Harga Plastik di Kaltara Melejit, Dosen Hubungan Internasional Ungkap Penyebabnya
Adhinata Kusuma April 17, 2026 10:14 AM

 

TRIBUNKALTARA.COM - Pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) di provinsi Kalimantan Utara  belakangan ini mengeluh soal naiknya harga plastik. 

Seperti halnya Reki, Owner Northman Coffe yang menjual minuman kopi di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Tarakan.

Harga gelas plastik naik 30 persen dari biasanya di angka Rp 36.000 kini menjadi Rp48.000. 

Gelas plastik ukuran kecil yang biasanya Rp6.500 dan kini sudah naik menjadi Rp7.500 alias ada kenaikan 1.000-an. 

Ukuran sedang di harga awal Rp6.800 dan kini alami kenaikan sama sekitar Rp1000-an. 

Per satu bungkus biasanya di angka Rp6.500 berisi 25 cup.

Baca juga: Harga Plastik Naik, Pedagang UMKM di Tanjung Selor Bulungan Menjerit, Untung Kian Menipis

Harganya berbeda lagi jika nanti sudah dicetak.

Kenaikan harga material pembungkus ini terpantau juga terjadi di tingkat distributor wilayah perkotaan Malinau dengan persentase peningkatan mencapai 50 persen jika dibandingkan harga normal.

Berdasarkan pantauan TribunKaltara.com di pasar lokal, harga satu pak wadah makanan plastik isi 25 biji yang sebelumnya berkisar Rp 22 ribu kini melonjak hingga menembus angka Rp 35 ribu per pak.

Kenaikan serupa juga terjadi pada plastik kiloan yang biasanya dijual Rp 9 ribu per kilogram, saat ini harus ditebus pedagang dengan harga mencapai Rp 15 ribu di tingkat pengecer.

Pelaku usaha kuliner, Nurhayati, menyebutkan pemberian biaya tambahan untuk kemasan merupakan langkah formal yang paling rasional untuk saat ini guna menghindari kerugian margin.

"Saat ini kita masih mempertimbangkan biaya untuk wadah plastik, tapi jika terjadi lagi kenaikan mungkin perlu juga penyesuaian harga makan minum yang kita jual," ujarnya.

Baca juga: Harga Plastik Melonjak di Nunukan, Kemungkinan Bakal Terus Naik, Pedagang Terpaksa Ikut Naikkan

Dampak Konflik Global

Kenaikan harga plastik ini disinyalir akibat dampak perang di kawasan Timur Tengah. 

Hal ini diungkap oleh Akademisi Hubungan Internasional Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda, Kalimantan Timur, dengan konsentrasi Timur Tengah, Aisyah.

Aisyah menjelaskan bahwa perang di kawasan tersebut memberikan dampak signifikan terhadap perdagangan global.

HARGA PLASTIK NAIK - Tampak pengunjung saat berburu plastik KA Mart di Tarakan Kalimantan Utara, Selasa (7/4/2026)..
HARGA PLASTIK NAIK - Tampak pengunjung saat berburu plastik KA Mart di Tarakan Kalimantan Utara, Selasa (7/4/2026).. (TribunKaltara.com/Andi Pausiah)

“Sebetulnya dampak perang pasti besar terhadap perdagangan global. Semua negara merasakan,” ujarnya, seperti dikutip dari TribunKaltim.co.

Selama ini, masyarakat umumnya hanya mengaitkan konflik Timur Tengah dengan potensi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Namun, realitas menunjukkan komoditas lain justru mengalami lonjakan lebih dulu, salah satunya plastik.

“Sampai April ini di Indonesia memang belum ada kenaikan BBM karena dijamin pemerintah. Tapi produk lain justru meningkat tajam, seperti plastik,” imbuhnya.

Peran Nafta 

Dosen Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unmul tersebut menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik berkaitan langsung dengan bahan bakunya, yakni nafta.

Nafta merupakan produk turunan minyak bumi yang banyak dipasok dari kawasan Timur Tengah dan menjadi bahan utama dalam produksi plastik, seperti etilena dan propilena.

“Nafta ini berasal dari minyak mentah yang disuling. Biaya produksi yang meningkat akibat konflik dan distribusi yang terganggu itu yang menyebabkan harga plastik ikut naik,” jelasnya.

Dampak ke Komoditas Lain

Selain plastik, sejumlah komoditas lain juga mengalami dampak serupa, termasuk bahan pangan impor seperti kurma.

“Kenaikan biaya transportasi dari kawasan konflik menyebabkan harga produk makanan juga naik. Di Jawa Timur, harga kurma bahkan bisa naik sampai 100 persen,” ungkap Aisyah. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.