli energi, sehingga harga emas turun," bebernya, Rabu (15/4).
Diketahui harga minyak dunia sejak perang AS-Iran terus melonjak, bahkan sempat menembus 100 dolar AS per barel, dan kini berada di kisaran 97 dolar AS per dolar AS.
Meski harga emas turun, Yazid menuturkan, secara jangka panjang komoditas itu mengalami kenaikan karena merupakan aset yang paling aman.
"Kalau ada koreksi, itu hanya bersifat sementara. Secara historis juga bisa dilihat, dari dulu emas walau ada koreksi akibat krisis, perang, tapi tetap naik jangka panjang," bebernya.
Yazid pun mengimbau investor yang bertransaksi komoditas emas di Bursa Berjangka Jakarta agar dapat dilakukan secara terukur, dengan mempertimbangkan keuangannya.
"Kadang-kadang orang melihat emas bagus, lalu semua uangnya dimasukkan (trading). Ketika turun, uangnya habis. Harusnya misal punya Rp 10 juta, digunakan 10 persen saja untuk transaksi," tuturnya.
Di tengah tekanan geopolitik dan fluktuasi harga komoditas, Yazid menyebut, pelaku pasar semakin membutuhkan instrumen yang mampu memberikan perlindungan terhadap risiko sekaligus menjaga keberlanjutan usaha.
“Dalam kondisi pasar yang semakin tidak pasti, kebutuhan terhadap mekanisme lindung nilai menjadi semakin relevan. Perdagangan berjangka hadir sebagai instrumen yang transparan, terstandarisasi, dan mendukung pembentukan harga yang kredibel di pasar,” jelasnya.
Ia menyebut, PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX) juga terus mendorong penguatan ekosistem perdagangan yang lebih transparan, terawasi, dan memberikan perlindungan yang lebih baik bagi seluruh pelaku pasar.
Dia menambahkan, JFX juga mengembangkan perdagangan emas digital yang menggabungkan kemudahan transaksi berbasis digital dengan kepastian underlying emas fisik.
"Sehingga memberikan keseimbangan antara aksesibilitas dan keamanan bagi investor," tukasnya. (Kontan/Vendy Yhulia Susanto/Tribunnews)